Imam Budidarmawan Prasodjo : Masyarakat Banyak Gunakan “Cyber Interaction | Koran Jakarta
Koran Jakarta | May 31 2020
No Comments
WAWANCARA

Imam Budidarmawan Prasodjo : Masyarakat Banyak Gunakan “Cyber Interaction

Imam Budidarmawan Prasodjo :  Masyarakat Banyak Gunakan “Cyber Interaction

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

Kebijakan jaga jarak atau physical distancing hingga Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sudah dilakukan di sejumlah daerah Indonesia guna mencegah menyebaran Covid-19. Sekolah hingga bekerja dilakukan dari rumah begitu juga dengan kegiatan yang bertujuan mengumpulkan orang banyak ditiadakan.

Pembatasan interaksi sosial merupakan hal baru yang dilakukan di Indonesia. Kebijakan ini tentu menimbulkan dampak positif dan negatif bagi kehidupan sosial karena masyarakat Indonesia terbiasa melakukan segala sesuatu secara tatap muka atau langsung.

Untuk mengantisipasi dampak PSBB dan jaga jarak dari sudut pandang sosiologi, wartawan Koran Jakarta, Yolanda Permata Putri Syahtanjung, berkesempatan mewawancarai sosiolog dari Universitas Indonesia (UI), Imam Budidarmawan Prasodjo, di Jakarta, baru-baru ini. Berikut petikan selengkapnya.

Bagaimana dengan kebijakan PSBB dan physical distancing guna mencegah penyebaran Covid-19?

PSBB tidak diterapkan di semua tempat, hanya di beberapa wilayah. Pusat perhatiannya di Pulau Jawa karena wilayah dengan penduduk paling padat di Indonesia, terutama di central-central of gravity economy. Jadi, magnet-magnet ekonomi ada di Jakarta, Bandung, Jabodetabek. Itu menentukan hajat hidup orang banyak.

Interaksi masyarakat harus dibatasi karena mata rantai penularan itu melalui interaksi. Oleh karena itu, pembatasan interaksi menjadi penting agar wabah tidak mengglobal. Upaya-upaya yang paling mikro adalah kebijakan, misalnya cuci tangan, memakai masker, jaga jarak atau physical distancing, itu bisa dilakukan orang per orang.

Namun, kita ini manusianya unik ya. Agak bader (bandel). Disuruh pakai masker tetap aja tidak dipakai. Disuruh jaga jarak tidak dilakukan. Orang kita tuh susah sekali untuk disiplin. Berbeda kayak di Jepang dan Korea, mereka taat peraturan.

Bagaimana mengatasinya?

Dibuat kebijakan yang unitnya lebih besar yaitu disuruh tinggal di rumah. Namun, susah tinggal di rumah. Alasannya memang tidak ada pilihan, seperti orang-orang harus mencari nafkah. Namun, ada yang bandel, tidak tahan untuk tidak keluar rumah. Tetap berkerumun dan pergi ke kafe.

Akhirnya itu bocor. Disuruh pakai masker bocor karena dia nggak pakai. Disuruh physical distancing bocor karena tetap dempet-dempetan, pergi ke kerumunan. Disuruh cuci tangah, yah boro-boro. Cuci tangan itu hanya salah satu upaya untuk memotong. Akhirnya dibuat kebijakan skala yang lebih besar yaitu PSBB.

Ini dilakukan untuk memutus mata rantai yang basisnya tidak orang-per orang, tidak rumah per rumah, tapi wilayah, bocor juga. Bandel orang. Apalagi dalam konteks mudik. Ada kebocoran yang bisa dipahami, misalnya karena orang itu terpaksa. Sebelum dia ada solusi, dia akan terus untuk bisa bertahan hidup harus cari nafkah misalnya.

Banyak warga yang kesadarannya rendah. Bagaimana mengatasinya?

Iya, banyak yang rendah kesadarannya. Saya tidak tahu, apakah orang Indonesia ini menghadapi musibah dulu, baru mereka bisa mikir. Tapi kan itu harganya mahal banget. Masa untuk bisa sadar harus ada yang mati dulu keluarganya.

Kalau semuanya mewabah dan berjatuhan mayat-mayat ada di jalanan, petugas medis tidak bisa menangani itu semua. Orang antre di semua rumah sakit, tenaga medis tidak ada yang bisa menangani. Orang-orang yang terkena tidak bisa tertolong. Itu yang mengerikan kalau terjadi. Kalau melihat dari banyak orang yang tidak peduli, saya khawatir hal kayak gitu akan terjadi. Saya sih tidak berharap itu terjadi.

Apa dampak positif dan negatif dari pembatasan sosial?

Tentu secara sosial, orang harus tinggal di rumah dalam proses belajar sekolah. Nah tentu efektivitas belajar itu bisa saja turun karena interaksi guru dengan murid menjadi berkurang.

Di sisi lain, bisa jadi di keluarga-keluarga tertentu, kualitas pengajaran yang dilakukan oleh kedua orang tua malah bisa lebih efektif, dari yang selama ini ada di dalam bimbingan guru di sekolah. Sekarang memaksa orang tuanya juga ngerjain PR (pekerjaan rumah), ditugasin sama gurunya. Anak-anak butuh bimbingan, itu bisa positif.

Dampak sosial lain apa?

Orang yang bekerja, dampak sosialnya misalnya kehilangan pekerjaan. Dia di rumah. Kalau dia di rumah dan tidak punya uang maka dia bisa ciptakan stres. Istrinya stres tidak ada duit. Suaminya stres karena kehilangan pekerjaan. Semuanya bisa menimbulkan hal negatif. Interaksi berubah.

Pokoknya, banyak rincian yang kayak gitu. Tetapi ada juga positifnya. Kalau ada kesadaran dengan tubuh maka awareness (kepedulian) tentang kesehatan. Selama ini orang tidak peduli terhadap memakai masker, tidak ada kepedulian cuci tangan maka sekarang menjadi peduli.

Hal positif yang bisa dipetik dari pengalaman negara lain apa?

Di Jepang ada bencana atau tidak, orang makai masker. Apalagi kalau dia sakit. Itu sudah biasa mereka lakukan. di Indonesia, ini hal baru. Mudah-mudahan akan berdampak, ada behavior change (perubahan perilaku). Tetapi, tentu tidak langsung begitu saja melekat karena perilaku itu baru bisa muncul kalau sudah kelengketannya (kereketannya) itu sudah dalem. Untuk sampai menjadi perilaku yang sudah melekat itu tidak gampang.

Sekarang, paling ada orang yang melakukan (seperti pembatasan sosial, pakai masker) karena takut diomelin. Kalau bangsa yang sudah membudaya maka itu menjadi otomatis dilakukan. Kesadaran dirinya muncul karena sudah membudaya.

Jadi, pembatasan interaksi sosial itu tidak apa-apa dilakukan sebagai upaya pencegahan Covid-19?

Ya, tentu ada kelompok-kelompok rentan. Dia tidak bisa beraktivitas, tidak bisa berinteraksi dengan yang lain. Misalnya pedagang kaki lima,ojek online atau sopir kendaraan transportasi umum. Seberapa jauh dia bisa menjaga physical distancing, itu tidak mudah.

Jadi, dampak ekonomi sudah pasti ada. Seberapa jauh kita tarik-ulur antara dampak terhadap kesehatan yang kelihatannya virus ini tidak bisa dijinakkan terus menular. Di sisi lain, kalau mau putus proses penularan, harus ada orang yang berhenti bergerak.

Yang menyulitkan, virus ini sering tidak terlihat gejalanya, tidak kelihatan berdampak. Nah, itu disebut orang tanpa gejala (OTG). Yang akhirnya dia karena merasa nggak ada masalah, merasa sehat padahal dia carrier (pembawa). Termasuk saya juga nggak tahu, carrier apa enggak. Makanya saya berusaha untuk tidak berinteraksi dengan orang, karena saya tidak tahu status saya apa.

Jangan-jangan saya OTG. Jangankan di luar, aku di rumah saja jaga jarak. Tidak bisa duduk dempel-dempelan sama istri, tempat tidur juga sudah pisah. Sama anak juga begitu, pembantu semua juga gitu. Ya, semua di dalam rumah pakai masker. Kayak gitu kan satu hal yang tidak mudah.

Pembatasan sosial ini apakah akan berdampak pada anak-anak?

Iya ada dampaknya. Tidak usah anak-anak, orang tua saja stres. Dengan kita dibatasi, semua stres. Namun, semua tidak masalah kalau hubungannya dalam situasi baik. Persoalannya, kalau dalam situasi ekonomi yang lagi kurang bagus. Orang yang kurang duit, si istri bingung bagaimana dapur supaya ngebul, suaminya juga tidak punya uang. Nah, di negeri lain, ada data yang mulai naik tingkat penceraian.

Sudah dalam situasi susah, cerai pula. Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) menjadi muncul, misalnya. Itu menjadi banyak catatan yang harus dipikirkan. Jadi, dampaknya mulai dari psikologis dan interaksi. Yang tidak harmonis, dampaknya akhirnya melebar ke mana-mana.

Namun, di tengah kesulitan itu pasti ada hikmah. Sekarang, muncul orang berupaya mencari alternatif informasi dengan telekonferensi. Untung saja kita itu punya telepon, kalau tidak, susah banget wartawan interview orang. Sekarang sudah ada macam-macam apliksi untuk menunjang pembatasan.

Bagaimana cara menanggulanginya agar pembatasan interaksi sosial ini tetap berjalan baik?

Tentu buat orang-orang yang punya pilihan, relatif ekonominya lebih baik, rumahnya memadai maka dampaknya minimal karena masih bisa belanja online. Namun, buat orang yang penghasilannya kurang, dan dia harus berjualan misalnya. Kalau dia tinggal di rumah maka tidak ada income. Itu yang harus ditangani.

Bisa dalam bentuk pemerintahan turun langsung. Seberapa jauh pemerintah cepat turun tangan. Selain pemerintah, apakah ada kepedulian dari perusahaan, di mana dulu tempat dia bekerja atau tetangga. Jadi, harus berlapis-lapis sebagai upaya membantu mereka. Kalau cuma satu lapis akan rentan. Jadi lurah, RW segala macam harus berpikirnya ekstra.

Misalnya pandemi Covid-19 lama dan pembatasan sosial terus dilakukan, apakah akan mengubah masyarakat dalam bersosialisasi?

Ya, tapi namanya makhluk sosial itu naluriah. Tidak mungkin akan hilang begitu saja. Tetap akan berinteraksi, hanya kita dengan real interaction di darat itu secara langsung. Sekarang berganti menjadi cyber interaction.

Dulu tidak pernah kebayang kita bisa efektif pakai skype, zoom, cloudx. Sekarang intensif banget. Orang desa sekarang sudah pakai telekonferensi kalau pertemuan. Ini sudah menjadi the new normal istilahnya. Kecenderungan ke arah normalnya nanti kayak gitu.

Saran untuk masyarakat agar tetap bersosialisasi di tengah pandemi Covid-19, meski adanya pembatasan sosial?

Untuk tidak bersosialisasi itu bukan hal yang ideal. Pasti tetap ada sosialisasi. Diubah cara sosialisasinya. Kalau selama ini, lebih ke face to face interaction (interaksi tatap muka), sekarang menjadi digital virtual interaction (interaksi virtual melalui media). Jadi, cara-cara baru itu yang harus dilakukan.

N-3

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment