Koran Jakarta | December 17 2018
No Comments
Pilpres 2019 | Elite Parpol Ikut Tentukan Suasana Damai

Hindari Saling Memprovokasi

Hindari Saling Memprovokasi

Foto : ISTIMEWA
Pengamat Politik Universitas Al Azhar Indonesia (UAI), Ujang Komarudin.
A   A   A   Pengaturan Font
Suasana panas mulai menyelimuti Pilpres 2019 meski kampanye baru akan dimulai hari ini. semua pihak diharapkan menjaga kondisi damai.

 

JAKARTA – Kedua pasangan calon presiden dan wakil presiden dalam deklarasi kampanye damai telah berkomitmen bersaing dengan sehat. Kedua pasangan calon juga sepakat tidak akan gunakan isu suku, agama, ras, dan antargolongan atau SARA dan hoax dalam kampanye. Diharapkan, ini tidak dirusak oleh elit-elit pendukung. Para elit pendukung capres jangan kemudian mengeluarkan statement atau apapun yang bisa memprovokasi publik.

Pengamat Politik Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) Ujang Komarudin mengatakan hal itu di Jakarta, Minggu (23/9). Menurut Ujang, situasi politik yang coba diturunkan melalui deklarasi kampanye damai antara dua pasangan capres dan cawapres, harusnya ditindaklanjuti oleh para elit pendukungnya. Jangan kemudian, ujungnya deklarasi kampanye damai itu hanya acara seremonial belaka. Elit pendukung harus melanjutkan deklarasi damai ini dengan kampanye yang elegan. Kampanye yang mendidik publik.

“Sejatinya semua elit dari kedua kubu untuk bisa menahan diri tidak melakukan tindakan- tindakan yang provokatif” kata Ujang yang juga Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR).

Jangan sampai lanjut Ujang, kasus postingan video kontroversial yang diunggah Fadli Zon, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, partai pendukung Prabowo terulang. Video plesetan sebuah lagu anak-anak yang menyelipkan kata sebuah partai terlarang, nadanya terdengar memprovokasi. Karena nuansanya menuding kubu Jokowi-KH Ma’ruf Amin yang jadi lawan Jokowi. Ia harap, hal itu tak terulang lagi. Komitmen para capres harus jadi komitmen para pendukungnya. Bahkan harus jadi komitmen bersama.

“Sebab begini tindakan elit akan menentukan pemilu berjalan damai atau tidak,” kata Ujang.

Karena itu, Ujang meminta para elit pendukung capres dan cawapres di dua kubu, harus mampu memberikan contoh yang baik bagi para simpatisannya. Jangan lantas memproduksi statemen atau konten yang membuat panas tensi politik. Simpatisan tidak akan bereaksi keras jika tidak diprovokasi.

“Rakyat itu bergantung pada elitnya. Elitnya damai, rakyat pun akan damai. Rakyat berpikirnya sangat sederhana. Mereka akan damai jika elitnya berdamai. Jadi tolong rakyat jangan dipanas-panasi atau dikompor- kompori dengan pernyataan- pernyataan elit yang provokatif, “ ujar Ujang.

Tahan Diri

Pendapat tidak jauh berbeda diungkapkan pengamat politik dari Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, Idil Akbar.

Idil juga sepakat, para elit pendukung harus menahan diri. Sebab selama ini yang membuat panas situasi politik, membuat gaduh kontestasi, bukan kandidat. Tapi mereka para elit partai pendukung. Idil juga menyayangkan video kontoversial yang diunggah Fadli Zon, elit partai pendukung Prabowo. ”Itulah yg bisa merusak suasana demokratis dan damai yang ingin diperoleh rakyat Indonesia di pilpres saat ini,” kata Idil.

Unggahan video kontroversial seperti yang diposting Fadli Zon, atau pun pernyataan-pernyataan dengan nada menghina dan mencaci maki, pada akhirnya membuat suasana pemilihan yang harusnya sarat dengan adu ide dan gagasan, rusak oleh hal-hal yang tak perlu. Para elit, mestinya bisa menyodorkan sebuah panggung persaingan yang membuat rakyat kian cerdas.

Ia tidak habis pikir, kenapa para elit partai seakan jadi pihak yang mengompori rakyat. Padahal mereka selalu berkoar, akan berkompetisi dengan sehat. Tapi dalam prakteknya saling tuding. Saling caci. Berlomba mengeluarkan pernyataan dan konten yang provokatif. ags/AR-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment