Hari Anak Sedunia | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 9 2019
No Comments

Hari Anak Sedunia

Hari Anak Sedunia

Foto : Koran Jakarta/Ones
A   A   A   Pengaturan Font

oleh ika maylasari, msi

 Tanggal 20 November diperingati sebagai Hari Anak Sedunia. “Pendi­dikan merupakan sen­jata ampuh untuk meng­ubah dunia,” kata Nelson Mandela. Pendidikan menen­tukan kualitas hidup manusia guna menyongsong masa de­pan yang lebih baik. Hal ini se­jalan dengan teori modal ma­nusia (human capital) tentang linieritas tingkat pendidikan dengan produktivitas dan ting­kat upah seseorang.

Sejatinya, pendidikan ba­gian dari lingkaran kehidupan manusia yang dirintis sejak la­hir untuk mengembangkan ke­mampuan dalam berinteraksi. Masa ini diawali usia balita, saat pertumbuhan otak anak se­dang berkembang pesat untuk menyerap informasi dan me­respons stimulasi baru dua kali lebih cepat dari orang dewasa. Inilah alasan para ahli menye­but usia balita masa golden age dalam daur kehidupan seorang anak.

Maka, dukungan posi­tif perlu dilakukan dengan memberi stimulasi terha­dap perkembangan motorik, khususnya usia 2–5. Ini seperti mempelajari bakat baru, ba­hasa, mengontrol tangan, jari, banyak bertanya, meluapkan perasaan, hingga keinginan berbagi serta bermain bersama teman. Hal itu seperti tertuang dalam publikasi UNICEF “Ear­ly Childhood Development: The key to a full and productive life.”

Selain keluarga, keberada­an pendidikan prasekolah atau lebih populer dikenal dengan sebutan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) mampu menye­diakan dukungan tersebut. Sebagai tahap awal bagi anak dalam mengenal asyiknya du­nia belajar, PAUD berperan penting mengasah kemam­puan jasmani maupun rohani. Kegiatan ini dinikmati melalui proses bermain yang terarah tidak hanya mengerti dunia anak pada umumnya, tetapi juga memiliki kompetensi khu­sus. Keterlibatan anak pada program PAUD membentuk kesiapan melangkah ke jenjang pendidikan selanjutnya.

Proses pembelaja­ran PAUD mengenalkan domain penting da­lam perkembangan dan pembelajaran seperti perkembangan fisik-motorik, emosi-sosial, bahasa, kognisi, dan pe­ngetahuan umum. Ada juga perasaan positif akan belajar sebagaimana identifikasi Na­tional Educational Goal Panel Amerika (1997). Seluruh do­main pembelajaran tersebut dapat diperoleh ketika anak mengikuti program PAUD. Se­lain itu, PAUD dapat memini­malisasi kasus drop out awal SD dan meningkatkan pres­tasi.

Hak Anak

Memaknai peringatan Hari Anak Sedunia, 20 November, perlu menengok kembali perkembangan implemen­tasi hak-hak anak Indonesia dalam dunia pendidikan, khususnya PAUD. Nyatanya, capaian indikator pendidik­an pada jenjang PAUD tahun 2018 belum memuaskan. Hal ini dapat dilihat dari Angka Partisipasi Kasar (APK) PAUD usia 3-6 baru 37 persen. Bayangkan, dari 10 anak usia tersebut, hanya tiga sampai empat mengikuti PAUD dan sejenisnya (Susenas, 2018).

Bahkan, dalam kurun lima tahun terakhir, angka tersebut hanya naik 1 persen. Di tengah gencarnya pro­gram pemerintah untuk me­wujudkan gerakan Satu Desa Satu PAUD, capaian ini relatif rendah. Untuk meningkat­kan partisipasi anak usia 3-6 ikut PAUD dibutuhkan penun­jang seperti TK, RA, BA, pos dan sejenisnya.

Tak hanya fisik, kemudahan mengakses fasilitasnya mesti dijamin. Dari data Kemendik­bud tahun 2018, jumlah satu­an PAUD 231.472 sekolah. Jika merujuk pada implementasi gerakan Satu Desa Satu PAUD, belum semua desa memiliki PAUD. Statistik Potensi Desa tahun 2018 menunjukkan, dari 83.931 desa/kelurahan, 72 persen (60.410) memiliki Pos PAUD, sedangkan desa/kelu­rahan yang memiliki TK/RA/BA baru 64 persen (53.375).

Data tersebut baru memper­lihatkan keberadaan PAUD dari segi kuantitas, belum bicara kua­litas penyelenggaraannya. Jika seluruh desa memiliki PAUD de­ngan dukungan tata kelola bagus baik tenaga pendidik maupun infrastruktur, setiap anak ber­kesempatan mengakses PAUD.

Dengan begitu, proses tum­buh kembang kognitif, afektif, dan motorik berjalan baik. Me­reka akan menjadi SDM ung­gul dengan produktivitas tinggi di masa depan. Akhirnya, ke­sempatan untuk memetik ma­nisnya bonus demografi dapat diraih sebagai modal menuju Indonesia Emas tahun 2045. Saat itu, mereka berusia 16-30. Inilah saat yang tepat untuk menciptakan pemuda unggul generasi penerus bangsa mela­lui PAUD.

Masih dibutuhkan perhati­an ekstra untuk menindaklajuti problem Satu Desa Satu PAUD. Dana desa bagi Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmi­grasi diharapkan dapat diman­faatkan secara maksimal da­lam menyelenggarakan PAUD. Sayang, perhatian aparat desa belum sepenuhnya menjadikan pendidikan prioritas pemba­ngunan manusia desa. Ini ter­lebih pada penyediaan dan pe­ngembangan layanan PAUD.

Bahkan, masih ada segelin­tir oknum aparat desa yang menjadikan dana desa lahan korupsi. Berdasarkan laporan Indonesia Corruption Watch (ICW), sejak dana desa digel­ontorkan tahun 2015 sampai semester satu tahun 2018, ka­sus korupsi dana desa terus naik. Sebanyak 181 kasus telah diungkap dan mengakibatkan kerugian negara 40,6 miliar. Beberapa di antara kasus ko­rupsi tersebut karena kesalah­an administrasi.

Melihat kondisi ini, sudah selayaknya pemerintah daerah bersama dinas terkait melaku­kan pembinaan baik teknis maupun administrasi pada aparat desa tentang peman­faatan dana desa. Mereka ha­rus lebih mengarahkan agar pembangunan dan pengem­bangan pendidikan khusus­nya PAUD menjadi prioritas dan berkesinambungan.

Hal ini juga harus diiringi dengan penguatan sistem monitoring dan evaluasi ber­jenjang oleh pemerintah dari tingkat pusat, provinsi, kabu­paten/kota sampai desa de­ngan melibatkan masyarakat. Maka, perlu gerakan “melek dana desa” masyarakat itu sendiri, agar dapat berpartisi­pasi dalam perencanaan, pe­laksanaan, dan pengawasan pemanfaatan dana tersebut.

Begitu juga dengan pe­manfaatan Dana Alokasi Khusus nonfisik Bantuan Operasional Penyelenggaraan PAUD. Ini tertera pada Per­mendikbud Nomor 2 Tahun 2018. Isinya, harus dipantau secara ketat dan dievaluasi berkala. Selain itu, kehadiran penggerak PAUD dari tingkat pusat sampai desa/kelurah­an juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Mereka merupa­kan mitra utama dan motivator penyelenggaraan PAUD.

Yang tak kalah penting, ke­sadaran orangtua untuk ber­peran aktif dalam mengikut­sertakan anak 3-6 tahun dalam program PAUD. Semua ini tidak terlepas dari gencarnya sosiali­sasi seluruh pihak. Dengan mengoptimalkan PAUD dan mengikutsertakan anak, berarti kita turut andil mempersiapkan generasi cerdas, visioner, pro­duktif, dan kreatif. Mereka akan mampu menjawab tantangan peradaban mendatang. 

Penulis Bekerja di BPS

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment