Imam Nahrawi Didakwa Terima Suap Rp11,5 Miliar | Koran Jakarta
Koran Jakarta | February 20 2020
No Comments
Kasus Suap Kemenpora I Gratifikasi untuk Desain Rumah dan Tiket Formula 1

Imam Nahrawi Didakwa Terima Suap Rp11,5 Miliar

Imam Nahrawi Didakwa Terima Suap Rp11,5 Miliar

Foto : ANTARA/RENO ESNIR
SIDANG DAKWAAN I Terdakwa mantan Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi (tengah) menjalani sidang pembacaan dakwaan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Jumat (14/2).
A   A   A   Pengaturan Font
Terdakwa Imam Nahrawi diyakini jaksa telah menerima gratifikasi dengan total sekitar 8,648 miliar rupiah dari sejumlah pihak.

 

JAKARTA – Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga (Men­pora), Imam Nahrawi (IMR), didakwa jaksa penuntut umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menerima suap sebesar 11,5 miliar rupiah dari Sekretaris Jenderal (Sekjen) Komite Olahraga Nasional (KONI), Ending Fuad Hamidy, dan Bendahara Umum KONI, Jhonny E Awuy (JEA). Uang suap tersebut diterima bersa­ma-sama dengan asisten priba­di Imam, MiftahuI Ulum (MIU).

“Terdakwa Imam Nahrawi telah melakukan atau turut serta melakukan beberapa per­buatan yang ada hubungannya sedemikian rupa. Sehingga dipandang sebagai perbuatan berlanjut, yaitu telah meneri­ma hadiah atau janji padahal diketahui atau patut diduga bahwa hadiah atau janji terse­but diberikan untuk menggerakkan, agar melakukan atau ti­dak melakukan sesuatu dalam jabatannya, yang bertentangan dengan kewajibannya,” kata Jaksa KPK, Ronald Worotikan, saat membaca surat dakwaan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Jumat (14/2).

Jaksa meyakini Imam dan Ulum mengetahui bahwa uang suap tersebut diberikan untuk mempercepat proses persetu­juan dan pencairan Bantuan Dana Hibah yang diajukan oleh KONI Pusat kepada Ke­menpora RI Tahun Kegiatan 2018. Lebih rinci, jaksa me­maparkan bahwa di tahun 2018, Kemenpora memiliki anggaran pada Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Kemenpora, untuk pembiayaan pelaksanaan pengawasan dan pendampingan pada ke­giatan peningkatan prestasi olahraga nasional.

Selanjutnya, kata jaksa, di tahun 2018, KONI Pusat mengajukan dua proposal bantuan dana hibah kepada Kemen­pora. Kedua proposal tersebut yakni dalam rangka pelaksa­naan tugas Pengawasan dan Pendampingan Program Peningkatan Prestasi Olahraga Nasional pada Multi Event 18th Asian Games 2018 dan 3rd Asian Para Games 2018, serta proposal dukungan KONI dalam rangka Pengawasan dan Pendampingan Seleksi Calon Atlet dan Pelatih Atlet Ber­prestasi Tahun Kegiatan 2018. Terkait proses persetujuan dan pencairan dana bantuan tersebutlah, Imam dan Ulum telah menerima fee berupa uang dari Ending dan Johnny.

Terima Gratifikasi

Selain itu, terdakwa Imam turut diyakini jaksa telah mener­ima gratifikasi dengan total sekitar 8,648 miliar rupiah dari sejumlah pihak. Dalam surat dakwaan itu, jaksa KPK mem­beberkan rincian penggunaan gratifikasi itu, mulai dari pem­bayaran desain rumah hingga pembelian tiket Formula 1.

“Sejumlah dua miliar rupiah sebagai pembayaran jasa desain Konsultan Arsitek Kantor Bu­dipradono Architecs dari Lina Nurhasanah (mantan Bendaha­ra Pengeluaran Pembantu Satuan Pelaksana Program Indo­nesia Emas Kemenpora) yang bersumber dari uang anggaran Satlak Prima,” papar jaksa.

Jaksa menjelaskan, saat itu pihak konsultan mempresen­tasikan rencana pembuatan desain rumah milik Imam di wilayah Cipayung, Jakarta Timur. Istri Imam, Shohibah Rohmah, pun menyetujui un­tuk menggunakan jasa kon­sultan desain rumah tersebut. Selanjutnya, dijalin kontrak antara pihak konsultan dan Shohibah dengan nilai 700 juta rupiah. Pembayaran dilakukan sebanyak empat termin sesuai tahapan pekerjaan. ola/P-4

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment