Koran Jakarta | July 19 2019
No Comments
Pengamat Politik Universitas Al-Azhar Indonesia, Ujang Komarudin, soal Politisi dan Narkoba

Gaya Hidup Politisi Rentan terhadap Sirkulasi Narkoba

Gaya Hidup Politisi Rentan terhadap Sirkulasi Narkoba

Foto : ISTIMEWA
Ujang Komarudin
A   A   A   Pengaturan Font
Publik kembali dikejutkan dengan tertangkapnya Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Partai Demokrat, Andi Arief, di Hotel Peninsula Jakarta, Senin lalu, terkait dengan penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba) jenis sabu. Kejadian tersebut jelas menambah rentetan panjang terkait politikus yang terseret kasus narkoba.

Publik figur di Indonesia, baik politikus maupun para artis, memang terjebak pada pola gaya hidup yang memungkinkan untuk mengonsumsi barang haram tersebut. Sedangkan menurut Badan Narkotika Nasional (BNN), sebanyak 40 orang di Indonesia mati setiap hari akibat dari penyalahgunaan narkoba.

Untuk mengupas hal tersebu, Koran Jakarta mewawancarai Pengamat Politik Universitas Al Azhar Indonesia, Ujang Komarudin, di Jakarta, Rabu (6/3). Berikut hasil pembahasannya.

Bagaimana pendapat Anda mengenai kasus narkoba yang menjangkit politisi?

Yang pasti, narkoba itu musuh negara. Jadi tidak pandang bulu, bukan hanya artis, tidak hanya orang miskin, bukan hanya politisi, bahkan anak-anak terpelajar dan remaja sekarang banyak yang terlibat narkoba. Ketika kita melihat politisi yang terjerat, ini merupakan sebuah indikasi bahwa narkoba itu peredaran dan jaringannya sudah sangat luas. Tentu bandar narkoba memiliki target orang-orang besar, yaitu orang yang berpengaruh dan memiliki banyak uang.

Bukankah ini menjadi keprihatinan bangsa?

Sesungguhnya di luar itu semua yang ingin saya katakan adalah prihatin mengapa politisi yang merupakan calon negarawan, malah rusak terjerat narkoba. Berarti, ada sesuatu yang salah dalam konteks pemberantasan narkoba di Indonesia. Nah, ini bisa menjadi evaluasi bersama jika selama ini ada yang kendor terhadap gerakan pemberantasan narkoba, harus ditingkatkan lagi.

Menurut Anda, mengapa politisi bisa sampai terjerat narkoba?

Kalau menurut saya, itu gaya hidup. Gaya hidup politisi kan biasanya tinggi, karena banyak uang, suka mewah-mewahan, banyak pejabat yang masuk karaoke, diskotik, minum-minum, hingga memasuki wilayah-wilayah “gelap” sampai terjebak ke narkoba. Tempat-tempat “gelap” yang sering didatangi elite politik tersebut yang mempertemukan mereka terhadap barang-barang haram tersebut. Gaya hidup yang tinggi itulah yang membuat politisi rentan terhadap sirkulasi narkoba, walaupun tidak semua politisi memiliki gaya hidup tinggi.

Berarti, lingkungan di sekitar politisi yang membuat gaya hidup seperti itu?

Betul itu. Saya pernah menjadi pejabat satu tahun, pernah jadi elite, dan pernah diajak yang seperti itu, tetapi saya tidak mau. Standardisasi ketika kita punya posisi dalam pergaulan elite, mau tak mau standarnya harus sama. Nah, itulah yang akhirnya membuat beberapa politisi masuk ke tempattempat “gelap” dan akhirnya bersentuhan dengan narkoba.

Lalu, dampaknya ke publik seperti apa?

Menurut saya, tentu masyarakat menjadi lebih apatis. Selama ini kan politisi diharapkan bisa menyalurkan aspirasi masyarakat, bisa memperjuangkan aspirasi masyarakat. Jadi, harapan masyarakat bahwa politisi mampu menjadi jembatan aspirasi kepada pemerintah menjadi berkurang, sebab yang diharapkan terjebak dengan melakukan tindak pidana. Ini persoalan karena politisi bagaimanapun juga merupakan elite, dia panutan bagi masyarakat, sehingga ketika dia terkena kasus maka akan memiliki dampak pemberitaan yang negatif di masyarakat.

Kemudian, pandangan Anda mengenai rehabilitasi yang diberikan kepolisian?

Kita kembalikan lagi ke kepolisian karena mereka yang melakukan assessment. Mereka yang tahu dari proses awal sampai penangkapan itu. Oleh karena itu, lakukan saja secara objektif dan proporsional. Nah, ini menjadi pembelajaran juga bagi politisi yang lain agar jangan sampai mendekati apalagi terlibat dalam penyalahgunaan narkoba. 

 

trisno juliantoro/AR-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment