Koran Jakarta | May 26 2018
No Comments

Hadapi Teror Ini dengan Hati yang “Adem”

Hadapi Teror Ini dengan Hati yang “Adem”

Foto : Koran Jakarta / Eko Sugiarto Putro
Usut Tuntas - Teror terjadi di Gereja Santa Lidwina, Dusun Bedog, Desa Trihanggo, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Minggu (11/2). Polisi diharapkan dapat mengusut tuntas kasus penyerangan ini sehingga warga mendapatkan ketenteraman.
A   A   A   Pengaturan Font

Sampai Senin (12/2), war­ga Dusun Nusupan, Desa Trihanggo, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, masih terus memperbincang­kan kejadian penyerangan misa pagi di Gereja Santa Lidwina. Lokasi gereja tersebut berjarak sekitar 100 meter dari gapura Dusun Nusupan.

Gereja tersebut memang ber­ada di Dusun Bedog, salah satu dari 12 dusun di Desa Trihang­go. Namun, mayoritas umat gereja adalah warga Dusun Nusupan dan warga Perumahan Nogotirto, di mana tokoh Buya Syafii Maarif bertempat tinggal.

Gereja berada di ping­gir jalan kecil yang lengang, rumah-rumah besar berderet di sisi gereja dan belum dua tahunan beberapa rumah diba­ngun di seberang gereja menu­tupi hamparan sawah Dusun Nusupan dan Dusun Biru.

Novi Ardianto, umat Katolik Gereja Santa Lidwina, ber­harap gereja segera mem­pekerjakan petugas keamanan yang rutin berjaga di depan gerbang gereja. Selama ini, karena gereja aman, petugas keamanan hanyalah penjaga malam. Closed circuit television (CCTV) juga mesti dipasang di sekitar gereja.

“Pada Sabtu (10/2) pu­kul 13.00 saat menjemput Fernando dari kegiatan di gereja, Ardianto melihat tiga orang berada di satu mo­tor matic berada di pinggir gapura Dusun Nusupan, yang salah satu di antaranya mirip dengan pelaku penyerangan gereja,” kata Ardianto saat Ko­ran Jakarta temui di RT 2 RW 28 Nusupan, kemarin.

Selalu Rukun

Diharapkan polisi bisa membuat terang kejadian sehingga warga mendapat­kan ketenteramannya secara penuh kembali. “Selama ini desa aman saja, rukun. Pertan­yaan kami itu pelaku kalau da­tang pagi tadi naik apa. Kalau semalam, dia tidur di mana?” kata Sucipto (70 tahun), warga muslim salah satu tetua dusun.

Herman, warga Katolik umat Gereja Santa Lidwina yang kebetulan bekerja sebagai penjaga malam salah satu kan­tor yang berada tak jauh dari gereja, mengatakan pada pukul 01.00 Minggu dini hari, dia me­lihat seseorang, sendirian saja berdiri di depan gapura kam­pung. Ada dua kali Herman melewati gapura, orang yang mirip pelaku itu masih di sana.

Dari warga yang masih hangat memperbincangkan kejadian penyerangan Gereja Santa Liwidna, terus ber­tambah kesaksian. Mereka meyakini bahwa yang dilihat Ardianto dan Herman adalah sosok yang sama, yakni sosok pelaku penyerangan gereja.

Menghadapi ancaman teror ini, warga harus tetap tenang sekaligus meningkatkan kewas­padaan. Seperti pesan Uskup Agung Semarang, Mgr Robertus Rubiyatmoko, hadapi dengan hati yang adem, sing ayem, dan tidak terpancing. Jadilah pem­bawa damai. n YK/SM/N-3

Tags
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment