Gaya Minimalis Bikin Hidup Lebih Manis | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 9 2019
No Comments

Gaya Minimalis Bikin Hidup Lebih Manis

Gaya Minimalis Bikin Hidup Lebih Manis

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Mari pikirkan tentang besarnya energi untuk suatu barang mulai dari rencana memilikinya, membaca ulasan, mencari diskon, hingga membelinya. Perawatan beberapa barang bahkan menyita waktu akhir pekan. Ketika merasa bosan, akan mencari barang baru. Siklus ini terus terulang.

Semakin banyak barang, semakin banyak tenaga yang dibutuhkan. Jika merasa lelah dan selalu kekurangan waktu, bisa jadi barang-barang itulah penyebabnya. Coba cek lagi barang-barang di rumah. Berapa banyak barang yang menanti untuk dipakai, tapi ternyata tidak pernah dipakai? Berapa banyak barang yang menyebabkan kesan sesak dan semerawut? Jika cukup banyak, inilah saatnya berbenah dengan menerapkan gaya hidup minimalis.

Secara garis besar, gaya hidup minimalis menuntun orang untuk memastikan semua barang yang dimiliki memang berguna. Kemudian, menjaga barang berada di tempatnya dan dalam keadaan siap digunakan. Semua itu bisa dimulai dengan membenahi cara pandang tentang barang. Tentu tidak mudah menjadi orang yang minimalis di dunia media massa. Iklan-iklan menghujani tanpa henti, menyampaikan bahwa sukses diukur dari barang yang kita miliki.

Seolah-olah semakin banyak barang, maka akan tambah bahagia. Padahal, semakin banyak barang, tambah repotlah orang, dan banyak pula utang (hal 11). Sebagai latihan untuk mengurangi barang, bayangkan bahwa akan pindah ke negara lain. Kepindahan ini bersifat permanen sehingga harus memilih barang yang benar-benar penting. Ini melatih untuk lebih selektif memilih barang. Kalau suatu barang tidak akan dibawa pergi dan gunakan, maka sebaiknya barang itu dikeluarkan dari rumah. Buku ini juga membahas teknik menjaga kerapian rumah. Salah satunya dengan menerapkan peraturan bahwa permukaan datar bukanlah tempat menyimpan sembarang barang. Secara alamiah, permukaan datar bersifat “lengket”.

Begitu ada satu barang di situ, biasanya barang itu tetap di sana selama berharihari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Setelah itu akan menyusul barang-barang lainnya. Permukaan yang mulanya rata dan halus berubah menjadi permukaan naik turun yang dibentuk oleh berbagai barang yang “terjebak” di sana (hal 71).

Menurut Francine Jay, gaya hidup minimalis mendatangkan banyak keuntungan. Orang yang menjalankannya akan memiliki ruang untuk berkreasi dan merasa bahagia. Mereka punya kesempatan lebih banyak untuk berinteraksi dengan anggota keluarga dan masyarakat. Selain itu, ada hal-hal luar biasa yang timbul dengan menjadi minimalis.

Setiap kali menahan diri untuk tidak membeli sesuatu hanya karena iseng dan memutuskan menggunakan barang yang sudah ada, berarti memberikan sumbangsih pada bumi. Udara menjadi sedikit lebih bersih, air sedikit lebih jernih, hutan sedikit lebih lebat, dan lahan-lahan pembuangan sampah sedikit lebih kosong (hal 239). Semakin banyak orang yang menerapkan gaya hidup minimalis, maka semakin manis kehidupan di bumi ini.

Diresensi Dedi Setiawan, Mahasiswa Magister Teknik Industri Telkom University, Bandung

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment