Hentikan Semua Potensi Perpecahan | Koran Jakarta
Koran Jakarta | September 20 2017
No Comments
Ancaman Konflik - Masyarakat Diminta Mengabaikan Ajakan-ajakan Bernuansa SARA

Hentikan Semua Potensi Perpecahan

Hentikan Semua Potensi Perpecahan

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Semua warga bangsa hendaknya menghentikan tindakan memfitnah, menghasut, dan memanas-memanasi pihak lain. Semua potensi perpecahan ini harus dihentikan.

BANJARBARU - Wakil Ketua MPR, Mahyudin sangat khawatir dan merasa miris dengan potensi-potensi perpecahan bangsa yang kian marak di Indonesia terutama setelah Pilkada DKI Jakarta. Potensi itu melebar makin berbahaya dengan tuntutan penggantian ideologi Pancasila ke ideologi lain.

“Jika saya bisa meminta, sudahlah hentikan semua potensi konflik dan perpecahan bangsa, antara lain memfitnah, menghasut, memanas-memanasi,” kata Mahyudin dalam Dialog Kebangsaan DPD KNPI Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, di Banjarbaru, Kamis (18/5).

Menurut Mahyudin, terlalu mahal harga dan darah yang harus dibayar bangsa ini jika terjadi perpecahan bangsa. Banyaknya ajakan yang bernuansa SARA tersebut, terutama di media sosial. Masyarakat, terutama generasi muda hendaknya pintar dan bijak ketika menerima ajakan dan provokasi-provokasi yang menimbulkan perpecahan.

“Saya sendiri di grup WA (Whatsapp) banyak sekali menerima kiriman dan posting-posting berbau SARA. Saya tegas menegur tidak boleh mengirim seperti itu. Saya analisa ternyata asal kiriman tersebut tidak bisa dipertanggungjawabkan, hoax, dan akun palsu,” ujarnya.

Diutarakan Mahyudin, sejarah mencatat bahwa seluruh elemen yang beragam di Indonesia sejak era kerajaan-kerajaan berkuasa di Nusantara, bersepakat bersatu untuk lepas dari penjajahan Belanda. Hal itu berlanjut dengan lahirnya Indonesia dan Pancasila sebagai perekat seluruh perbedaan yang ada.

Semua berjibaku berdarah-darah merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Yang luar biasa adalah pengorbanan kerajaan-kerjaaan yang rela melepas hirarkis kekuasaan dinastinya demi bersepakat membentuk sebuah negara yakni Indonesia. “Itulah makanya saya tegaskan, terlalu mahal jika bangsa ini mengalami perpecahan. Itu sama saja mengkhianati pengorbanan nenek moyang kita dulu,” tegasnya.

Jaga Keutuhan

Mahyudin mengingatkan, tanpa Pancasila bubarlah bangsa ini. Rakyat Indonesia seluruhnya harus menjaga keutuhan bangsa dengan menjaga Pancasila di kehidupan sehari-hari. Dengan penuh harap, Pimpinan MPR termuda ini mengatakan agar generasi muda jangan jauh-jauh berpikir dan bertindak. Mulailah dari diri sendiri dengan tetap menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

“Abaikan semua ajakan-ajakan yang berbau SARA. Dialog ini adalah salah satu ikhtiar dan upaya meminimalisir potensi perpecahan bangsa. Pemahaman soal Pancasila jangan hanya sebatas teori saja, tapi benar-benar diimplementasikan di kehidupan,” tandasnya.

Secara terpisah, Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu, H Zainal Abidin akan menggandeng para pimpinan gereja se-Provinsi Sulawesi Tengah untuk memperkuat rasa nasionalisme di kalangan umat beragama. Zainal juga akan mengajak dan meminta kepada pimpinan gereja untuk memberikan pemahaman tentang nilai-nilai kebangsaan dan penanaman nilai-nilai nasionalisme lewat peran gereja.

“Menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) serta menumbuhkembangkan jiwa nasionalisme masyarakat harus dan perlu melibatkan peran agama termasuk tokoh-tokoh agama di semua rumah ibadah,” ungkap Zainal.

Ajakan itu akan disampaikan Zainal Abidin pada temu dan dialog bersama pimpinan gereja se-Sulawesi Tengah pada 8 Juni 2017 mendatang. “Saya diundang dan dihadirkan oleh Bimbingan Masyarakat Kristen Kantor Wilayah Kemenag Sulteng untuk menyampaikan materi dalam dialog dengan pimpinan gereja se-Sulawesi Tengah 8 Juni mendatang,” ujarnya.

Pakar Pemikiran Islam Modern itu menyebut bahwa tokoh-tokoh agama harus dan perlu berperan untuk menjaga kebhinekaan, kesatuan, dan persatuan dalam bingkai NKRI. Berdasarkan informasi yang diterima bahwa salah satu problem yang dihadapi oleh bangsa ini, yakni adanya pengaruh serta gerakan yang mengancam ideologi negara Pancasila, kebhinekaan serta semangat nasionalisme.

“Tentu masalah ini tidak hanya menjadi kewajiban dari pemerintah semata. Oleh karena itu dibutuhkan partisipasi aktif dan peran dari semua pihak termasuk tokoh agama,” katanya. eko/Ant/N-3

 

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment