Koran Jakarta | August 24 2019
No Comments

Hidup Minimalis untuk Menemukan Kebahagiaan

Hidup Minimalis untuk Menemukan Kebahagiaan
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Simple Life
Penulis : Asti Musman
Penerbit : Psikologi Corner
Cetakan : Pertama, Mei 2019
Tebal : viii + 200 halaman

Hidup sederhana bisa dilakukan dengan mudah. Manusialah yang membuatnya rumit. Ini menjadi salah satu dasar hidup harus disederhanakan. Menyederhanakan hidup erat kaitannya dengan gaya hidup minimalis, mengurangi jumlah barang. Tak hanya dengan barang saja, tapi juga cara berpikir yang lebih sederhana di tengah beragam persoalan zaman se­karang.

Buku mengulas hidup sederhana dan minimalis yang sekarang sedang berkembang di Amerika Serikat dan Jepang, bahkan ada kecenderungan ber­kembang di seluruh dunia. Gaya hidup minimalis, kata penulis, yakni menying­kirkan barang-barang, antikonsumer­isme, penghematan, menghilangkan sebanyak mungkin dan seterusnya.

Gaya hidup sederhana sudah dilaku­kan para pesohor dunia. Buku menye­but Steve Jobs menjalani hidup minima­lis. Ini tecermin dari gaya berbusananya yang simple. Dia berpakaian warna hitam sebagai ciri khas. Ada pula Kate Midlleton, meskipun istri calon pewaris Kerajaan Inggris, tidak canggung me­ngenakan busana yang biasa digunakan orang kebanyakan.

Tidak hanya dalam kehidupan sehari-hari, saat menghadiri acara sosial pun, dia juga tampil sederhana. Beberapa kali Kate mengenakan baju yang sama dalam kesempatan berbeda. Meski tindakan ini menyalahi protokoler Kerajaan, ia justru dipuji banyak orang karena kesederhanaannya (hal 34).

Buku ini juga memaparkan, sela­ma ini orang menilai lebih keberada­an orang lain dari banyaknya barang berharga yang dimiliki. Padahal sebenarnya nilai diri tidak ditentukan jumlah barang. Buku juga menyinggung danshari, pandangan minimalis ala Jepang. Danshari terdiri dari tiga kata dan-sha-ri. Secara harfiah diartikan menolak-buang-pisahkan. Ini sebuah ungkapan untuk literal merapikan. Gaya hidup ini dikatakan memiliki akar dari buddhisme Zen (hal 43).

Singkatnya, metode danshari meng­ajarkan untuk hanya memiliki barang-barang yang dibutuhkan. Dia menolak konsumerisme. Bahkan tidak membeli oleh-oleh saat travelling. Orang harus berani membuang barang-barang kes­ayangan yang mengingatkan pada masa lalu yang indah.

Buku Simple Life juga menjelaskan bahaya menumpuk barang. Kebiasaan tersebut merupakan penyakit hoarding, perilaku sulit berpisah atau membuang barang. Para ahli mengelompokkan perilaku tersebut sebagai salah satu gangguan kejiwaan.

Ciri khasnya, tempat tinggal penuh timbunan barang-barang. Namun demikian, hoarding berbeda denga kolektor. Para kolektor hanya meny­impang satu jenis barang tertentu, mengatur, memajang yang disukai dan memusnahkan yang tidak ter­pakai. Sedangkan gangguan perilaku hoarding, segala disimpan, termasuk koran, majalah, hingga benda-benda yang tidak berguna (hal 62-63).

Hidup minimalis bermanfaat ka­rena membebaskan kita untuk pergi ke mana pun, kapan pun. Jumlah barang yang sedikit juga membuat orang memiliki banyak waktu untuk mengerjakan kesibukan lain. Dengan meminimalkan barang di rumah, membuat manusia lebih mudah berkonsentrasi.

Begitupun dengan kehidupan bersama pasangan akan meningkat secara kualitas. Karena ada kesempatan untuk saling berbicara dan fokus. Sebab pikiran tidak teralihkan televisi atau ba­rang lainnya.

Membaca buku ini seperti mendapat pencerahan bahwa kebahagiaan sejati dan ketenangan pikiran terletak pada kesadaran yang benar-benar berarti. Tidak ada hubungan banyaknya barang milik dengan hidup tenang. Hidup de­ngan barang yang dibutuhkan secara tidak langsung juga meminimalkan lim­bah, polusi, serta menghemat energi. Diresensi Yeti Kartikasari, Alumna Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment