Koran Jakarta | September 25 2018
No Comments

Hidup Harus Dijalani dengan Bahagia

Hidup Harus Dijalani dengan Bahagia

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Jalani, Nikmati, Syukuri
Penulis : Dwi Suwiknyo
Terbit : 2018
Penerbit : Noktah
Tebal : 260 Halaman
ISBN : 978-602-50754-5-2

Kebahagian dan kesedihan menyatu dalam hidup. Kemarin bersedih, hari ini sudah tertawa. Hari ini penuh kecewa, lusa sudah berbahagia. Begitulah suasana hati datang dan pergi. Di dalam kehidu­pan sehari-hari, masalah juga silih berganti. Belum habis satu masalah, datang yang lain. Sebagian manusia kadang menghadapi dengan tabah, menerima dengan lapang dada. Seba­gian lagi, jika masalah datang, marah, menggerutu, menyalahkan orang lain dan frustrasi.

Keinginan sering tidak sesuai de­ngan kenyataan. Seseorang telah ber­juang secara maksimal, tetapi hasilnya tidak sesuai dengan harapan. Ada teman yang kelihatan santai, ternyata rezekinya terus mengalir. Lalu, setelah memandingi diri sendiri, meski sudah bersusah-susah belum juga sukses.

Ada sebagian orang sangat gila keras. Siang malam mencari uang dan kekayaan, sehingga lupa untuk membahagiakan diri dan orang lain. Fokusnya uang tanpa memperhatikan kesehatannya. Sehingga dalam waktu lama, uangnya banyak terkumpul. Akan tetapi kesehatannya hilang. Ia harus menghabiskan uang hasil jerih payahnya untuk mengobati sakit.

Buku Jalani, Nikmati, dan Syukuri mengajak pembaca untuk tidak lupa bahagia. Apa pun yang terjadi, baik kesedihan, kekecewaan, kekurangan harta benda, maupun kelimpahan harus senang. Kalau ada masalah ja­ngan mengeluh. Pembaca diajak selalu menghilangkan rasa khawatir dan takut terhadap urusan dunia. Pasrah­kan semua pada Tuhan. “Sesungguh­nya kesedihan itu sementara. Maka, jangan terlalu tenggelam dan larut di dalamnya,” (hal 14).

Buku mengingatkan jika percaya kepada Allah, membiarkan kehendak-Nyalah yang terjadi. Bukan malah menggugat kehendak-Nya. “Jika kita yakin Allah mengurus semua urusan, tidak akan ada rasa khawatir, apalagi menggugat kehendak-Nya (hal 8). Buku juga mengajak untuk selalu bersyukur dan percaya kepada Allah. Kecewa ka­rena diremehkan orang dan balas den­dam, hanya akan merusak diri sendiri. Akan sangat baik jika kita mengubah dendam menjadi melecut agar menjadi energi positif. Buktikan dendam de­ngan prestasi, bukan dengan menghan­curkan hidup orang lain.

Pembaca juga diajak untuk lebih kreatif dalam hidup. Berani ambil risiko, bisa berdamai dengan diri sendiri dan bisa menghadapi stres. Terkadang dalam hidup seseorang dituntut untuk tampil sempurna, tetapi ia lupa dengan prosesnya. Ma­nusia berharap sukses, punya jabatan tinggi, rumah dan mobil mewah, akan tetapi lupa pada proses bahagia untuk menjalani itu semua. Pikirannya hanya untuk menggapai tujuan sukses, tapi jiwa tidak bahagia.

Buku dilengkapi tips dan trik tiap-tiap bab untuk mengatasi ber­bagai masalah. Manusia diajak terus mensyukuri hidup yang diberikan Tuhan. n

Diresensi Ifdhal Febrioza, seorang guru

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment