Koran Jakarta | May 27 2018
No Comments

Imlek dan Pendidikan Multikultural

Imlek dan Pendidikan Multikultural

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font

Oleh Ari Kristianawati

Keprihatinan mendalam akhir-akhir ini atas kekerasan berlatar sentimen SARA terjadi di berbagai daerah. Kekerasan yang bersifat verbal hingga fisik menimpa beberapa kalangan dari kelompok radikal yang intoleran terhadap kelompok minoritas. Kasus persekusi beberapa bhiksu di Tangerang, Pembacokan Romo Prier saat memimpin Misa, penyerangan Kyai NU yang tengah mengaji, pelarangan ibadah warga GKI Yasmin, dan sebagainya amat menyedihkan.

Persekusi, intimidasi, bahkan kekerasan terhadap kelompok keagamaan yang berbeda aliran merupakan wujud pelanggaran HAM dan mengingkari konstitusi tentang semua warga negara bebas memeluk keyakinan, agama, kepercayaan dan menjalankannya. Dampak tindakan kekerasan SARA hanya akan memecah kerukunan.

Sudah seharusnya negara (aparat) tegas dan menindak segala pelanggaran hukum dan prinsip konstitusi. Beberapa tahun terakhir ada pembiaran kekerasan bernuansa SARA karena kepentingan politik kekuasaan.

Negara memang harus menjaga kedamaian dan kerukunan sosial antarkomunitas masyarakat yang memiliki perbedaan keyakinan sosial, ideologi, dan keagamaan supaya persatuan dalam perbedaan (keberagaman) bisa diwujudkan. Setiap komunitas etnik dan keagamaan seharusnya toleran, tenggang rasa, dan empati kepada komunitas yang berbeda.

Lebih jauh diharapkan peran komunitas dalam irama gerakan kultural untuk menjaga perdamaian kehidupan sosial kemasyarakatan. Di antaranya dengan menghormati hak komunitas etnik dan agama untuk menjalankan perayaan dan kekhidmatan hari besar yang memiliki kedalaman makna sosiospiritual.

Mendiang KH Abdurrahman Wahid memberi teladan dan tegas membela keberagaman lintas komunitas etnik agama. Gus Dur ketika menjadi Presiden tahun 1999-2001 memulihkan martabat, hak, dan kebebasan menjalankan ibadah serta ritus kebudayaan bagi penganut Khong Hu Chu dan masyarakat Tionghoa. Gus Dur mencabut Inpres No 14 tahun 1967 yang melarang komunitas etnik Tionghoa merayakan adat istiadat dan mengekspresikan kepercayaan spiritualnya.

Gus Dur menegaskan, komunitas etnis Tionghoa setara dengan warga negara lain. Mereka juga berhak merayakan adat istiadat dan keyakinan religisiotasnya. Sejak 2002 Komunitas etnik Tionghoa dengan didukung komunitas lintas etnik serta keagamaan merayakan Tahun Baru Tiongkok, Imlek dengan festival Kebudayaan. Tarian etnik semacam barongsay, liong, dsb menjadi peragaan budaya yang menghormati filosofi kemanusiaan.

Kemeriahan pergelaran adat istiadat Tiongkok dalam momentum Imlek, terlaksana di berbagai kota didukung pemerintah daerah dan masyarakat. Di Solo, misalnya, Imlek dirayakan dengan gelar budaya inkulturasi Grebeg Sudiro (GS) sebagai agenda menyambut tahun baru Imlek.

GS menyatupadukan kesenian masyarakat Tionghoa-Jawa. Kata grebeg sendiri merupakan tradisi khas jawa untuk menyambut hari-hari khusus seperti tahun baru Jawa. Sejarawan Soedarmono (2010) mengatakan, gunungan GS disusun dari ribuan kue keranjang, diarak sekitar kawasan Sudiroprajan, diikuti pawai kesenian Tionghoa dan Jawa.

Dari kesenian barongsai, atraksi reog ponorogo, tarian tradisional, pakaian tradisional, adat keraton sampai kesenian kontemporer digelar di sepanjang jalan kawasan Sudiroprajan. Arak-arakan akan berhenti di depan Klenteng Tien Kok Sie di depan Pasar Gede. Perayaan berakhir dengan dinyalakannya lentera atau lampion berbentuk teko yang digantung di atas pintu gerbang Pasar Gede. Penyalaan ini juga diikuti penyalaan lampion di tempat-tempat lain.

Di daerah lain seperti Lasem (Rembang), Pontianak, dan Semarang Imlek menjadi ajang kegotong-royongan masyarakat lokal dan etnik Tionghoa. Kegiataan perayaan Imlek menjadi perjumpaan kebudayaan multikulural yang menyatukan apresiasi masyarakat terhadap makna moralitas dan kesetaraan antarkomunitas kemanusiaan.

Menyikapi perayaan Imlek tahun 2018 ada pesan moral kebangsaan yang harus diresapi. Pertama, Imlek bukan sekadar momentum tahun baru, namun sejarah penegasan jati diri kebangsaan yang berpondasi kebinekaan. Gus Dur menegaskan,pilar kebangsaan adalah perbedaan dalam persatuan. Merayakan Imlek juga mendalami makna konstitusi tentang hak hidup semua etnik dan agama negeri ini.

Kedua, Imlek meneguhkan jati diri kebangsaan yang dibangun dari landasan penghormatan sosial, religi, dan kebudayaan komunitas adat, etnik, agama dan aliran kepercayaan. Tidak ada ruang untuk meniadakan (menegasikan) hak hidup dan berekspresi satu komunitas agama, etnik, dan keyakinan sosial apa pun.

Ketiga, menjadi piranti sosiokultural untuk mendidik masyarakat dan khususnya generasi muda (komunitas pelajar) tentang filosofi, prinsip, dan entitas keberagaman yang dipraktikkan melalui jalur kebudayaan multikultural.

Pendidikan

Menghayati Imlek bagi dunia pendidikan sama halnya sebagai media pendidikan multikultural. Pendidikan multikultural menurut Prof Dr HAR Tilaar (2014) merupakan inovasi pendidikan yang bertujuan menginternalisasikan kesadaran autentik tentang pentingnya hidup bersama dalam keragaman dan perbedaan. Ini melalui spirit kesetaraan dan kesederajatan, saling percaya dan memahami dengan menghormati persamaan, perbedaan, dan keistimewaan agama-agama serta budaya.

Mengembangkan pendidikan multikultural dengan pembaruan kurikulum pembelajaran dalam aspek kebijakan struktural. Di jalur kultural dengan membelajarkan siswa tentang aktualisasi kesenian dan kebudayaan lokal.

Imlek sesungguhnya merupakan media pembelajaran hakikat keberagaman. Generasi muda bisa dikenalkan dengan gelaran kebudayaan etnik dalam agenda perayaan Imlek. Jadi, bukan sekadar mengenalkan, namun juga membelajarkan spirit kedamaian, toleransi, kemanusiaan, etik keberadaban dalam perayaan Imlek. Perayaan Imlek adalah “bahan ajar” tentang toleransi, keberagaman yang harus dihayati dan dioperasionalisasikan dalam kehidupan nyata oleh generasi muda khususnya siswa yang merupakan calon penerus tongkat estafet kepemimpinan.

Jauh lebih penting jika Imlek menjadi momentum pendidik dan dunia pendidikan untuk serius belajar serta mempraktikkan prinsip penghormatan komunitas etnik negeri ini. Dunia pendidikan harus diakui akhir-akhir ini telah “terjangkiti” wabah radikalisme dan intoleransi. Banyak kasus sekolah menjadi persemaian kegiatan radikal. Banyak pendidik berpandangan sektarian yang tidak menghargai perbedaan.

Penulis Guru SMAN 1 Sragen

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment