Koran Jakarta | September 22 2018
No Comments
Pendidikan Nasional

Guru Mesti Dorong Anak Didiknya Berpikir Kritis

Guru Mesti Dorong Anak Didiknya Berpikir Kritis

Foto : ISTIMEWA
Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidi­kan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdik­bud), Supriano.
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA - Para guru diim­bau dapat melahirkan budaya pendidikan yang mendorong anak didiknya berpikir kritis. Guru juga harus mampu mem­budayakan siswa-siswinya agar mampu berkomunikasi lang­sung tanpa bergantung dengan gadget (gawai).

Imbauan tersebut disam­paikan oleh Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidi­kan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdik­bud), Supriano, dalam acara Pemilihan Guru dan Tenaga Kependidikan Berprestasi dan Berdedikasi Tingkat Nasional, di Jakarta, Minggu (12/8).

Supriano mengatakan, imbauan pada para guru un­tuk mendorong siswa-siswi berpikir kritis dimaksudkan agar anak memi­liki bekal dalam menghadapi per­saingan di abad 21. “Ber­pikir kritis ini yang harus dibuka dalam proses pembelajaran. Berpikir kritis, tapi mempunyai rasional,” kata dia.

Siswa-siswi harus dibuka keinginannya un­tuk dapat berpikir kritis. Dibuka kesempatan untuk menyampaikan hal-hal yang ingin me­reka kemukakan, jangan dikunci dan jangan di­tutupi.

Pihaknya juga mengim­bau agar faktor komunikasi juga dapat menjadi budaya da­lam proses pembelajaran di te­ngah gencarnya perkembang­an teknologi. Kemampuan komunikasi secara langsung penting untuk diasah agar anak didik tidak “gagap” ketika ber­komunikasi langsung dengan pihak lain.

“Anak-anak sekarang pintar berkomunikasi lewat smart­phone, Twitter, Facebook, dan Instagram, tapi ketika dia ber­hadapan langsung, dia akan sulit karena semua (biasa di­lakukan lewat) teknologi,” ujar Supriano.

Dia menambahkan, dalam hidup, tidak dapat hanya de­ngan mengandalkan teknologi. “Karena hubungan antarkita (sesama manusia) sangat pen­ting, semuanya dimulai dari komunikasi,” tukas Supriano.

Dalam kesempatan itu, Su­priono juga menekankan pen­tingnya membangkitkan bu­daya literasi atau membaca di kalangan generasi muda Indo­nesia. Menurutnya, budaya lit­erasi harus dikembangkan sejak dini, mulai dari literasi budaya lokal, literasi bidang teknologi dan literasi berhitung.

“Negara bisa bersaing ka­lau dia (generasi muda) me­nguasai teknologi, menguasai budaya dan menguasai indus­tri. Inilah yang jadi tantangan,” ujar Supriano. eko/E-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment