Koran Jakarta | June 20 2019
No Comments
Penegakan Hukum

Hasil Penyelidikan Rusuh 22 Mei Akan Dibuka Seluas-luasnya

Hasil Penyelidikan Rusuh 22 Mei Akan Dibuka Seluas-luasnya

Foto : ISTIMEWA
Kami kemarin membuka seluas-luasnya kepada masyarakat agar masyarakat paham betul bahwa semuanya tidak ada yang direkayasa.
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keaman­an (Menko Polhukam), Wiranto, me­ngatakan pihaknya akan membuka seluas-luasnya hasil penyelidikan dan penyidikan aksi 21–22 Mei yang berujung kericuhan kepada masyara­kat agar semua menjadi jelas.

“Kita buka ke masyarakat supaya masyarakat paham dan kita bisa mereduksi berbagai spekulasi, hoaks yang melakukan, katakanlah, investi­gasi liar yang kemudian banyak sekali skenario yang muncul di publik,” kata Wiranto, di Kompleks Istana Kepresi­denan Jakarta, Rabu (12/6).

Diketahui, Selasa (11/6), Kepolisian RI mengungkap keterlibatan mantan Kepala Staf Kostrad, Mayjen (Purn) Kivlan Zen (KZ), dalam rangkaian kerusuhan 22 Mei 2019 pada kasus rencana pembunuhan empat tokoh nasional dan satu pimpinan lembaga survei. Polisi menyebut Kivlan berpe­ran sebagai pemberi perintah.

Polri juga ikut menyampaikan ter­kait kepemilikan senjata api Mantan Danjen Kopassus, Mayjen TNI Purn Soenarko berasal dari sitaan milisi Gerakan Aceh Merdeka (GAM) masih aktif.

“Maksud saya, dengan penjelasan dari aparat kepolisian kepada masya­rakat, semua jadi jelas, kan? Paling enggak, tiga hal menjadi jelas kan? Masalah kerusuhan 21–22, masalah senjata ilegal yang dikuasai dan di­miliki oleh saudara Soenarko, lalu adanya satu senjata ilegal yang ada hubungannya dengan rencana pem­bunuhan lima tokoh,” jelas Wiranto.

Meski begitu, lanjut dia, proses hukum terkait hal ini akan terus di­dalami. “Memang belum selesai, namanya aja masih proses hukum. Masih perlu pendalaman, masih perlu pengembangan,” ucapnya.

Belum Dalangnya

Di tempat yang sama, Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko, mengata­kan pemerintah berkomitmen men­jaga dan menjamin keselamatan ma­syarakat. “Kami kemarin membuka seluas-luasnya kepada masyarakat agar masyarakat paham betul bahwa semuanya tidak ada yang direkayasa,” katanya.

Menurut Moeldoko, pemerintah tidak membuat skenario kericuhan saat unjuk rasa 21–22 Mei 2019. Pe­merintah juga menyerahkan penye­lidikan kerusuhan 22 Mei kepada kepolisian. “Selanjutnya, nanti akan maju lagi siapa sesungguhnya yang berada di balik ini semuanya. Jadi, kemarin belum sampai ke dalang kerusuhannya, kemarin lebih meng­ungkap asal-usul senjata dan mau di­pakai apa senjata itu,” ujar Moeldoko.

Di tempat terpisah, Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri, Kombes Pol Asep Adi Saputra, menyatakan pihaknya belum dapat mengungkap penyebab kematian sembilan korban jiwa dalam kericu­han 21–22 Mei 2019 karena terken­dala tempat kejadian perkara (TKP) korban tewas atau terluka yang sulit ditemukan.

“Tidak secara keseluruhan kami mengetahui di mana TKP terjadinya hal yang menyebabkan korban me­ninggal dunia tersebut,” ujarnya di Gedung Mabes Polri, Jakarta, Rabu.

Saat terjadi kericuhan, kata Asep, korban-korban yang terluka langsung diantarkan ke rumah sakit sehingga polisi harus menelusuri kembali lo­kasi korban jatuh dan tewas.

TKP tewasnya korban disebutnya penting sebagai titik awal penyelidik­an untuk diketahui kronologi kejadi­an dan saksi-saksi peristiwa. Ant/fdl/AR-2

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment