Koran Jakarta | May 19 2019
No Comments
Antisipasi Bencana

Geografi Direkomendasikan Kembali ke Kurikulum

Geografi Direkomendasikan Kembali ke Kurikulum

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

YOGYAKARTA - Komunitas Geografi merekomendasikan kembalinya mata pelajaran geografi seperti pada kuri­kulum 1994 yang diajarkan dari sekolah dasar hingga mene­ngah. Hal penting dilakukan untuk memberi kesadaran ke­pada masyarakat tentang ben­cana alam.

Rekomendasi tersebut me­ngemuka dalam Lokakarya Nasional Geografi dan Pendi­dikan Kebencanaan yang di­selenggarakan Forum Pimpin­an Perguruan Tinggi Bidang Geografi (Forpimgeo), Ikatan Geograf Indonesia (IGI) dan Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM), di Yogya­karta, Kamis (10/1).

Kegiatan tersebut dihadiri puluhan peserta dari 16 per­guruan tinggi di Indonesia serta perwakilan guru TK, SD, SMP, dan SMA di beberapa daerah.

Ketua IGI, Hartono, me­nyampaikan pendidikan ke­bencanaan kepada masyara­kat di Indonesia saat ini secara sistematis belum menyentuh setiap penduduk. Upaya untuk menyentuh seluruh individu, dapat dilakukan melalui jalur pendidikan formal.

Sayangnya, menurut dia, saat ini kurikulum pendidikan dasar dan menengah belum banyak memuat pendidikan ke­bencanaan. Sementara di ting­kat SMA, pendidikan geografi belum diberikan kepada se­mua siswa. Hanya kelas IPS saja yang mendapatkan pelajaran geografi yang di dalamnya ter­dapat materi kebencanaan.

Hal ini berbeda dengan kondisi pendidikan di 11 nega­ra maju di dunia, seperti Ing­gris, Amerika Serikat, Kanada, Jepang, Australia, Finlandia, Prancis, Hungaria, Belanda, Selandia Baru, dan Singapura. Negara-negara tersebut meng­ajarkan wajib materi geografi dan sejarah masing-masing negara sebagai dasar wawasan setiap negara.

“Padahal Indonesia nega­ra yang rawan bencana karena berada dalam posisi geografis ring of fire dunia,” kata Hartono.

Badan Nasional Penanggu­langan Bencana (BNPB) 2018 mencatat jumlah kejadian ben­cana sebanyak 1.999 kejadian dengan korban jiwa terbanyak sejak 2007. Sementara tahun 2019 Indonesia diprediksi akan mengalami kejadian bencana hingga 2.500 kejadian.

Menurut Hartono, upaya meminimalisir korban jiwa dan kerugian negara harus menjadi fokus utama pemerintah. Hal tersebut dapat dilakukan de­ngan meningkatkan kapsitas masyarakat dan menurunkan kerentanan.

Karena itu, kata dia, strategi efektif dapat dilakukan melalui pendidikan kebencanaan ter­hadap generasi muda. “Solusi­nya mewajibkan mata pelajaran geografi pada pendidikan dasar dan menegah seperti pada kuri­kulum 1994,” tegas Hartono.

Hartono menyampaikan pada tingkat SD pendidikan kebencanaan bisa dimasukkan dalam tema lingkungan dan alam sekitar. Sedangkan tingkat SMP, dapat dimasukkan ke da­lam mata pelajaran IPS. Semen­tara mata pelajaran geografi di SMA telah mengajarkan pendi­dikan kebencanaan dan miti­gasi bencana. “Perbedaaanya terletak pada pemahaman pro­ses mitigasi dan tanggap daru­rat bencana,” katanya.

Tidak hanya itu, pelajaran geografi perlu dimasukkan pada pendidikan dasar dan menengah perlu dilakukan karena adanya dukungan SDM guru geografi yang telah dibekali materi kebencanaan baik saat di perguruan tinggi. “Materi pendidikan kebenca­naan bukan hanya bencana alam, tetapi juga bencana so­sial harus menjadi bagian dari misi besar tentang materi wa­wasan nusantara melalui mata pelajaran geografi Indonesia,” pungkasnya.

Menyambut Baik

Sementara itu, Dirjen Riset dan Pengembangan Ke­menristek Dikti, Muhammad Dimyati, menyambut baik upaya yang dilakukan oleh ko­munitas geografi di Indoensia yang telah menyusun policy brief untuk menjadikan pela­jaran geografi sebagai roh pen­didikan kebencanaan.

Policy brief ini akan bagus jika disampaikan ke pembuat kebijakan dan bisa menjadi sebuah kebijakan nasional,” tuturnya. YK/E-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment