Koran Jakarta | October 20 2018
No Comments
Pencegahan Penyakit - Imunisasi Vaksin MR Tingkatkan Kesehatan Masyarakat

Imunisasi Vaksin MR Tetap Dilanjutkan

Imunisasi Vaksin MR Tetap Dilanjutkan

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font
Meski vaksin MR asal India itu belum mendapatkan sertifikasi halal dari MUI, tidak bisa dikatakan vaksinnya haram.

 

JAKARTA - Meski ada sejumlah wilayah yang masih mempersoalkan kehalalan vaksin MR, pelaksanaan imunisasi vaksin measles rubella (MR) tetap dilaksanakan di 28 provinsi di luar Pulau Jawa tetap dilanjutkan, khususnya kepada masyarakat yang tidak mempermasalahkan isu kehalalan.

“Bagi masyarakat yang masih mempermasalahkan kehalalan vaksin MR yang diproduksi dari produsesn vaksin asal India (Serum Institute of India/SSI), pemerintah mempersilakan apabila ingin menunda imunisasi sambil menunggu keputusan MUI terkait dengan fatwa vaksin MR itu,”

kata Menteri Kesehatan, Nila Moeloek, mengatakan hal tersebut seusai melakukan pertemuan dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) di kantor MUI Jakarta, Jumat (3/8).

Menurut Menkes, MUI secara khusus akan mengeluarkan fatwa halal tidaknya vaksin yang digunakan dalam kampanye imunisasi MR di Indonesia dengan terlebih dahulu ada pengujian kandungan vaksin.

Selain itu, Kemenkes juga akan menyurati SSI untuk meminta dokumen-dokumen terkait dengan komponen yang terkandung dalam vaksin MR untuk mengetahui ada tidaknya unsur keharaman pada vaksin tersebut.

“Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika (LPPOM) MUI akan mengkaji unsur-unsur yang terdapat dalam vaksin MR untuk selanjutnya ditetapkan melalui fatwa oleh MUI,” kata dia.

Sekretaris Komisi Fatwa MUI, Asrorun Niam Soleh, mengatakan meski vaksin MR asal India itu belum mendapatkan sertifikasi halal MUI, maka tidak bisa dikatakan vaksinnya haram, dan juga belum bisa dipastikan halal karena belum melalui tahap pengujian.

Apabila hasil pengujian kandungan vaksin tidak ditemukan unsur haram, MUI mendukung kampanye imunisasi MR sebagai upaya pencegahan suatu penyakit.

Namun, jika hasil pengujian menunjukkan ada unsur haram, penggunaan vaksin tetap diperbolehkan dengan mempertimbangkan kedaruratan sebagaimana yang tertuang dalam Fatwa MUI Nomor 4 Tahun 2016 tentang Imunisasi.

Niam mengatakan jika vaksin MR mengandung unsur haram, tetap diperbolehkan dengan syarat belum ditemukan bahan vaksin yang halal atau suci, dan jika seseorang yang tidak diimunisasi akan menyebabkan kematian, penyakit berat, atau kecacatan permanen yang mengancam jiwa.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur (Jatim), Kohar Heri Santoso, mengatakan, di Jatim pelaksanaan vaksin MR menunjukkan trafik menggembirakan.

Pihak Dinkes Jatim mencatat 8,7 juta lebih anak di wilayah itu telah mendapatkan imunisasi. “Imunisasi ini manfaatnya banyak, di Jatim sudah dilakukan dan hasilnya sudah dirasakan, rubela sangat jauh terkendali,” tuturnya.

Dari Tanjungpinang dilaporkan bahwa Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) As-Sakinah Tanjungpinang, Kepulauan Riau, menunda pelaksanaan imunisasi vaksin MR hingga pertengahan Agustus 2018.

Kepala Dinas Kesehatan Kepri, Tjetjep Yudiana, mengaku baru mendapat informasi satu SDIT di wilayah tersebut yang menunda pelaksanaan vaksin MR untuk siswa. “Saya belum dapat informasi ada penolakan atau pun penundaan dari SDIT lainnya. Ini As-Sakinah yang pertama saya dengar,” ujarnya.

Pentingnya Imunisasi MR

Secara terpisah, Laely Ekawati, orang tua yang terinfeksi virus rubella saat kehamilan sehingga berakibat pada kelainan bawaan sejak lahir pada anaknya, berpesan kepada para orang tua tentang pentingnya melakukan imunisasi MR pada anak.

Laely, yang pernah terinfeksi rubella saat awal kehamilan dan melahirkan anak dengan gangguan pendengaran berat, mengatakan dirinya sempat mengirim banyak pesan singkat kepada teman-temannya agar mau mengimunisasi anaknya dengan vaksin MR yang dikampanyekan pemerintah.

“Imunisasi MR ini wajib ya, mau nggak anaknya kaya anak aku?” kata Laely menceritakan bagaimana dirinya berpesan kepada para orang tua lain agar tidak memiliki anak dengan gangguan pendengaran, saat kampanye imunisasi MR tahun lalu. eko/SB/Ant/E-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment