Koran Jakarta | September 15 2019
No Comments
Science Film Festival 2018

Hadapi Tantangan Revolusi Pangan

Hadapi Tantangan Revolusi Pangan

Foto : dok. Science Film Festival 2018
A   A   A   Pengaturan Font

Science Film Festival kembali hadir pada 23 Oktober - 13 November 2018 di 42 kota di seluruh Indonesia dengan mengangkat tema “Revolusi Pangan: Menghadapi Tantangan Tahun 2050”.

“Alasan pemilihan tema itu sangat sederhana karena Indonesia selalu ada masalah dengan makanan. Jadi kita mau kasih tahu ke anak-anak usia sekolah, ada inovasi baru untuk makanan,” ucap Elizabeth Soegiharto, Koordinator Program Budaya Goethe Institut Indonesia dalam acara pembukaan Science Film Festival (SFF) 2018 di Jakarta, Selasa (23/10).

Program festival kali ini juga berupaya menjelaskan risiko lingkungan yang terkait perilaku konsumsi pangan serta solusi potensial untuk masa depan dengan cara menyenangkan dalam permainan dan mudah dipahami anak-anak.

“Ada beberapa film, seperti yang dari Jerman berinovasi bikin burger dari serangga. Kita enggak ngajarin mereka untuk makan serangga, tapi kasih tahu bahwa negara kalian tuh kaya dan mesti tahu pangan yang bervitamin apa,” jelasnya.

SFF 2018 menghadirkan 15 judul film menghibur yang akan mengajak anak-anak mengenal sains. Seluruh judul film juga sudah disulih suara dalam bahasa Indonesia.

“Total ada 15 film semuanya kita dubbing ke bahasa Indonesia. Kita akan bawa ke 42 kota, jadi anak-anak di desa bisa lihat dan mereka sangat antusias,” katanya.

SFF kali pertama diselenggarakan pada 2005 di Bangkok. Festival ini memiliki tujuan untuk mempromosikan literasi sains dan kesadaran mengenai isu-isu sains, teknologi, dan lingkungan melalui konten film dan televisi Internasional serta kegiatan edukasi pendamping di kawasan Asia Tenggara, Asia Tengah, Afrika, dan Timur Tengah.

Beberapa kota yang dikunjungi SFF 2018, antara lain Ambon, Banda Aceh, Bandung, Batam, Cikarang, Denpasar, Jakarta, Manado, Maumere, Tobelo, Tomohon, hingga Waingapu. Untuk itu, SFF 2018 menargetkan sebanyak 100 ribu pengunjung.

“Tahun lalu 38 kota lebih dari 80 ribu pengunjung. Tahun ini 42 kota, jadi harapannya bisa seratus ribu lebih. Untuk di Jakarta bisa disaksikan di beberapa sekolah yang bekerjasama, dan setiap hari ada pemutaran di PP IPTEK Taman Mini Indonesia Indah,” katanya.

Pemutaran di 42 kota ini juga disambut baik oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud). Harapannya semakin banyak masyarakat yang bisa mengambil pelajaran dari film-film yang diputar di SFF 2018.

“Ini kesempatan berharga bagi semua masyarakat yang ada di 42 kota punya kesempatan menonton dan mengambil inspirasi atau pelajaran dari karya film yang memang di dunia internasional ini digemari,” ujar Tubagus Sukmana, Kasubdit Seni Media Direktorat Kesenian Kemdikbud.  pur/R-1

Tumbuhkan Kecintaan Anak

Menurut Katrin Sohns, Kabag Program Regional Goethe-Institut untuk Asia Tenggara, Australia, dan Selandia Baru, acara SFF merupakan perayaan komunikasi sains kepada anak-anak.

“Memperkenalkan kepada anak bahwa sains itu menyenangkan. Jadi sains melalui film dapat menambah insting, keingintahuan terhadap sains. Nampaknya sederhana, tapi itu scientific,” katanya.

Komponen edutainment, mendidik sekaligus menghibur, merupakan hal yang penting dalam pengenalan sains kepada anak. Kombinasi antara pengetahuan dan kreativitas dapat menghasilkan hal-hal yang menarik bagi anak.

Ia berpendapat, pengenalan sains kepada anak juga akan lebih menarik bila menggunakan alat-alat sederhana yang dapat digunakan di mana saja, seperti batu baterai dan kabel.

“Kita perlu mendorong munculnya minat itu melalui peragaan yang simpel,” katanya.

Sementara itu, Alice Maestracci, Scientific Coordinator Institut Francais d’Indonesie (IFI), berndapat pengetahuan tentang sains membantu anak untuk dapat hidup lebih baik dari masa ini.

“Agar mereka punya kebiasaan yang bagus untuk menjaga planet ini,” kata Alice.

SFF akan memutarkan film pendek berdurasi sekitar 10 menit yang berasal dari berbagai negara, antara lain Indonesia, Jerman, Malaysia, dan Prancis. Film dalam festival ini bertujuan mengenalkan sains secara sederhana kepada anak-anak usia 9 hingga 14 tahun.  pur/R-1

Belajar melalui Film

Festival ini bertujuan menunjukkan pada anak-anak bahwa ilmu pengetahuan sangatlah menyenangkan dan hidup adalah tentang mempertanyakan banyak hal. Profesor Yohanes Surya, Rektor Universitas Surya, ini mengaku dia melihat banyak siswa yang takut pada pelajaran seperti matematika atau fisika. Dia merasa cara mengajar guru perlu diubah supaya pelajaran lebih menarik.

“Saya melihat banyak yang ketakutan terhadap science. Saya pikir ada sesuatu yang perlu dibenahi dalam pengajaran matematika, fisika. Saya melihat pengajaran itu sangat monoton. Kemudian saya mulai berpikir itu harus diubah bagaimana membuat itu menjadi lebih menarik lagi, dengan membuat komik dan acara televisi,” katanya.

Dalam salah satu film yang diputar kita bisa mengetahui kenapa jantung kita berdegup kencang saat naik roller coaster. Meski saat kita naik kereta dengan kecepatan yang sama dengan roller coaster jantung kita berdetak normal.

Anak-anak yang yang datang ke pemutaran film tidak akan hanya menjadi penonton. Mereka juga dilibatkan dalam beberapa kegiatan menarik, seperti eksperimen dan kuis yang berkaitan dengan isi film.

“Festival ini down to earth. Festival ini memiliki dua aspek, film dan aktivitas,” kata Katrin Sohns.

Untuk menyaksikan film-film yang diputar tidak dipungut biaya, namun harus memesan tempat terlebih dahulu.  pur/R-1

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment