Koran Jakarta | April 22 2019
No Comments
Pertemuan Lembaga Kreditur

IMF Susun Kerangka Kerja Kebijakan Terintegrasi

IMF Susun Kerangka Kerja Kebijakan Terintegrasi

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA – Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo menyambut rencana Dana Moneter Internasional (IMF) untuk menyusun kerangka kerja kebijakan terintegrasi yang merupakan respons lem­baga tersebut atas masukan dari berbagai negara berkem­bang, terutama Indonesia.

Hal itu mengemuka dalam pertemuan Musim Semi Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia (IMF-World Bank) 2019 yang berlangsung di Washington DC, Amerika Seri­kat (AS) pada 11-13 April 2019.

Menurut Perry, Indone­sia sudah lama menyuarakan mengenai pentingnya bauran kebijakan terutama bagi small open economy dalam mengha­dapi volatilitas perekonomian global. Masukan tersebut se­cara konsisten dikemukakan Indonesia di tengah saran kebijakan IMF dalam meng­hadapi volatilitas global yang cenderung mengede­pankan pendekatan meng­gunakan instrumen tradi­sional, seperti suku bunga dan nilai tukar.

“Langkah IMF un­tuk menyusun kerangka kerja kebijakan terintegrasi tersebut ada­lah sebuah kemajuan yang merupakan perkem­bangan baik bagi Indonesia dan negara small open econo­my lainnya,” kata Perry.

BI, lanjut Perry, juga men­dorong IMF untuk terus memperdalam studi menge­nai spillover akibat pengaruh ketegangan perdagangan mi­salkan dampaknya terhadap rantai nilai global atau global value chain.

Sebagai informasi, IMF mengembangkan kerangka kerja kebijakan baru bernama Integrated Policy Framework (IPF) guna memitigasi risiko, meningkatkan resiliensi dan mengimplementasikan kebi­jakan untuk mendorong per­tumbuhan yang inklusif dan berkesinambungan.

Kerangka kerja kebijakan baru tersebut mempertim­bangkan inter­aksi antara kebijakan moneter, nilai tukar, makro­prudensial, dan capital flows manage­ment.

Potensi Risiko

Pertemuan tersebut juga menyoroti perlambatan eko­nomi global dan upaya un­tuk mengatasinya. Pertum­buhan global diperkirakan turun dari 3,6 persen pada 2018 menjadi 3,3 persen pada 2019, sebelum akhirnya kem­bali melanjutkan momentum positif menjadi 3,6 persen pada 2020. Perekonomian global diperkirakan tetap eks­pansi walaupun ekspansi tersebut lebih lemah diban­dingkan perkiraan pada Ok­tober 2018.

“Pertumbuhan dunia me­mang diperkirakan membaik di 2020, namun berbagai risiko tetap mengancam an­tara lain berupa ketegangan perdagangan, ketidakpastian kebijakan, risiko geopolitik, pengetatan kondisi keuangan di tengah terbatasnya ruang kebijakan, tingginya tingkat utang, dan meningkatnya kerentanan di sektor keuan­gan,” katanya.

Karena itu, otoritas keuan­gan dunia menyepakati un­tuk melanjutkan reformasi keuangan dan struktural guna memitigasi risiko, meningkat­kan resiliensi dan mengimple­mentasikan kebijakan untuk mendorong pertumbuhan yang inklusif, serta mening­katkan kerja sama interna­sional. bud/E-10

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment