Koran Jakarta | November 13 2018
No Comments

Gagalnya Jurus Rambut Petai

Gagalnya Jurus Rambut Petai

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font
CATATAN ARSWENDO

 

Sandiaga Salahuddin Uno, yang sebelumnya lebih dikenal sebagai pengusaha, investor, bergegas ketika meloncat ke dunia politik.

Meloncat dengan cepat menduduki wagub DKI, dan meloncat lebih jauh, kini sebagai cawapres, calon wakil presiden, berpasangan bersama Prabowo Subianto.

Dalam usia masih muda, 49 tahun, sejak awal meyakinkan diri dan berusaha meyakinkan pendukung atau bukan pendukung.

Bahkan sejak awalnya, ketika menjadi cawapres dengan “mahar” 500 miliar. Atau apa pun namanya, yang segera dibantah, diluruskan.

Jurus ini dipakai secara sadar, dan dengan cerdas dimainkan terus menerus. Kontroversi mengiringi, sejak dikelompokkan sebagai santri, kemudian sebagai ulama.

Jurus ini tidak memerlukan jawaban ya atau tidak, atau bagaimana kriterianya, apa definisinya, melainkan ada pembicaraan, ada “kegaduhan”, dan nama cawapres yang tadinya tak dikenal, menjadi topik pembicaraan.

Sekarang ini tak ada yang bertanya: Dia siapa? Yang mana? Kini kita tahu bahwa dia sudah dibicarakan terus.

Itulah jurus ketika melontarkan ucapan bahwa “tempe setipis kartu ATM”, atau juga “uang 100k hanya dapat bawang dan cabe di pasar”, sampai dengan wajah oplosan dibilang penganiayaan, dan niatan menuntut Ratna Sarumpaet, lalu dicabut.

Yang penting bukan apakah ada tempe setipis kartu ATM, melainkan semua membicarakan, menjawabi.

Juga arti 100k, atau makan siang di Jakarta lebih mahal dari makan siang di Singapura. Yang terjadi di pasar terminal daerah Subang, juga sama. Dia menggunakan petai sebagai rambut.

Dan bercanda membalas cuitan Andi Arief yang mengatakan Prabowo malas kampanye. Dia menunjukkan terus kampanye sampai “rambutnya hijau”. Tak ada hubungan rambut hijau dengan kampanye.

Tak ada hubungan dengan petai atau baunya.Tak ada. Tapi, Sandi mengenakan petai sebagai rambut, menjadi gambar yang menarik. Yang memaksa orang menonton, membaca, menggeleng- geleng, atau bertanya-tanya.

Atau kagum. Yang pasti masuk dalam pembicaraan. Itu menjadi bagian yang dimauinya, dan orang melupakan janjinya yang akan memperbaiki pasar, yang akan membuat pasar ramai.

Masyarakat bahkan melupakan bahwa memperbaiki pasar dan mendatangkan pembeli adalah bagian dari Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI), di mana ia menjadi ketua umumnya. Pembicaraan ramai, dan berkesinambungan.

Namanya terus bergema, diomongkan. Sampai ketika bertabrakan dengan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti. Saat ia kampanye di pelelangan ikan Indramayu, menerima keluhan soal izin kapal beroperasi.

Ia langsung menggemakan. Di sinilah fatalnya ketika berhubungan dengan data dan fakta. Adalah Bu Susi yang menjelaskan dengan marah, tentang izin jenis kapal dan bagaimana pengurusannya, yang tidak merugikan nelayan.

Sampai di sini jurus “rambut petai” yang sasarannya dibicarakan, mentok. Dia bertabrakan dengan realitas di laut yang tata krama dan tata nilai sudah dan masih berlaku.

Apakah ini akhir dari jurus “rambut petai”? Rasanya tidak, karena memang jurus ini masih dinilai ampuh untuk menaikkan popularitas – yang artinya tetap dalam percaturan.Meskipun soal popularitas tidak sendirinya identik dengan pemilihan.

Tapi, kejanggalan begini belum ada tempatnya, karena ditindih dengan keramaian, keributan, yang karena itu kita masih akan melihat dan mendengar variasi dari “rambut berpetai”, tempe tipis, harga bawang dan cabe, dan apa saja yang bisa dikontroversikan. Sampai pilpres tahun depan.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment