Koran Jakarta | August 20 2019
No Comments

Gangguan Tidur Bisa Jadi Mesin Pembunuh

Gangguan Tidur Bisa Jadi Mesin Pembunuh

Foto : istimewa
OSA bisa jadi pemicu komplikasi dengan penyakit jantung karena oksigen tidak bisa masuk. Komplikasi dengan diabetes karena terkait aliran darah yang terhambat.
A   A   A   Pengaturan Font

Indonesia menjadi negara dengan penderita obstructive sleep apnea (OSA) atau gangguan tidur di urutan kedua dunia setelah Ame­rika Serikat. Dokter Rimawati Ted­jasukmana melakukan riset bahwa di Jakarta ditemukan penderita OSA pria 16,18 persen dan wanita 17 per­sen. OSA adalah kondisi ketika napas berhenti karena alirannya terhambat 10–25 detik mengakibatkan otak tidak memperoleh asupan oksigen secara normal. Mendengkur atau mengorok adalah contoh OSA.

Mendengkur sesungguhnya tidak berbahaya jika tidak memotong ritmis pernapasan. Sebab dengan refleks yang bagus, ketika terjadi henti napas, respons tubuh akan segera memberi kode terbangun dan terbatuk. Sinyal ini mengisyaratkan oksigen masuk kembali normal ke kepala. Sebaliknya, jika tubuh tidak mampu merespons, napas akan berhenti selamanya. Inilah pemicu insiden fatal di mana gang­guan OSA menjadi mesin pembunuh.

OSA bisa jadi pemicu komplikasi dengan penyakit jantung karena oksigen tidak bisa masuk. Komplikasi dengan diabetes karena terkait aliran darah yang terhambat. Bahkan, kom­plikasi dengan gangguan fungsi hati hingga kecelakaan berujung kematian. Buku ini mengantisipasi dini OSA dengan empat pengendali primer: berapa lama tidur yang ideal, tidur yang sehat, mempersiapkan tidur, dan kebiasaan tidur teratur (hlm xx).

Buku mengutip rekomendasi terbaru untuk tolok ukur tidur ideal. National Sleep Foundation mengan­jurkan, usia 18–25 dan 26–64 tahun sebaiknya tidur 7–9 jam sehari. Untuk usia di atas 64 direkomendasi tidur 7–8 jam. Pada usia 18–64 tahun, jika me­mang tidak bisa tidur 7–9 jam sehari, usahakanlah tidur tidak kurang dari enam jam sehari (hlm 223).

Sebenarnya, tidur sehat menjadi sesuatu yang mahal untuk sebagian orang. Tidur membuat sel-sel mem­perbaiki diri agar badan siap kem­bali menghadapi aktivitas keesokan hari. Secara psikis, tidur yang baik akan mengurangi stres dan menjaga konsentrasi serta ketelitian. Tidur yang cukup memungkinkan proses memori berjalan baik, tetap terjaga saat aktivi­tas dan menjaga sistem kekebalan tubuh.

Hormon yang dilepaskan tubuh ketika tidur juga berfungsi mengatur nafsu makan. Biasanya orang ku­rang tidur lebih cen­derung makan lebih banyak (hlm 222). Tidur berkualitas dapat lebih mudah dilakukan jika mempersiapkan diri. Segelas susu hangat dapat membantu tidur lebih nyenyak dan nya­man. Tentu saja supaya tidak kele­bihan berat badan, pilihlah susu tanpa lemak dan gula. Hindari makan berat sebelum tidur. Jangan minum kopi ataupun teh.

Tidak berolahraga malam hari. Kenakanlah pakaian longgar, nya­man, serta tidak perlu mengenakan pakaian dalam, apalagi ketat. Matikan lampu. Ciptakan suasana ruangan lebih teduh. Usahakan suhu ruangan sejuk dan tidak terlalu panas. Milikilah kebiasaan tidur teratur karena sangat baik untuk siklus bioritmik tubuh.

Badan akan selalu terbiasa dengan siklus yang tetap dan mengeluarkan hormon sesuai dengan aktivitas. Tidur tidak teratur akan membuat jadwal pengeluaran hormon-hormon kacau dan sulit untuk beristirahat. Akibatnya, tidak saja mengantuk saat seharusnya terjaga, tetapi juga dapat mengakibatkan stress. Dalam jangka panjang membenihkan hiperten­si. Dengan tidur mema­tuhi jadwal keteraturan akan memudahkan tubuh dibawa terlelap karena selaras mengir­ingi irama tubuh.

Buku ini memberi solusi bahwa retensi tidur ideal akan mengendalikan dengkur atau ngorok de­rajat parah yang memicu gangguan jantung atau insiden fatal bagi penderita OSA. May­oritas masyarakat Indonesia belum mau mengerti, memahami, dan menyadari kalau OSA itu berbahaya. Penyakit atau gangguan ini dapat dicegah melalui modifikasi gaya hidup sehat.

Diresensi Yustina Windarni,

Alumna Politeknik API Yogyakarta

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment