Hillary Brigitta Lasut : Anak Muda Harus Bantu Perkuat Persatuan | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 9 2019
No Comments
WAWANCARA

Hillary Brigitta Lasut : Anak Muda Harus Bantu Perkuat Persatuan

Hillary Brigitta Lasut : Anak Muda Harus Bantu Perkuat Persatuan
A   A   A   Pengaturan Font
Tantangan para anggota DPR ke depan jelas tidak ringan. Masyarakat selama ini menilai bahwa kinerja para anggota Dewan kurang bagus. Banyak anggotanya yang tidak disiplin, tak hadir di rapat-rapat, bahkan saat digelar rapat paripurna, serta sebagian dari mereka harus terjerat dengan kasus hukum.

Kondisi tersebut disadari sepenuhnya oleh anggota termuda DPR periode 2019–2024, Hillary Brigitta Lasut. Untuk itu, dia sebagai salah satu anggota Dewan ingin memperbaiki kualitas dan kinerja Dewan, salah satunya dengan memberikan contoh bahwa anak muda bisa bekerja dengan baik di DPR.

Untuk mengetahui apa saja yang akan dilakukan saat bertugas di lembaga legislatif ini ke depan, wartawan Koran Jakarta, Agus Supriyatna dan Fredrikus W Sabini, berkesempatan mewawancarai anggota termuda DPR periode 2019–2024, Hillary Brigitta Lasut, dalam beberapa kesempatan di Kompleks Parlemen, Jakarta, baru-baru ini. Berikut petikan selengkapnya.

Apa harapan Anda atas pelantikan Joko Widodo (Jokowi) dan Ma’ruf Amin sebagai Presiden dan Wakil Presiden periode 2019–2024?

Bagi saya, Pak Jokowi dan Ma’ruf Amin itu simbol toleransi di Indonesia. Sekarang sedang rentan terhadap intoleransi dan radikalisme. Diharapkan di periode ke depan, yang mana pemerintahan dipimpin Pak Jokowi dan Ma’ruf Amin, kita boleh melihat adanya perbedaan bahwa Indonesia semakin toleran satu dengan yang lain, kembali memperkuat Bhinneka Tunggal Ika.

Saya juga berharap agar Pak Jokowi semakin tegas terhadap pihak-pihak yang berusaha mencoba menunggangi isu-isu strategis hanya untuk merusak Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Anda mau ditempatkan di komisi berapa?

Saya berharap fraksi menempatkan saya di Komisi III, karena itu sesuai dengan latar belakang saya, bidang hukum. Apalagi komisi itu membidangi hukum, HAM, dan keamanan. Dengan ditempatkan di komisi tersebut, saya bisa lebih berkontribusi, menyumbangkan pikiran-pikiran saya. Tentunya kontribusi itu bakal kurang jika ditempatkan di komisi yang tidak sesuai dengan back ground saya.

Selain Komisi III, apa Anda punya pilihan lain?

Saya ini dari Sulawesi Utara (Sulut), saya ingin berada di Komisi X yang membidangi pendidikan. Tujuannya, supaya bisa meningkatkan kualitas pendidikan dan bisa bergerak lebih banyak di daerah saya.

Anda ingin berkontribusi, apa ide Anda yang bisa diperjuangkan jika ditempatkan di Komisi III?

Saat ini kan lagi heboh atau marak soal Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP), demikian juga soal desakan penerbitan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Itu dulu yang diprioritaskan. Jika itu semuanya selesai saya akan mengusulkan dicanangkannya sejumlah peraturan lain, seperti UU Antikriminalisasi, cyber crime, illegal fintech, serta perkembangan revolasi industri.

Lantas, bagaimana jika itu bertentangan dengan pendapat fraksi?

Memang yang sulit bagi seorang wakil rakyat ialah ketika bertentangan dengan pendapat fraksi, tetapi kan di DPR itu ada lobi fraksi. Melalui lobi politik itu, semuanya bisa berubah. Lihat saja pada kontestasi di pilpres beberapa waktu lalu. Setelah berkompetisi, justru yang lawan dirangkul.

Artinya, politik itu sangat dinamis karena kekuatan lobi. Kami akan sering berhadapan dengan kondisi itu selama lima tahun ke depan di Parlemen.

Tetapi, kalaupun dalam lobi juga tetap saja buntu maka tentu ada jalur lain. Intinya, senior memang punya uang dan power, tetapi anak muda punya media, teknologi, dan masyarakat, sehingga memperkuat standing point-nya.

Apa alasan Anda sehingga memilih NasDem sebagai kendaraan politik?

Pertama karena NasDem gratis, dan anak muda demen yang gratis-gratis (sembari ketawa). Memang tidak disangka juga ternyata kami memiliki cara berpikir yang sama dengan Pak Surya Paloh selaku ketua umum yang sangat visioner dan terutama soal NKRI. Saya masuk melalui NasDem bukan karena hal-hal yang lain, tetapi karena kesamaan ide atau gagasan tadi.

Apa alasan Anda ingin menjadi anggota Dewan?

Saya menjadi anggota Dewan karena terinspirasi orang tua yang lebih dulu masuk ke dunia politik. Ayah saya, Elly Engelbert Lasut, Bupati Kepulauan Talaud, terpilih pada Pilkada 2018. Ibu saya, Telly Tjanggulung, pernah menjabat sebagai Bupati Minahasa Tenggara periode 2008–2013. Saya mencalonkan diri mewakili daerah pemilihan (Dapil) Sulut. Dengan perolehan 70.345 suara. Saat ini saya berusia 23 tahun, lahir pada 22 Mei tahun 1996.

Ayah Anda pernah menjadi Bupati Kepulauan Talaud kabarnya bupati termuda di eranya. Ibu Anda pernah tercatat sebagai bupati perempuan termuda pertama. Apa benar?

Jujur, saya lahir dari keluarga yang berpolitik. Sering saya sampaikan ke masyarakat, orang tuaku juga. Papa, misalnya, pernah jadi bupati termuda di eranya. Mama juga pernah jadi bupati perempuan termuda saat itu. Entah bagaimana kemudian ini membuat saya lebih familiar dengan dunia politik.

Jadi pada dasarnya, saya ini lahir dari keluarga politik. Karena datang dari keluarga politik ini seakan membentuk atau menset saya menjadi seorang politisi. Maka saya berasa anggota dewan itu jadi cita-cita sudah lama.

Pernah enggak terpikirkan, Anda akan jadi anggota DPR termuda, menyamai apa yang sudah ditorehkan Ayah dan Ibu Anda?

Jadi anggota DPR termuda tak pernah terpikirkan. Mungkin karena kebetulan saya ketika itu baru menyelesaikan studi. Kebetulan Partai NasDem membukakan diri bagi kami untuk ikut berkontribusi pada bangsa. Tanpa mahar. Kami datang kemudian mendaftarkan diri. Terpilih saja tak terpikirkan. Apalagi jadi yang termuda.

Anda mencalonkan diri begitu saja atau sudah siap dengan ide dan gagasan?

Ketika mencalonkan diri sebagai anak muda, kebetulan pula saya berasal dari keluarga politik. Saya datang dengan gagasan dan ide. Jadi sudah punya visi dan misi.

Apa yang ingin Anda perjuangkan untuk masyarakat di Dapil Anda?

Jadi pada dasarnya di Sulut itu yang paling krusial dibutuhkan masyarakat adalah masalah pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur. Karena untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dibutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang kuat.

Beberapa waktu lalu ada penerimaan CPNS, dibuka lowongan ribuan, tapi yang lulus tak sampai 20 persen. Kalau lulus ya mungkin bisa hidupi anak-cucu mereka untuk 40 tahun ke depan. Ini yang ingin saya perjuangkan. Meningkatkan kualitas SDM di sana.

Ada pesan khusus dari Ketua Umum Partai NasDem untuk Anda?

Saya diminta menjadi anak muda yang mengedepankan politik gagasan, revolusioner, dan tidak mudah terprovokasi. Bisa membantu mengingatkan teman-teman muda di luar sana yang mungkin sedang dalam polemik, chaos. Semoga di Indonesia ini boleh datang anak muda setidaknya boleh mengingat yang paling penting itu persatuan NKRI.

Waktu mau maju, pernah merasakan Anda diremehkan karena dibilang hijau atau terlalu muda?

Ya, generasi muda yang melenggang maju di dunia politik kerap dipandang remeh. Anak 23 tahun dianggap tidak berpengalaman, tidak punya background atau power kekuasaan yang cukup di partai, dan sebagainya. Hal-hal seperti ini yang membuat masyarakat kerap ragu untuk memberi kesempatan kepada anak muda.

Diremehkan seperti itu, bagaimana perasaan Anda?

Ini tentu membakar semangat saya. Ini tantangan untuk membawa previlege tersendiri. Ketika saya muncul di hadapan masyarakat, di antara tantangannya adalah menunjukkan kepada masyarakat bahwa anak muda datang dengan gagasan.

Kadang jadi anggota DPR termuda jadi beban. Anak muda itu selalu diidentikkan membawa perubahan. Anak muda selalu dipandang atau jadi harapan masyarakat bahwa kalau anak muda itu pasti akan membawa perubahan yang lebih baik. Ya itu beban, tapi sekaligus jadi tantangan.

Jadi motivasi agar saya dan anak muda lain di DPR bisa memberikan pengaruh idealisme ke teman-teman yang senior. Ini tantangan tersendiri. Apalagi di masyarakat masih kuat anggapan bahwa anak-anak muda belum siap, belum mapan, belum punya pengalaman. Masih hijaulah.

DPR dalam beberapa survei, citranya dipandang buruk oleh publik. Sekarang Anda masuk di DPR. Apa Anda tak takut dipandang nyinyir oleh masyarakat?

Harus diakui, saat ini ada citra buruk yang dimiliki DPR. Karenanya saya ingin mengubah pandangan negatif tersebut. Ada sistem di negara ini yang membuat tugas dan tanggung jawab anggota DPR tidak terlalu jelas di masyarakat. Harus diakui memang citra DPR harus diperbaiki. Tetapi, harus ada juga cara yang diperbaiki atau hal yang mungkin dibukakan kepada anggota DPR supaya boleh mengizinkan masyarakat untuk menakar kualitasnya.

Untuk itu, izinkan anak muda menjadikan persatuan Indonesia jadi fokus utama agar masyarakat Indonesia tidak lagi gampang dijadikan objek kepentingan politik oleh orang-orang berkepentingan. Jadi kalau dilihat, sebenarnya masih banyak yang harus diperbaiki, masih banyak pekerjaan kami.

Saya tidak bilang kami akan bekerja jauh lebih baik atau saya tidak bilang kami secara pribadi jauh lebih baik daripada anggota DPR sebelumnya. Tapi setidaknya, di periode ini ada harapan kami datang dengan ideologi dan gagasan yang dapat menciptakan suatu sistem untuk memperbaiki kinerja DPR.

Partai NasDem apakah mengarahkan Anda masuk ke komisi tertentu?

Kalau di Partai NasDem kami diminta memberikan tiga pilihan. Pilihan saya itu di Komisi III karena background saya hukum, di Komisi I untuk pertahanan ya karena masih di koridor yang sama. Saya ini dari Sulut, walaupun saya tahu akan berada untuk kepentingan Indonesia. Saya ingin berada di Komisi X supaya boleh meningkatkan kualitas pendidikan dan bisa bergerak lebih banyak di sana.

Untuk transparansi, Anda kabarnya akan membuat semacam vlog saat absensi. Tujuannya apa?

Memang saya sempat menyosialisasikan ingin bikin program vlog absensi sidang. Jadi ketika sidang, kita melakukan live streaming atau men-share video conference. Sehingga masyarakat tahu perkembangan dan mampu menakar kinerja dari anggota Dewan. Soal kinerja memang wajar di-complain kalau transparansinya mungkin tidak cukup untuk menyakinkan masyarakat bahwa DPR ini bekerja dengan baik.

N-3

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment