Koran Jakarta | December 19 2018
No Comments

Gagasan, Pencerahan, Kiat Inspiratif BJ Habibie

Gagasan, Pencerahan, Kiat Inspiratif BJ Habibie

Foto : A. Makmur Makka
A   A   A   Pengaturan Font
Diresensi oleh Kelvin Wijaya

 

Pada era milenial, generasi muda cenderung memiliki sikap yang materialistik ketimbang berorientasi pada teknologi. Remaja Indonesia lebih menekankan pada eksistensi citra dan mengesampingkan kerja nyata.

Pandangan ini dibenarkan, bila dilihat dan ditelaah secara subjektif. Hal ini dibuktikan dengan beralihnya minat remaja pada teknologi menuju politik dan media, sehingga teknologi yang ada tidak dapat dimanfaatkan, apalagi dikembangkan.

BJ Habibie dalam gagasannya mengatakan bahwa teknologi bukan merupakan wahana atau prasarana, melainkan kapital atau modal.

Modal bukan hanya terdiri atas uang, namun dari sumber daya alam, sumber daya manusia, dan teknologi. Indonesia harus mengedepankan teknologi dalam industri untuk menciptakan lapangan kerja, sehingga comparative dan competitive advantage dapat meningkat.

Karena peningkatan kedua aspek tersebut dapat menekan pengangguran dan meningkatkan nilai tambah. Kiat inspiratif BJ Habibie ditekankan pula pada unsur keindonesiaan.

Ia melihat dan menelaah, bahwa Indonesia memiliki paradoks atau berbagai permasalahan, diantaranya adalah kaya sumber daya alam namun miskin penghasilan, besar wilayahnya namun kerdil dalam produktivitas dan daya saingnya.

Situasi paradoksial tersebut terjadi seolah-olah kita menderita penyakit orientasi, yang melemahkan daya saing dan produktivitas bangsa. Maka diperlukan sebuah penyembuhan atau penyehatan orientasi, meski itu tidak akan cukup.

Setiap warga negara harus menyegarkan kembali nilai-nilai luhur pancasila, dan menyadari betapa besar resiko yang akan kita hadapi apabila paradoks tersebut dibiarkan berkembang.

Jadi, sebagai rakyat, baik generasi muda maupun orang tua, hendaknya melakukan koreksi terhadap permasalahan yang terjadi. Tidak hanya sekedar angan-angan, namun mampu diwujudkan dalam kerja yang nyata dan mengesampingkan ego pribadi.

Tentu saja sebuah bangsa yang besar dan beradab tidak cukup apabila hanya mengedepankan teknologi dalam industri maupun semangat nasionalisme untuk memberantas paradoks. Namun dari semuanya itu diperlukan iman dan takwa pada Tuhan sebagai penyeimbang dan pemrakarsa kehidupan.

Munculnya berbagai tindak anarkisme negatif maupun terorisme membuktikan bahwa keindonesiaan tidak disertai iman dan takwa. Dalam konteks keislaman B.J Habibie mengatakan, bahwa orang bisa harmonis dengan masyarakat, harmonis dengan Tuhannya, maka akan terjadi keseimbangan hidup.

Mempelajari agama tidak boleh setengah- setengah, namun benar-benar mendalami serta memahami apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Sebab baginya islam merupakan agama toleransi terhadap orang-orang yang berilmu.

Keislaman tidak menghambat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Buku ini juga berisi pandangan orang lain terhadap B.J Habibie.

Kiatkiat inspiratif dan gagasan-gagasannya yang berorientasi pada berbagai topik atau tema, antara lain teknologi, keindonesiaan, Industrialisasi, IPTEK, maupun cinta, adalah cita-citanya yang sudah dirangkum begitu apik oleh Makmur Makka. BJ Habibie merupakan ilmuan multidimensional dan bernuansa global.

Kepakaranya dalam kedirgantaraan membuatnya mendapat banyak penghargaan, salah satunya Edward Warner Award pada level individu. Selain itu ia seorang demokrasi sejati.

Abdinya pada Indonesia melalui program dan pembudayaan IPTEK disertai iman dan takwa mengantarkan indonesia pada jaman teknologi yang memperhatikan mutu dan detail.

Buku ini diperuntukkan bagi semua kalangan, terutama generasi muda yang sedang mencari jati dirinya. Diresensi oleh Kelvin Wijaya

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment