Koran Jakarta | April 18 2019
No Comments
Terobosan Sains

Ilmuwan Berhasil Lahirkan Bayi dari 3 Orang Tua

Ilmuwan Berhasil Lahirkan Bayi dari 3 Orang Tua

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

ATHENA - Sejumlah dokter kandungan di Yunani dan Spanyol mengklaim telah sukses melakukan percobaan untuk mengatasi ketidaksuburan perempuan dengan menghasilkan bayi dari tiga orang tua. Bayi berkelamin laki-laki itu lahir dengan berat 2,9 kilogram pada Selasa (9/4) lalu. Ibu dan anak dikatakan dalam keadaan sehat.

“Kami telah menciptakan sejarah medis yang bisa membantu memecahkan persoalan klasik bagi para pasangan tidak subur di seluruh dunia,” demikian pernyataan mereka seperki dikutip dari kantor berita BBC, Kamis (11/4).

Sayangnya kesuksesan dikecam oleh beberapa ahli di Inggris yang mengatakan prosedur tersebut menimbulkan masalah etika dan seharusnya tidak dilakukan.

Percobaan yang dilakukan dokter dari Yunani dan Spanyol itu dilakukan dengan metode fertilisasi in-vitro (bayi tabung/IVF) yang menggunakan sel telur dari ibu, sperma dari ayah, dan sel telur lain dari wanita pendonor. Metode tersebut dikembangkan untuk membantu para keluarga yang terjangkit mitokondria mematikan, penyakit genetik yang menurun dari ibu ke bayi.

Metode tersebut sebelumnya telah dicoba pada sebuah keluarga asal Yordania, dan langsung memicu banyak kontroversi. Tetapi beberapa ahli kesuburan yakin teknologi tersebut juga dapat meningkatkan peluang IVF.

Mitokondria adalah kompartemen kecil di dalam hampir setiap sel tubuh yang mengubah makanan menjadi energi yang bisa digunakan. Bagi pengidap penyakit mitokondria, bagian itu mengalami kecacatan, dan upaya penggabungan DNA ibu dengan mitokondria donor dapat mencegah penyakit itu.

Namun ada juga spekulasi yang mengatakan bahwa mitokondria mungkin juga memiliki peran dalam kehamilan, walau klaim itu belum diuji.

Pasien di Yunani adalah seorang wanita berusia 32 tahun yang telah mengalami empat siklus IVF dan tidak berhasil hamil. Ia kini menjadi seorang ibu, tetapi bayi laki-lakinya memiliki sejumlah kecil kesamaan genetik dari wanita pendonor sementara mitokondrianya memiliki DNA tersendiri.

Menurut Presiden Institute of Life di Athena, Panagiotis Psathas, kesuksesan metode kelahiran ini semakin menegaskan hak seorang perempuan yang tidak dapat dicabut untuk menjadi seorang ibu dari seorang bayi dengan materi genetiknya sendiri.

“Kami sangat bangga mengumumkan inovasi internasional dalam membantu masalah reproduksi, dan kami sekarang berada dalam posisi untuk memungkinkan perempuan yang telah berulang kali gagal dalam program bayi tabung, atau mengalami penyakit genetik mitokondria yang langka, untuk memiliki anak yang sehat,” kata Psathas.

Perlu Pengawasan

Tim dokter Yunani itu bekerja sama dengan pusat Embryotools Spanyol, yang juga mengumumkan bahwa 24 wanita lain mengambil bagian dalam percobaan itu, dan delapan embrio siap ditanamkan.

Pada Februari 2018, para dokter di Newcastle yang memelopori teknologi itu, diberi izin untuk membuat bayi dari tiga orang tua untuk pertama kalinya di Inggris. Saat ini pihak berwenang bidang fertilitas di Inggris, baru mengizinkan dua eksperimen medis ini bagi keluarga yang mengidap penyakit mitokondria yang langka.

Beberapa dokter di Inggris berpendapat dua isu yaitu masalah kesuburan dan pencegahan penyakit, secara moral adalah hal yang sangat berbeda. Sementara pakar dari University of Oxford dan Direktur Medis dari The Fertility Partnership, Tim Child, mengaku khawatir bahwa metode ini mengakibatkan tidak ada kebutuhan yang membuktikan materi genetik pasien telah dihapus dari sel telurnya dan dipindahkan ke sel telur donor.

“Risiko teknik ini tidak sepenuhnya diketahui, meskipun dapat dianggap dapat diterima jika digunakan untuk mengobati penyakit mitokondria, tetapi tidak dalam situasi ini. Pasien mungkin telah hamil bahkan jika siklus IVF standar telah diterapkan,” kata Child.

Sementara Dr Beth Thompson dari Wellcome Trust mengatakan, peraturan di Inggris dibuat berdasarkan pada keterlibatan publik yang kuat dan bukti ilmiah yang memungkinkan risiko dan manfaat ditimbang dengan cermat.

“Kami bangga mendukung studi pertama di Inggris dalam penggunaan teknik donasi mitokondria dalam lingkungan yang diatur dengan baik, tetapi kami khawatir tentang studi yang dilakukan tanpa tingkat pengawasan yang sama,” pungkas Thompson. SB/BBC/I-1

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment