Koran Jakarta | August 19 2018
No Comments

Idul Fitri, Mudik Rohani

Idul Fitri, Mudik Rohani

Foto : koran jakarta/ ones
A   A   A   Pengaturan Font

Idul Fitri adalah kisah perjalanan pulang menuju fitrah kemanusiaan. Berkelana di belantara dunia yang penuh karut-marut dan cenderung mencipta kegundahan, Idul Fitri momentum kembali pada karakter dasar manusia, tanpa embel-embel identitas duniawi berbeda-beda yang kadang memecah belah dan dapat mengerdilkan nilai kemanusiaan.

Idul Fitri berarti “kembali ke asal.” Maksudnya asal penciptaan di mana manusia terlahir suci. Dalam Islam diyakini, fitrah manusia adalah naluri beragama (agama tauhid) dengan kecenderungan kebaikan yang menenteramkan. Fitrah manusia yang cenderung pada kebaikan identik dengan pengakuan akan adanya nilai moral universal dalam konteks peradaban.

Nilai-nilai yang sama dalam semua kebudayaan ini, dalam ungkapan James Rachels (2004: 60) adalah aturan moral yang diperlukan untuk menjamin kelestarian masyarakat. Dalam perjalanannya, fitrah kemanusiaan seperti fitrah keimanan yang sifatnya mendasar, dapat tercederai oleh kehidupan duniawi dengan berbagai godaannya.

Perbuatan-perbuatan buruk yang kadang bercampur dengan asumsi atau cara pandang kurang jernih, sekecil apa pun, lambat laun dapat menutupi potensi suci manusia yang cenderung pada kebajikan. Ini bisa membuat layu keimanan dan fitrahnya. Perjuangan untuk menjaga dan perjalanan untuk meraih kembali fitrah tidaklah mudah.

Imam Jamal Rahman (2013: 174-176), praktisi dan ahli spiritualitas lintas agama dari Amerika, mencatat bahwa umat beragama kadang gagal merawat fitrah kemanusiaan karena kungkungan ego. Wujudnya dapat berupa bias dan eksklusivitas kelembagaan serta perasaan superioritas moral atas kelompok lain.

Akibatnya, orang terjebak pada eksklusivisme dan menghalangi kita untuk menjalin ikatan kemanusiaan dalam makna yang lebih luas. Orientasi fitrah untuk berbuat kebajikan menyempit dalam lingkar kelompok tertentu. Nalar eksklusif bertentangan dengan penjelasan Alquran bahwa tujuan keberagaman dalam penciptaan adalah agar manusia saling mengenal.

Khaled Abou El Fadl (2005: 206-207), tokoh muslim moderat dari University of California Los Angeles, memaknai keberagaman sebagai sebuah tantangan etis seorang muslim untuk dapat bekerja sama dengan orang lain berbeda keyakinan demi kebajikan bersama. Daya tarik untuk berpikir secara eksklusif belakangan cenderung menguat.

Ini seiring dengan semakin keruhnya lalu-lintas informasi yang mengganggu kejernihan pikiran dan kebeningan hati yang sejatinya untuk menjaga fitrah kemanusiaan tersebut. Berita-berita palsu (hoax) yang disebarkan sembarangan secara masif pada titik tertentu lama-lama kebohongan dianggap kebenaran.

Kemudian mengotori pikiran dan hati manusia dalam mengambil keputusan. Etape Idul Fitri dapat dilihat sebagai sebuah etape perjuangan kembali ke fitrah kemanusiaan tersebut setelah melewati fase olah tubuh dan batin sepanjang Ramadan. Alquran menyebutkan, tujuan diwajibkan puasa bagi umat Islam agar bertakwa (Q.s, al-Baqarah/2: 183).

Menurut Fazlur Rahman (1999: 29), akar kata “taqwa” berarti “menjaga atau melindungi diri dari sesuatu.” Jadi, takwa bermakna melindungi seseorang dari akibat-akibat perbuatan buruknya. Dalam diri orang bertakwa tertanam rasa takut (kepada Allah) yang mengarahkannya pada kesadaran akan tanggung jawab pada akhir zaman.

Ini membuatnya selalu berpegang pada fitrah kemanusiaannya. Meraih takwa dengan berpuasa tentu bukan perkara gampang. Nabi Muhammad telah mengingatkan, tidak sedikit orang berpuasa hanya mendapat lapar dan dahaga, jauh dari capaian takwa. Tingkatan takwa hanya bisa diraih andai seseorang telah berpuasa tidak sekadar menahan lapar, dahaga, dan nafsu seksual.

Tetapi juga mampu membebaskan anggota badan dari perbuatan dosa. Menahan lapar saat puasa, menurut al-Ghazali, dapat melunakkan dan menjernihkan hati. Dia juga meruntuhkan tabir yang menghalangi hati dari pancaran kebenaran sejati. Nafsu konsumsi dapat menjerumuskan seseorang pada tindakan mencederai hak orang lain.

Selain pengendalian nafsu tubuh, puasa juga kesempatan menajamkan refleksi dengan permenungan. Aktivitas reflektif ini dilakukan untuk mengisi energi batin secara intensif (Chodjim, 2013: 97). Menarik diri dari keramaian dan kegaduhan hidup rutin dalam rangka reflektif telah dilakukan tokoh-tokoh revolusioner sebelum mendapat pencerahan.

Buddha bermeditasi di bawah pohon Bodi. Nabi Muhammad juga menyepi di Gua Hira. Berdasarkan uraian singkat ini, pada tingkatan paling tinggi, puasa memuat kekuatan penuh dari fitrah kemanusiaan. Dengan demikian, Idul Fitri menjadi mudik rohani untuk meneguhkan kembali fitrah kemanusiaan.

Umat Islam khususnya diajak menyegarkan kembali makna perjanjian primordialnya dengan Allah, meneguhkan keimanan, dan mengagungkan Allah. Juga mengorientasikan visi keimanannya pada kebajikan untuk sesama. Kerangka orientasi makna Idul Fitri demikian ini tidak saja menguatkan filosofi manusia menurut perspektif Islam yang berpandangan terbuka dan menghormati keberagaman, tetapi juga menjadi pengingat, sejatinya, Islam dapat menebarkan rahmat bagi semesta alam. 

Penulis Lulusan Magister Etik Utrecht University, Belanda

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment