Koran Jakarta | June 26 2019
No Comments
Energi Terbarukan

Ilmuwan Ubah Air Laut Jadi Energi Hidrogen

Ilmuwan Ubah Air Laut Jadi Energi Hidrogen

Foto : H Dai , Yun Kuang, Michael Kenney
Alat Purwarupa l Sebuah alat purwarupa untuk mengubah air laut jadi hidrogen diperagakan laboratorium Stanford University beberapa waktu lalu. Purwarupa ini jadi lebih efisien berkat karena menggunakan panel sel tenaga surya dalam prosesnya.
A   A   A   Pengaturan Font

CALIFORNIA - Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Prosiding National Academy of Sciences (PNAS) edisi Sabtu (23/3) mengungkapkan bahwa para peneliti telah menemukan metode baru untuk membuat bahan bakar hidrogen langsung dari air laut, melewatkan bagian pemurnian air yang mahal dari proses tersebut.

Dengan mengalirkan arus listrik pada air, memungkinkan untuk memisahkan unsur air (H2O) menjadi oksigen dan hidrogen, kemudian dapat digunakan sebagai sumber bahan bakar tanpa emisi yang andal. Namun bagian penting dari metode ini yaitu terlebih dahulu memurnikan air, terlalu menyerap energi amat banyak sehingga prosedur bisa memiliki nilai guna atau hemat biaya.

Namun, para ilmuwan dari Universitas Stanford telah menemukan cara untuk melewatkan proses pemurnian air dan masih bisa mengubah air laut menjadi hidrogen yang dapat digunakan.

Tim ini mengembangkan lapisan logam baru untuk elektroda yang digunakan dalam prosedur yang akan memungkinkan mereka menahan reaksi kimia seperti yang terjadi di air asin. Keseluruhan proses ini menjadi lebih efisien dan sepenuhnya ramah lingkungan berkat menggunakan daya dari panel sel surya.

“Saat ini, sebagian besar hidrogen berasal dari bahan bakar fosil dan produk karbon dihasilkan dari proses ini. Jadi kita perlu menemukan cara yang lebih bersih untuk menghasilkan hidrogen,” kata Michael Kenney, seorang peneliti di Stanford yang jadi mitra penulis makalah ini.

“Namun, jika elektrolisis air akan digunakan dalam skala global untuk menghasilkan hidrogen, kelangkaan air dapat menimbulkan masalah besar yang hanya akan bertambah buruk karena populasi akan terus bertambah,” imbuh Kenney.

Elektrolisis terdiri dari dua elektroda yang direndam dalam larutan elektrolit penghasil ion. Ketika listrik dialirkan pada perangkat, satu elektroda membuat hidrogen (katoda) dan satu membuat oksigen (anoda).

Karena termodinamika, anoda rentan terhadap korosi dan ini bisa semakin parah dengan adanya klorida. Anoda tipikal terdiri dari pengumpul arus konduktif (busa korosif nikel dalam hal ini) yang dilapisi dengan lapisan katalis tipis (nikel-fero hidroksida dalam contoh ini) yang mempercepat reaksi pembentukan oksigen.

“Katalis itu sendiri stabil terhadap korosi, tetapi logam yang mendasarinya lebih reaktif dan dapat dengan mudah terkikis. Namun, agar korosi dapat terjadi, ion klorida harus bermigrasi melalui lapisan katalis dan mencapai antarmuka logam-katalis,” papar Kenney.

“Kami menemukan cara untuk memasukkan ion sulfat dan karbonat bermuatan tinggi dalam lapisan katalis dan pada antarmuka logam-katalis. Muatan negatif pada elektroda mengusir anion klorida bermuatan negatif dan secara signifikan menghambat kemampuan mereka untuk mencapai logam,” pungkas dia. ang/Forbes/I-1

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment