Koran Jakarta | June 18 2019
No Comments

Frekuensi Desa Efektif Jangkau Wilayah 3T

Frekuensi Desa Efektif Jangkau Wilayah 3T

Foto : Istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Pemerataan internet hingga wilayah 3T (Terdepan, Terpencil, dan Terluar) terus disempurnakan. Program subbsidi dan teknologi membuat akses internet dapat segera dinikmati.

Indonesia bukan hanya Jakarta dan pulau Jawa. Masih banyak pulau-pulau dan wilayah terpencil yang membutuhkan akses internet. Demi keadilan sesa­ma warga bangsa, sinyal internet wajib hadir di wilayah 3T (Terde­pan, Terpencil dan Terluar).

Menurut Direktur Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti), Anang Latif, pro­yek pemerataan internet memang membutuhkan dana besar. Dengan dana USO yang dari operator tele­komunikasi pihaknya telah mem­bangun sebanyak 855 buah BTS di wilayah yang 3T yang tidak visible secara bisnis.

“Tidak visible itu misalnya be­gini. Operator harus mengeluarkan uang 80 juta rupiah untuk mem­berikan sinyal 4G. Di wilayah 3T pendapatan di situ paling banter 30 juta, sehingga tidak menutup biaya operasi,” ujar Anang di Jakarta.

Pada titik-titik yang rugi jika didirikan BTS (menara telekomuni­kasi) oleh operator telekumunikasi, Bakti memberikan subsidi dari dana Universal Service Obligation (USO) atau Kewajiban Pelayanan Universal (KPU). Dana USO berasal dari 1,25 persen dari total bruto revenue atau pendapatan kotor operator telekomunikasi.

Bersama dengan operator, Bakti melakukan pemerataan internet 4G LTE. Lembaga ini mengajak seluruh operator penyedia jasa telekomuni­kasi yang ada di Indonesia untuk turut membangun infrastruktur dan layanannya tidak hanya sebatas di pulau Jawa atau di kota besar saja.

Bakti menggandeh operator un­tuk berkontribusi dalam pemerata­an akses telekomunikasi di seluruh wilayah Indonesia. Proyek ini me­nyasar 5.000 desa 3T agar dapat menikmati layanan telekomunikasi yang layak.

Jangkauan Luas

Salah satu operator yang digan­deng untuk menggunakan BTS USO milik Bakti adalah Net1. Kebetulan operator ini memiliki frekuensi ren­dah 450 MHz yang memiliki jang­kauan luas, meski dengan kapasitas yang rendah.

Dengan modal yang disebut dengan “Frekuensi Desa” yang dimiliki, hingga akhir 2018, Net1 Indonesia telah melayani koneksi internet 4G LTE di 26.124 desa dan 261 Kota/Kabupaten di seluruh Indonesia.

Dari 5.000 desa sasaran USO Net1 telah menjangkau sebanyak 25 persen. Tahun 2019Net1 akan tetap berkomitmen untuk memba­ngun akses internet 4G khususnya di Desa 3T, tidak mustahil jika akan menuntaskan 100 persen dari sasar­an desa USO di tahun mendatang.

“Net1 telah membangun bebe­rapa site yang tidak terjangkau oleh operator lain dan siap berkolaborasi dengan pemerintah agar pemerata­an akses internet bagi masyarakat, khususnya yang tinggal di daerah 3T semakin cepat dan masif,” tutur Direktur Legal & Regulatory Net1, Indonesia Eko Budirahardjo.

Jaringan Net1 beroperasi pada wilayah yang sebelumnya hanya mengandalkan jaringan satelit, de­ngan biaya tinggi.

Tidak hanya menyediakan layanan voice saja, operator ini dilengkapi dengan layanan 4G LTE yang dibundel dengan perangkat router sesuai dengan keTebutuhan masyarakat baik dari industri retail maupun korporasi.

Eko menjelaskan, keunggulan frekuensi 450 MHz membuat BTS Net1memiliki jangkauan maksimal hingga 100 kilometer. Jangkauan ini bisa mencapai pulau kecil di wilayah 3T, yang jumlahnya sangat banyak.

“Dengan teknologi 4G LTE layanan Net1 mendukung layanan komunikasi machine-to-machine (M2M) seperti pengawasan video, telemetri, dan pelacakan, serta teknologi Internet of Things (IoT),” ujar dia. hay/E-6

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment