Koran Jakarta | July 17 2019
No Comments
Kinerja Ekonomi 2019 - Investasi Melambat, Proyeksi Pertumbuhan Diturunkan

Impor Harus Dipangkas, Produktivitas Dipacu

Impor Harus Dipangkas, Produktivitas Dipacu

Foto : Sumber: BKPM – Litbang KJ/and - KORAN JAKARTA/ONES
A   A   A   Pengaturan Font

>>Andalkan impor, perekonomian hanya ditopang oleh sisi konsumsi, bukan produksi.

>>Perlu reformasi kebijakan untuk mendukung penguatan kinerja ekspor maupun investasi.

 

JAKARTA - Sejumlah kalangan menilai pengelolaan ekonomi Indonesia memiliki pekerjaan rumah (PR) besar ke depan, yak­ni fenomena bahwa pertumbuhan ekonomi selalu dibarengi dengan kenaikan impor dan defisit neraca transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) yang melebar. Padahal, CAD merupakan masalah struk­tural perekonomian yang memicu pele­mahan nilai tukar rupiah.

Untuk itu, guna menggapai pertumbuh­an ekonomi tinggi dengan risiko pelebaran CAD yang relatif rendah, pemerintah mesti serius memangkas impor dengan cara me­macu produktivitas nasional, terutama pada produk substitusi impor. Kemudian, meningkatkan daya saing guna memper­kuat kinerja ekspor dan menarik lebih ba­nyak investasi.

Menanggapi hal itu, ekonom Indef, Ach­mad Heri Firdaus, mengibaratkan impor seperti dua mata pisau. Di satu sisi, impor bermanfaat menumbuhkan perekonomian dalam negeri, tapi di sisi lain dapat mer­eduksi pertumbuhan ekonomi.

“Impor menandakan adanya pertum­buhan, yaitu pertumbuhan konsumsi. Ka­lau konsumsi meningkat, baik dari barang impor atau bukan, itu akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi kita,” kata dia, di Ja­karta, Kamis (13/12).

Akan tetapi, lanjut Heri, jangan lupa bahwa impor adalah salah satu sektor yang mereduksi pertumbuhan ekonomi. Untuk itu, kalau impor tinggi dan belum bisa men­guranginya, maka harus dibarengi dengan ekspor yang lebih tinggi.

“Jadi kalau impor tinggi, konsumsi tinggi, pertumbuhan ekonomi tinggi. Tapi nanti konsekuensinya, sisi produksinya jadi le­mah,” tukas dia.

Indonesia dinilai memiliki belanja im­por yang tinggi, seperti impor pangan dan energi. Selain itu, selama pemerintah me­macu pembangunan infrastruktur, impor bahan baku juga meningkat karena belum bisa diproduksi di dalam negeri.

Sebelumnya, Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan, Sua­hasil Nazara, mengatakan membengkaknya CAD pada kuartal III-2018 yang mencapai 3,37 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), sejalan dengan capaian pertum­buhan ekonomi pada kuartal yang sama. “Pertumbuhan ekonomi yang terus ber­langsung, terakhir 5,17 persen (kuartal III), itu mendorong kenaikan impor,” kata dia, belum lama ini.

Meningkatnya impor menjadi salah satu penyebab defisit transaksi berjalan. CAD menunjukkan nilai impor barang dan jasa lebih tinggi dari nilai ekspor. Ini berarti, ke­butuhan valuta asing (valas) untuk impor lebih besar dibandingkan pasokan valas dari pendapatan ekspor.

Akibatnya, pasokan valas Indonesia menjadi bergantung pada investasi asing, termasuk investasi jangka pendek ke pasar keuangan domestik yang sifatnya mudah keluar masuk. Hal ini menyebabkan nilai tukar rupiah rentan gejolak setiap kali ter­jadi arus keluar investasi asing, seperti yang terjadi sepanjang tahun ini.

Perkuat Produksi

Heri menambahkan dengan mengandal­kan impor, sama saja perekonomian hanya ditopang oleh sisi konsumsi, bukan pro­duksi. Ini menandakan suplay chain yang lemah, sehingga ke depan harus dibangun upaya memperkuat sisi produksi. “Nah, bagaimana caranya memperkuat produksi dari investasi dan dari ekspor,” jelas dia.

Guna memperkuat ekspor dan investasi diperlukan daya saing yang memadai, salah satunya dengan meningkatkan indeks ke­mudahan berbisnis atau ease of doing bus­sines (EODB).

Sayangnya, peringkat EODB terbaru In­donesia justru turun ke 73. Padahal, kalau dilihat skornya justru naik. “Artinya, per­baikan yang kita lakukan relatif lebih lambat daripada negara lain,” ungkap Heri.

Sementara itu, ekonom utama Bank Dunia di Indonesia, Frederico Gil Sander, mengingatkan pentingnya reformasi ke­bijakan untuk memperkuat kinerja ekspor maupun investasi yang dapat mendukung Indonesia lebih kompetitif secara global dan menciptakan lapangan kerja.

“Penguatan reformasi dalam peningkat­an ekspor dan investasi ini juga dapat mem­perkuat neraca transaksi berjalan dan me­ningkatkan ketahanan ekonomi,” kata dia.

Terkait dengan pertumbuhan, Asian Development Bank (ADB) malah memang­kas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indo­nesia menjadi 5,2 persen pada 2019, dari sebelumnya 5,3 persen. Hal itu terutama disebabkan investasi swasta diperkirakan terkontraksi tahun depan karena memasuki tahun politik, investor dinilai akan cende­rung wait and seeahm/Ant/WP

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment