Koran Jakarta | November 18 2017
No Comments
Pemerintahan Singapura - PM Lee Ingatkan Halimah Harus Non-partisan

Halimah Ingin Istana Mudah Diakses Publik

Halimah Ingin Istana Mudah Diakses Publik

Foto : REUTERS/Wallace Woon
A   A   A   Pengaturan Font
Prosesi pelantikan Halimah Yacob sebagai Presiden Singapura berlangsung di State Room, Istana Kepresidenan. Halimah menggantikan pendahulunya, mantan Presiden Tony Tan Keng Yam.

 

SINGAPURA — Presiden Singapura, Halimah Yacob, mengatakan dirinya ingin melibatkan warga dalam setiap kebijakan pemerintah dan membuat Istana lebih mudah diakses oleh publik. Dua hal itu menjadi pemikiran utamanya saat memulai hari pertama sebagai Presiden Singapura.

“Saya benar-benar memikirkan pekerjaan yang harus dilakukan, dan saya benarbenar ingin segera memulai,” kata Halimah dalam pidatonya seusai dilantik sebagai Presiden Singapura ke-8, di Istana Kepresidenan Singapura, Kamis (14/9). Halimah menggantikan pendahulunya, mantan Presiden Tony Tan Keng Yam.

Prosesi pelantikan Halimah yang berlangsung di State Room itu berjalan khidmat. Acara diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Singapura. Perdana Menteri Singapura, Lee Hsien Loong, Kepala Hakim Sundaresh Menon, para menteri kabinet, anggota parlemen, dan para pejabat tinggi negara lainnya turut menyaksikan pengambilan sumpah jabatan tersebut.

Halimah menjabat sebagai Presiden Singapura setelah empat kandidat lainnya dinyatakan tidak memenuhi syarat. Pemungutan suara yang rencanakan akan digelar 23 September mendatang terpaksa dibatalkan. Halimah akhirnya terpilih sebagai Presiden Singapura tanpa pemungutan suara. Tapi, bukan sekali ini saja pilpres Singapura berlang sung walkover.

Pilpres 1999 dan 2005 juga pernah dimenangkan mantan Duta Besar Singapura untuk Amerika Serikat, SR Nathan, tanpa kontes. Halimah mengatakan tugas utamanya setelah dilantik adalah menyatukan masyarakat Singapura.

Halimah menyerukan kepada seluruh masyarakat Singapura untuk bersatu dan bergabung bersamanya mewariskan Singapura yang lebih baik kepada generasi mendatang. “Saya ingin memastikan kepada seluruh masyarakat Singapura bahwa sebagai Presiden, saya akan melayani Anda semua, terlepas apa pun suku, bahasa, atau agama Anda semua,” kata Halimah.

Penuh Keterbatasan

Dalam kesempatan itu, Halimah menyinggung tentang masa kecilnya yang penuh keterbatasan. Kisah pilu di masa kecil itu juga banyak dialami oleh masyarakat Singapura lainnya. Dia yakin, masyarakat Singapura menilai pemimpinnya berdasarkan prestasi.

“Tanpa itu (kesulitan hidup), saya tidak akan di sini sekarang,” kata Halimah. Halimah mengatakan dirinya ingin melibatkan warga dalam setiap kebijakan pemerintah dan membuat Istana lebih mudah diakses oleh publik. Dua hal itu menjadi pemikiran utamanya saat memulai hari pertama sebagai Presiden Singapura. “Saya benar-benar memikirkan pekerjaan yang harus dilakukan, dan saya benar-benar ingin segera memulai,” kata Halimah.

Sudah Berbeda

Di tempat yang sama, Perdana Menteri Singapura, Lee Hsien Loong, menekankan peran Halimah, yang sekarang sudah berbeda dari jabatan sebelumnya sebagai juru bicara parlemen. “Sampai sekarang, Anda telah berjuang dalam berbagai hal, baik di negara ini, di arena politik, di pemerintahan.

Sekarang sebagai presiden, Anda harus menjadi non-partisan dan tidak terlibat dalam keributan politik,” kata Lee. Lee menjelaskan, perjalanan karier Halimah berasal dari bawah hingga menuju level tertinggi di pemerintahan. Kisah perjalanan Halimah, disebut Lee, merefleksikan sejarah Singapura, di mana masyarakat Singapura berkembang dan bercita-cita untuk menjadi sebuah negara. uci/ channelnewsasia/P-4

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment