Koran Jakarta | October 20 2019
No Comments
Produk Kesehatan

Impor Bahan Baku Obat Dominan

Impor Bahan Baku Obat Dominan

Foto : Istimewa
Istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

 JAKARTA – Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) mengharapkan ba­han baku obat dapat diproduksi di Indonesia. Sebab, selama ini sebagian besar bahan baku obat masih merupakan produk impor.

“Dengan diproduksi sendiri, selain untuk penyediaan bahan baku yang lebih efisien, juga un­tuk mendukung pengembangan industri farmasi dalam negeri,” kata Direktur Kesehatan Gizi Masyarakat Kementerian PPN/Bappenas, Pungkas Bahjuri Ali, dalam diskusi panel bertema Ur­gensi Optimalisasi Manajemen Pengelolaan Obat dan Vaksin Terkait Efisiensi Anggaran, di Ja­karta, Selasa (8/10).

Menurut dia, ketersedian produk farmasi, terutama obat dan vaksin, yang cukup di dalam negeri diharapkan dapat menu­runkan pengeluaran pemer­intah. Sebab perkembangan teknologi di sektor kesehatan sa­ngat cepat.

“Selama ini, kita masih belum mampu membiayai keseluru­han kebutuhan obat dan vaksin di dalam negeri. Oleh karena itu, kita masih perlu mendatang­kannya dari luar negeri. Dalam kondisi demikian, efisiensi harga menjadi pertimbangan yang sa­ngat penting,” papar Pungkas.

Kebutuhan vaksin, paparnya, terus meningkat karena perlu juga mengenalkan vaksin-vaksin baru. Terutama dengan adanya berbagai jenis penyakit yang sa­ngat efektif dicegah oleh vaksin.

“Sebagai contoh, untuk menekan angka kematian bayi kita perlu pencegahan pneumonia dan diare. Dan vaksin ini belum menjadi bagian dari pengembangan vaksin ke depan, jika kita ingin menekan angka kematian bayi secara serius,” katanya.

Ekonom kesehatan dari Uni­versitas Padjadjaran, Auliya Su­wantika menjelaskan Indonesia menempati peringkat ketujuh, negara dengan angka kematian bayi berusia di bawah lima ta­hun akibat pneumonia.

Data memperlihatkan ra­ta-rata kematian akibat penyakit pneumonia terhadap anak di bawah 5 tahun mencapai 25.000 orang per tahunnya. Kematian akibat penyakit pneumonia me­nyumbang 17 persen dari total ke­matian anak di bawah lima tahun.

“Fakta ini harus diperhatikan, lantaran Indonesia menjadi salah satu negara dengan angka kema­tian bayi akibat pneumonia, yang tidak memasukkan vaksin pneu­monia sebagai wajib imunisasi dasar,” katanya.

bud/E-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment