Koran Jakarta | October 14 2019
No Comments

Gurita Koruptor Ibarat Wabah Celeng

Gurita Koruptor Ibarat Wabah Celeng
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Menyusu Celeng

Penulis : Sindhunata

Penerbit : Gramedia

Cetakan : I, Maret 2019

Tebal : 182 halaman

ISBN : 978-602-06-2830-1

Penguasa korup, di mata tokoh utama novel Menyusu Celeng, ibarat celeng alias babi hutan yang rakus. Tak peduli perut buncitnya yang hampir meletus, dia ingin makan terus. Tak peduli sekian banyak harta kekayaannya, dia siap berkorupsi lagi, biar pun warga menderita asal para penguasa hidup sejahtera berkelimpahan harta. Paham ini dituangkan di atas kanvas menjadi sebuah lukisan berjudul “Susu Raja Celeng”.

Lukisan tersebut lahir bersamaan dengan karya-karya seniman lain di daerahnya yang akan dipamerkan memperingati sewindu jumenengan penguasa tradisional setempat. Celeng itu simbol. Pelukis tak menghendaki karyanya hanya menjadi cerminan bagi penguasa setempat. Dipilih gambar celeng agar menjadi cermin bagi segala keburukan orang-orang yang memiliki kekuasaan.

“Celeng dalam lukisan bukanlah celeng biasa, tapi celeng jadi-jadian. Karena itu kendati besar bagai raksasa, kendati badannya kelewat bulat dan tambun karena keserakahannya bertahun-tahun, celeng itu hanyalah seorang manusia,… (hlm 37).” Rasanya tidak pantas jika manusia—dalam hal ini penguasa—justru membuat keresahan bagi manusia lainnya. Maka, celeng jadi-jadian mesti ditangkap.

Di karya lain, pelukis menggambarkan seekor celeng raksasa tak berdaya. Kaki-kakinya dijungkir dan diikat pada sebatang bambu. Mulutnya dibekap dengan tali. Celeng raksasa yang tertangkap itu digotong dua pria yang menderita busung lapar. Meski celeng sudah ditangkap, pelukis memilih memberi judul “Berburu Celeng”.

Hal itu menandakan “proses” perburuan tak boleh berakhir hanya karena satu celeng sudah tertangkap. Rakyat, yang disimbolkan dengan dua lelaki busung lapar, harus terus waspada kemunculan celeng-celeng lain. Sebab sesungguhnya dunia sudah dipenuhi hawa celeng.

Gagasan pelukis tampak seperti ramalan. Kasus korupsi yang menjangkiti negerinya seakan tak mengenal titik henti. “Hama celeng benar-benar sudah mewabah. Di sebuah kota, wali kotanya tertangkap karena korupsi. Lalu menyusul wakil-wakil rakyatnya, tidak hanya satu dua, tapi dari seluruh lembaga perwakilan rakyat itu, hanya empat tersisa, yang tidak diadili karena korupsi.

Gedung Perwakilan Rakyat jadi tanpa penghuni (hlm 163). Sekali lagi, hama celeng benar-benar sudah mewabah. Si pelukis pun “harus menerima dan mengakui, sampai tua pun tetap tidak bisa mengalahkan celeng!”

Ingat pelukis celeng, ingat Djokopekik. Hal inilah yang tampaknya juga dirasakan Sindhunata. Sewaktu menulis novel Menyusu Celeng (2019), imajinasi Sindhunata menyatroni sosok Djokopekik, pria asal Yogya yang termasyhur lantaran lukisan-lukisan celengnya. Di halaman awal novel, Sindhunata mengaku, “Terima kasih khususnya pada Djokopekik yang membiarkan dirinya menjadi inspirasi dan imajinasi bagi cerita tentang celeng ini (hlm 5).”

Pengakuan itu berisiko membuat pembaca jadi mengait-kaitkan tokoh dalam novel dengan biografi Djokopekik. Apalagi novel ini juga diawali dengan narasi-deskripsi lukisan-lukisan yang mirip dengan ciri-ciri karya Djokopekik. Sindhunata menyadari risiko itu sepenuhnya sebagaimana dituangkan dalam puisi, “Hanya di sini nama Djokopekik disebut/ lebih lanjut namanya akan tersaput/ oleh imajinasi yang tak takut/ menantang halimun kabut” (hlm 21).

Novel Menyusu Celeng tak bisa dipahami dengan mengartikannya secara denotatif: minum air susu celeng. Lebih dari itu, Menyusu Celeng mengajak pembaca ngangsu kawruh, menimba pelajaran hidup dari mitologi celeng, manusia celeng, celeng jadi-jadian, dan lukisan celeng. Novel memakai gaya ex negativo, dengan menampilkan kebohongan, suatu kebenaran bisa terlihat. Melalui penampilan yang buruk, kebaikan akan terlihat, layaknya gemerlap intan di antara pasir hitam. Diresensi Hanputro Widyono, Mahasiswa Sastra Indonesia UNS

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment