Koran Jakarta | August 15 2018
No Comments
JENAK

Hari Wayang Indonesia: Keren dan “Wow Banget”

Hari Wayang Indonesia: Keren dan “Wow Banget”

Foto : KORAN JAKARTA/ONES
A   A   A   Pengaturan Font

Tanggal 7 November nanti, mudah-mudahan ada penetapan Hari Wayang Indonesia. Penetapan ini, rasanya tak ada yang berkeberatan, karena selama ini sudah seratusan tahun masyarakat kita, khususnya Jawa, akrab dengan wayang, dengan segala bentuknya.

Mulai dari yang paling asli seperti wayang kulit, sampai dengan wayang wong, atau wayang orang, dan variannya seperti wayang kancil (dengan tokoh binatang seperti kancil, harimau, dll), atau wayang dengan tema keagamaan, dan atau bahkan wayang potehi, adaptasi wayang boneka dari China.

Wayang diakui sebagai Karya Agung Lisan dan Warisan Kemanusiaan Tak Benda, atau Karya Agung Dunia, dan diakui oleh UNESCO, 7 November 2003.

Komunitas wayang di Indonesia menyambut penuh harap, bahwa tahun ini bisa terlaksana, ditetapkannya Hari Wayang Indonesia! Tambahan nama Indonesia, terutama karena di negeri inilah wayang menemukan bentuknya yang unik, dan pengembangannya yang luar biasa.

Salah satu yang membedakan dengan wayang di India, misalnya, adalah adanya tokoh Punokawan—Semar, Gareng, Petruk, Bagong yang lucu dan tak terdapat di negeri lain. Bukan hanya itu, juga Togog dan anaknya, Sarawita alias Mbilung, yang ditampilkan berbahasa Indonesia. Atau dari gender perempuan ada Limbuk, yang gemuk dan anaknya yang sangat kurus, Cangik.

Bahkan, tokoh yang selalu muncul di awal peperangan, Buto Cakil, juga diciptakan di negeri ini. Nama itu sendiri menunjukkan tahun diciptakan. Maka dengan keterlibatan yang begitu lekat, dan juga pengembangan bersama, sehingga menjadi tata nilai serta tata krama, menjadi pandangan hidup, menjadi bagian dari filsafat, wayang layak diabadikan sebagai dan dalam Hari Wayang Indonesia.

Secara pribadi, saya termasuk generasi yang masih nonton pergelaran wayang kulit semalam suntuk—kadang berdiri di pagar dan mengantuk, atau mendengarkan melalui radio, atau datang ke tempat di mana ada kegiatan mendalang. Saya berutang budaya besar dengan dunia wayang.

Bahkan, sebelum masuk sekolah, sebelum bisa membaca dan menulis, saya dianggap sudah “bisa baca tulis”. Hanya karena nama tokoh wayang yang diberi teks di bawahnya, bisa saya kenali. Sehingga saya dikira bisa membaca. Padahal, saya mengenali tokoh wayang atau bahkan nama aliasnya.

Sewaktu mendapat bea siswa ke Univercity of Iowa, di Iowa City, Amerika Serikat, tahun 1979, saya menyempatkan diri mendalang. Durasi hanya satu jam, dan cerita berdasarkan wayang yang bisa dikumpulkan—dari penduduk di sana, bukan dari kedutaan. Saya sempat nyantrik ke dalang tradisi terbesar, Ki Narto Sabdo, dan mendengarkan ratusan kaset wayangnya.

Juga dalang-dalang kondang lainnya. Waktu kecil, kalau ditanya apa cita-citanya, saya mantap menjawab menjadi dalang—baru kemudian menjadi dokter. Dua-duanya tidak kesampaian. Tapi, sejak awal saya sadari dan saya nyatakan bahwa keberadaan saya sekarang ini—termasuk menulis novel, menjadi wartawan, atau kadang cuap-cuap di tv—berkat dari dunia wayang yang demikian berpengaruh.

Maka ketika ada wacana menetapkan Hari Wayang Indonesia, saya merasa gembira, merasa bersyukur, dan diam-diam berdoa, mudah-mudahan terwujud. Banyak sumbangan dari dunia wayang—yang dalam cabang kesenian semua terwakili, ya seni lukis, seni drama, seni musik, seni pentas, seni nyanyi.

Namun lebih dari itu, pengertian-pengertian dan rumusan mencintai negara, persahabatan, menghormati orang tua, berwawasan lingkungan, tolong-menolong, toleransi, semua ada dan dijelaskan dengan gamblang bahwa kebaikan akan selalu mengalahkan kejahatan, dengan cara menghibur, sehingga prosesnya pun nyaman bagi pemula. Hari Wayang Indonesia, akan terasa makin indah, bermakna, dan baik adanya. Tak sabar menunggunya.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment