Koran Jakarta | December 19 2018
No Comments
Invitation to the Dance

Gaung Musik Klasik dari Zaman Baroque

Gaung Musik Klasik dari Zaman Baroque

Foto : dok. Invitation to the Dance
Avip Priatna (hadap belakang) tengah memimpin orkestra The Resonanz Music Studio dalam pergelaran Invitation to the Dance di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Kamis (1/2). Invitation to the Dance menampilkan Isyana Sarasvati dan Jonathan Kuo, pianis muda berbakat.
A   A   A   Pengaturan Font

Awal 2018 The Resonanz Music Studio (TRMS) pimpinan Avip Priatna kembali menunjukkan konsistensinya untuk mengisi dan memajukan musik klasik orkestra di Indonesia.  Melalui pertunjukan berkualitas bersama dengan Jakarta Concert Orchestra (JCO), Avip Priatna menggelar konser pembuka bertajuk Invitation to the Dance yang di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Kamis (1/2). Invitation to the Dance merupakan komposisi untuk orkestra yang ditulis komponis Jerman, Carl Maria von Weber yang menjadi salah satu komposisi pada pertunjukan yang dimainkan sekitar 55 musisi profesional.

Jonathan Kuo, pianis muda berbakat Indonesia dan Isyana Sarasvati turut memeriahkan pertunjukan ini. “Sebagai salah satu konduktor yang aktif di Indonesia, Avip Priatna senantiasa menghadirkan pertunjukan musik klasik dalam upaya mendekatkan masyarakat dan memajukan musik klasik orkestra di Indonesia,” ujar Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation, yang menjadi pendukung pergelaran tersebut.

Para musisi ini menyuguhkan penampilan dari berbagai karya komposer dunia yang bertema musik tarian, mulai dari tarian waltz yang menenangkan dari Johann Strauss II, yang berkolaborasi dengan suara indah Isyana Sarasvati hingga tarian kematian karya Franz Liszt yang sukses dibawakan iringan piano Jonathan Kuo. Terdapat pula tampilan tarian dengan inspirasi kedaerahan Norwegian Dances milik Edvarg Grieg dan Panen Raya oleh Fero Aldiansya Stefanus, sebuah karya inspirasi musik daerah Indonesia yang khusus ditulis untuk pagelaran konser ini.

Avip Priatna menambahkan ia ingin mempersembahkan penampilan baru khususnya untuk pecinta musik klasik di Jakarta dan mengusung tema tarian. “Karena musik klasik selalu terinspirasi dari tarian, dari zaman Barok (baroque) sampai sekarang,” tuturnya.

Dengan konser ini pun ia ingin agar para penikmat musik dapat melihat bahwa para musisi Indonesia berbakat dan mampu memainkan komposisi musik klasik dunia. Ada sembilan lagu yang dimainkan di bawah arahan Avip Priatna, yaitu Spanish Dance No.1 milik Manuel de Falla, Invitation to the Dance Carl Maria von Weber, Pavane Gabriel Fauré, Panen Raya Fero Aldiansya Stefanus, Totentanz Franz Liszt, Norwegian Dances Op 35 Edvard Hagerup Grieg, Les Filles de Cadix Léo Delibes, Frühlingsstimmen Walzer Op 410 Johann Strauss, dan Danse Bacchanale Camille Saint Saëns. “Melalui konser Invitation to the Dance ini, saya ingin menunjukkan bahwa kita memiliki orkestra yang terdiri dari para musisi berbakat yang mampu menampilkan karya komposer dunia,” ujar Avip.

Seperti Pulang ke Rumah

Isyana Sarasvati, salah satu penyanyi Indonesia yang terkenal dengan musik pop dan suara khas, sukses dengan penampilan memukau dalam pertunjukan orkestra JCO.

Sebagai soprano, Isyana mampu meraih nada-nada tinggi tanpa kesulitan. Ketimbang memikirkan kesulitan dalam menyanyikan lagu klasik tersebut, ia mengaku lebih merasa gembira. “Lebih excites ketimbang memikirkan kesulitan nanti stres sendiri,” ungkapnya.

Isyana menambahkan ia merasa senang karena mendapat kesempatan untuk menyanyikan musik klasik kembali, karena sebelum menjadi penyanyi pop seperti saat ini, ia lebih dahulu belajar musik klasik.

“Saya senang karena dapat kesempatan untuk menyanyikan musik klasik, karena seperti pulang ke rumah. Kan saya berawal dari sini,” ungkapnya seusai konser.

Dalam peetunjukan tersebut, Isyana menyanyikan dua lagu klasik yaitu Les Filles de Cadix karya Léo Delibes dan Frühlingsstimmen - Walzer, Op 410 milik Johann Strauss II, di mana Johann Strauss merupakan salah satu komposer kesukaannya.

Dalam menentukan kedua lagu ini, Avip Priatna sempat berdiskusi untuk mencari lagu yang cocok untuk Isyana. “Diskusi dengan Isyana yang iramanya cocok dengan tarian. Yang satu bolero dan satunya lagi waltz,” ujar Avip.

Dalam balutan gaun putih, Isyana menampilkan Le Filles de Cadix atau dalam bahasa Indonesia berarti Gadis Cadix yang menceritakan sebuah obsesi Prancis kala itu terhadap pemandangan dan suara eksotis, terutama musik dan tarian dari Spanyol.

Cadix merupakan kota yang berbatasan dengan Spanyol bagian barat yang menghadap Maroko dan samudra Atlantik. Pada lagu ini eksotisme kota tersebut ditunjukkan dengan ritme bolero dan melodi yang menggoda.

Sementara pada komposisi Frühlingsstimmen Walzer atau Waltz Suara Musim Semi, menggambarkan keceriaan musim semi dengan solo Sopran Isyana yang memberikan kesan melodi yang luas. Ada beberapa bagian yang menceritakan keceriaan menyambut musim semi yang hangat dan kesedihan saat terjadi hujan di musim semi.

Tercipta dari Tarian

Salah satu komposisi musik yang dibawakan dalam konser Invitation to the Dance adalah Panen Raya, sebuah komposisi dari musisi muda Indonesia, Fero Aldiansya Stefanus. Komposisi yang sajikan dalam pertunjukan tersebut merupakan penampilan perdana. Di mana lagu Panen Raya adalah lagu khusus yang diciptakan untuk konser ini.

“Sengaja ingin komposer muda Indonesia untuk membuat karya baru yang irama lagunya terinspirasi dari tarian. Karena tarian di Indonesia banyak banget padahal,” ujar Avip.

Tarian dipilih karena Avip meyakini bahwa musik, terlebih musik klasik, banyak terinspirasi dari tarian. Selain itu ia juga ingin mengenalkan kepada para pecinta musik klasik bahwa inilah musikmusik klasik yang tercipta dari tarian. Kemudian terbentuklah komposisi Panen Raya yang menggambarkan budaya Indonesia saat menyambut musim panen dengan sebuah perayaan dan bersyukur yang biasanya juga dilakukan dengan tarian dan nyanyian. “Judulnya Panen Raya karena kalau panen kita merasa senang dan menari,” imbuh Avip.

Dalam pertunjukan kali ini Avip juga menambahkan bahwa tidak begitu merasa kesulitan saat menampilkan performanya di atas panggung dengan mengarahkan sekitar 55 musisi profesional Indonesia dalam JCO.

“Menyamakan persepsi yang ada di dalam komposisi itu kesulitannya karena yang ada di dalam kepala musisi kan bedabeda,” ungkapnya. Meskipun terdengar sulit namun ia merasa senang karena musik tersebut bisa mencapai permainan yang sesuai dengan keinginannya. gma/R-1

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment