Koran Jakarta | December 15 2017
No Comments

Generasi Anak dengan Tiga Ortu Telah Lahir

Generasi Anak dengan Tiga Ortu Telah Lahir

Foto : KORAN JAKARTA/ONES
A   A   A   Pengaturan Font

Beberapa jam lagi, tahun 2016 ini berakhir. Dan tak kembali. Lalu tahun baru datang dengan berbagai harapan—bahkan kalau harapan itu seperti tahuin- tahun sebelumnya, dan tak mengubah apapun. Dan tahun yang berlalu diberi catatan. Peristiwa terpenting apa menandai tahun ini.

Kita bisa menandai peristiwa bersama, atau sangat pribadi. Atau dua-duanya membaur. Dan menyoba memberi kesimpulan. Gejala “Tolelot Oom Tolelot” misalnya cukup menghibur dan mengingatkan bahwa bahagia itu sederhana. Juga ketika membahagiakan orang lain. Bisa juga peristiwa bom, yang nyaris dan seakan tak habishabis. Atau ujaran kebencian. Saya lebih memakai istilah ini dibandingkan , misalnmya ini soal pilkada, atau penistaan , atau kesatuan. Unsur kebencian yang lebih dominan.

Kita bisa menandai peristiwa yang manapun. Saya memilih peristiwa yang tak begitu dibuatkan “breaking news”. Bahkan seakan diabaikan. Yaitu peristiwa kelahiran bayi di penghujung tahun ini. Bayi biasa, kelahiran biasa. Namun prosesnya tidak biasa. Karena bayi ini, yang tidak disebutkan namanya, lahir dari tiga orang tua. Sperma bapak, indung telor dari ibu, dan satu lagi indung telor dari pendonor. Dengan bahasa sederhana, ada tiga orang tua yang terlibat di sini. Dengan menggabungkan DNA, yang agak rumit.

Upaya ini dilakukan karena adanya benih yang tidak sehat. Leight Syndrome adalah istilah di mana ketidakmampuan tubuh atau mental pada bayi. Satu dari 40.000 bayi menderita syndrome ini. Paling lama bayi hanya bertahan hidup dalam 2 bulan. Atau 4 tahun. Salah satu yang mengerikan, gejala penyakit ini konon bayi itu tak sanggup untuk bernapas.

Ada pasangan pasien yang menderita ini. Sang istri 4 kali keguguran, dan dua anaknya yang lahir tak berusia lama. Lama diadakan penelitian, dan ini bisa diatasi dengan melibatkan orang ketiga. Masalahnya selama ini etika tidak mengijinkan hal ini dilakukan. Bahkan ketika dilakukan percobaan pun harus mlipir ke negeri lain, karena Amerika Serikat tidak mengizinkan. .

Pergilah ke Meksiko, dan petualangan demi petualangan dimulai. Banyak pertentangan, terutama karena rekayasa genetika ini, kalau diterus-teruskan, mengubah peta dan etika sekarang ini. Bagaimana seorang bayi lahir dari ketika orang tua? Bagaimana hukumnya? Bahkan persoalannya lebih jauh lagi. Kemungkinan besar nanti akan dilahjirkan bayi dengan banyak orang tua. Bukan hanya untuk mengatasi kelemahan, atau penyakit, melainklan… ingin bayinya lahir berhidung mancung, atau rambut pirang, atau mata biru, atau bisa “majumundur cantik”, atau apa saja yang dikehendaki. Pada titik itulah takdir atau istilah yang seperti itu menemukan bentukan yang lain. Manusia dianggap bisa “menciptakan” manusia, sesuai dengan yang dikehendaki.

Konsekuensi terakhir inilah yang membuat banyak Negara tidak memberi izin percobaan “rekayasa genetika”. Banyak sekali Negara menolak eksprimen semacam itu, karena belum tahu pasti bagaimana hasil akhirnya. Namun anehnya selalu ada alasan yang terdengar baik bagi kehidupan—mencaiptakan bayi yang sehat. Dan seratus Negara menolak, kalau ada satu Negara yang mengizinkan kemungkinan itu terjadi.

Dibandingkan dengan penemuanpenemuan llain, bahkan misalnya adanya kehidupan di planet Mars sekalipun, , bayi berorang tua banyak, yang dilahirkan, atau diciptakan di laboratorium, barang kali paling berpengaruh mengubah cara kita memahami hidup. Barang kali ke a rah yang lebih baik. Walau ini sebatas harapan. Harapan yang selalu nyata di aklhir tahun.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment