Koran Jakarta | October 21 2019
No Comments
“Streetwear”

Gaya Busana yang Terinspirasi Musik Hip Hop

Gaya Busana yang Terinspirasi Musik Hip Hop

Foto : dok. Paul Frank indonesia
A   A   A   Pengaturan Font

Streetwear, salah satu gaya pakaian yang terinspirasi dari musik hiphop semakin hari semakin populer. Tidak sedikit juga local brand Indonesia bahkan memilih gaya busana streetwear sebagai lini pakaian yang mereka luncurkan.

Sebuah survei terbaru yang dilakukan pada pengguna pakaian streetwear mengata­kan pengaruh influencer khususnya di sosial media sa­ngat berlebihan. Hanya satu per tiga dari influencer dunia maya itu yang dapat menjadi inspirasi mereka pada gaya busana ini. Kebanyakan me­reka memilih untuk meng­ikuti para pelaku industri fesyen ataupun musisi.

Namun, pada survei kedua dari orang-orang yang bekerja di industri fesyen streetwear, mayoritas responden me­ngatakan mereka menghabis­kan satu per empat ataupun tiga per empat pengeluaran marketing mereka pada influ­encer. Survei yang dilakukan Streetwear Impact Report ini didapatkan dari hampir 41 ribu responden guna menganalisis dan mendapat­kan pandangan mengenai bagaimana dan kenapa orang-orang membeli streetwear.

Angelo Bague, mantan Brand Director dari Su­preme yang mungkin brand streetwear terbesar di dunia, mengatakan istilah streetwear sudah muncul sebelum 2010. Ketika brand ini lebih meng­arah ke rapper, peselancar, seniman grafiti serta pemain skateboard hingga akhirnya dilirik industri fesyen. “Se­belumnya itu adalah urban-wear, yang mana merupakan cara untuk mengatakan paka­ian yang dikenakan berwarna hitam dan dikenakan orang Puerto Rico,” kata Baque.

Di akhir 1980an dan awal 1990an, brand fesyen mandiri mulai berkembang. Mulai daerah West Coast, di mana ada brand peselancar dan skate seperti Stussy dan Freshjive dan brand hiphop X-Large dan Cross Colours. Sementara di East Coast, ada Triple Five Soul, Ecko Un­limited, Supreme dan brand lainnya.

Streetwear, menurut Baque telah mencapai babak ke sepu­luh. Bagaimana sosial media dapat membuat masyarakat tersadar akan adanya gaya ini, dan juga internet yang menetaskan banyak grup rap, sehingga tidak mengherankan kalau streetwear menjadi gaya yang mainstream.

“Di awal 90-an, kita semua terpaku pada subkultur. Semis­alnya, skateboard dan grafiti atau punk rock. Dibanding­kan brand sekarang, mereka tidak terpaku pada subkultur tertentu. Mereka muncul dari mana saja,” kata Erik Brunetti, desainer dari FUCT. gma/R-1

Gaya yang Lebih Individual

Pengaruh streetwear terjadi di mana saja, ter­masuk mewabah pada brand Paul Frank. Awalnya brand ini lebih menargetkan pada perempuan muda de­ngan koleksinya yang cende­rung menampilkan pakaian yang childish dan feminim. Untuk terus mengikuti tren pa­sar, Paul Frank pun mengubah konsep toko mereka menjadi lebih modern.

Mereka saat ini fokus mengembangkan produk ke arah gaya streetwear dan mengubah konsep gerai mereka menjadi lebih mod­ern dan kekinian. Termasuk menghadirkan gimmik berupa spot yang sangat cocok untuk diunggah di sosial media dan layanan Do It Yourself.

“Kami ingin pelanggan merasakan pengalaman baru saat berbelanja di gerai kami. Kuncinya adalah bagaimana caranya meningkatkan keterli­batan pelanggan saat berbe­lanja dengan menghadirkan berbagai aktivitas menarik yang relevan dengan tren se­karang serta sesuai kebiasaan pelanggan,” cerita Tiara Nur­malita Dewi, Brand Manager Paul Frank Indonesia.

Tiara menambahkan generasi milenial saat ini sangat menyukai sesuatu yang terlihat modern, simpel dengan tidak terlalu banyak warna atau corak yang biasanya merujuk ke gaya streetwear. Dengan begitu, adanya Do It Yourself di gerai mereka sangat mem­bantu para milenial ini untuk mendapatkan pakaian kos­tumisasi sendiri yang sesuai gaya dan keinginan mereka.

Kehadiran layanan Do It Yourself ini bisa menjadi ja­waban bagi pelanggan yang in­gin mengekspresikan kreativi­tas mereka. Pelanggan bisa menambahkan stiker desain gambar Paul Frank pada kaus mereka dengan mengguna­kan heat press machine dalam waktu yang sangat singkat.

“Di era yang instan dan mass production ini, tidak da­pat dipungkiri bahwa kebutuh­an akan personalized products semakin meningkat. Hal tersebut erat kaitannya dengan identitas diri dan kreativitas kita sebagai individu. Tidak ada cara yang lebih baik dalam mempersonalisasi barang-barang kita selain dengan melakukannya sendiri,” tam­bah Tiara.  gma/R-1

Di Balik Model Pakaian Kebesaran

Gaya streetwear me­mang masih didomi­nasi generasi milenial, namun bukan berarti hanya bisa dikenakan anak muda saja. Itu karena kebanyakan pakaian streetwear memiliki potongan simpel, modern dengan warna dan corak yang tidak terlalu banyak.

Lantas, bagaimana caranya agar terlihat bergaya streetwear? Mudah saja, menu­rut Tiara biasanya produk pakaian streetwear cenderung kebesaran dengan potongan bahu yang lebih turun diban­dingkan baju biasanya. “Kalau gaya produknya drop shoulder, atau potongan bahu lebih ke ba­wah lagi dengan sizing yang lebih besar,” katanya.

Sementara produk yang paling banyak dikenakan adalah hoodie dan sweatsize dengan ukuran besar pastinya. Pakaian yang biasanya dike­nakan beruku­ran M, untuk mendapat­kan kesan streetwear dan rebel, penggu­nanya memakai pakaian berukuran L atau malah XL. Untuk menambah­kan kesan, bisa pula ditambah aksesoris seperti topi.

Namun ternyata pakaian kebesaran bisa menimbulkan kesan berbeda pada pemakainya. Semisal­nya pakaian berbahu lebar. Ternyata pakaian berbahu lebar mem­perkuat bentuk tubuh superhero-esque atau tubuh ala pahlawan super yang merupa­kan cita-cita publik.

Sehingga pakaian itu dirancang agar bisa terli­hat kuat dan mengesankan. Pertama kali tren ini muncul sekitar 1980-an. Bertepatan dengan munculnya gym dan pandangan baru mengenai super-berotot dari tubuh laki-laki.

Selain itu, ternyata ada manfaat nyata untuk menge­nakan pakaian besar. Untuk satu hal, mereka memungkin­kan lebih banyak pergerakan dan sirkulasi udara. Artinya, dalam berbagai situasi, me­reka berada pada posisi yang jauh lebih nyaman diban­dingkan mereka yang menge­nakan pakaian ketat.

Secara estetika, mereka mengirimkan sinyal untuk tidak terlalu banyak berbi­cara mengenai gaya pakaian mereka dan mengirimkan sinyal bahwa percaya diri akan busana yang dikenakan­nya. Gaya berbusana tidak hanya membicarakan me­ngenai estetika berpakaian karena yang paling penting adalah kenyamanan dalam berbusana.  gma/R-1

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment