Gairah dan Petualangan Peneliti Nias Selatan | Koran Jakarta
Koran Jakarta | September 20 2017
No Comments

Gairah dan Petualangan Peneliti Nias Selatan

Gairah dan Petualangan Peneliti Nias Selatan

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Tanah Para Pendekar

Penulis : Vanni Puccioni

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama 

Tahun : 2016

Halaman : 376 Halaman 

ISBN : 978-602-03-3164-5

Tahun 1886, seorang antropolog asal Florence, Italia, Elio Modigliani, petualang di daerah pemburu kepala manusia Nias Selatan. Cerita bermula dari keberhasilan Vanni Puccioni mendapat buku bagus dari pendeta di Nias yang ditulis Elio Modigliani berjudul Viaggio a Nias atau Perjalanan ke Pulau Nias (1890). Di masa penjajahan, Elio Modigliani minta izin Belanda agar menyediakan pengawal untuk ekspedisinya itu. 

Setelah semua peralatan lengkap, Elio berangkat mengarungi ancaman dan halangan menuju Nias paling selatan yang konon susah ditaklukkan Belanda. Berbekal berpeti-peti tembakau dan barang antik lainnya yang memungkinkan menarik suku-suku di Nias selatan, Elio menyeberangi sungai, menerobos hutan dengan ancaman hewan liar dan pemburu kepala manusia. 

Tahun 1886, Nias merupakan daerah cukup tradisional. Elio menuliskan betapa orang Nias begitu sederhana sehingga barang-barang dan aktivitas ekonominya hanya dilakukan dengan tangan manusia. Begitu pula soal medis, mereka hanya mengandalkan ere atau dukun pengobatan dengan penyembelihan babi. 

Elio menuturkan kebiasaan berburu kepala manusia di Nias. “Setiap laki-laki di desa mempunyai tujuan menjadi prajurit ganas, tanpa mempedulikan sifat aslinya. Untuk naik pangkat menjadi prajurit, mereka harus menghias osale, minimal dengan sebuah tengkorak yang dibunuhnya.” 

Inilah salah satu alasan perburuan kepala manusia. Alasan lain karena maskawin dalam pernikahan juga kepala manusia. “Tidak ada seorang laki-laki pun yang dapat melamar seorang perempuan tanpa membawa maskawin kepala manusia (hal 35).

Elio memang membawa senapan modern, tapi tanpa kemampuan menembak. Elio hanya mengandalkan kecerdasan dan kemampuan dalam menciptakan dialog konstruktif dengan suku Nias (hal 128). 

Selama perjalanan, dia ditemani anak buah dari Jawa yang pengalaman. Ada juga dari suku setempat yang menguasai bahasa pedalaman. Elio sendiri seorang keturunan bankir kaya raya sehingga orang tuanya mendorong penuh minatnya. 

Elio mengoleksi berbagai hewan mulai kupu-kupu, laba-laba, burung, dan ular. Semua diawetkan. Elio juga membawa kamera canggih, hingga mampu memotret burung. Kedatangannya bermula dari Bukit Titoli di Teluk Dalam berlanjut ke Bawolowalani, Hilizihono, Hilisimaetano, Kepulauan Hinako, hingga ke Gunung Lolomatua. Di setiap tempat, dia bertemu dengan raja suku setempat dan menawarkan bawaan terutama tembakau. Elio datang tak untuk menjajah. 

Elio berhasil membawa hasil ekspedisinya bukan tanpa halangan. Dia bahkan hampir kehabisan beras dan nyaris berkelahi dengan penduduk setempat. Dia meyakini dengan menjalin persaudaraan dan komunikasi yang baik berhasil menaklukkan rasa takut serta diterima raja-raja setempat. 

Gairah Elio Modigliani ini patut ditiru. Penting bagi peneliti untuk mengetahui dan mengenal betul objek setempat, seperti karakter penduduk dan latar belakang geografisnya. Sikap rendah hati dan penuh persahabatan menjadikannya dekat dengan objek sehingga tak dicurigai warga. 

Diresensi Arif Yudistira, lulusan UMS

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment