Koran Jakarta | November 13 2018
No Comments

Fondasi Nalar Khilafah yang Rapuh

Fondasi Nalar Khilafah yang Rapuh
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Islam Yes, Khilafah No!

Penulis : Nadirsyah Hosen

Penerbit : Suka Press

Cetakan : 2018

Tebal : xiii + 178 halaman

ISBN : 978–602- 1326-66-4

 

Buku ini menjelaskan kelemahan khilafah yang sering ditutup-tutupi ketimbang kelebih-kelebihannya yang selalu ditonjolkan. Masyarakat didesain memandang realitas secara parsial. Loyalitasnya minta ampun. Jamak diketahui, penganut ideologi macam ini yakin karena sedikit tahu dan mudah menegasikan kebenaran lain karena kurang paham.

Walaupun buku ini fokus menggembosi propaganda khilafah di bawah komando Taqiyuddin An-Nabhani, pada dasarnya mengingatkan ideologiideologi lain cenderung memiliki propaganda serupa: menutup rapat sisi buruknya. Dalam kasus khilafah, terdapat tiga cara yang dilakukan.

Pertama, dari puluhan kitab tarikh yang menjelaskan senarai kekuasaan khilafah, yang ditonjolkan dan dipopulerkan penggalan sejarah keemasannya saja. Ini kekeliruan massal yang melibatkan sebagian besar umat Islam. Buku pelajaran sejarah Islam di sekolah, ceramah keagamaan, ataupun buku-buku Islam populer, kutipan kisah yang disuguhkan hanya berkelindan pada aspek kemajuan dan kemakmuran. Keadilan melihat sejarah tidak ada. Tujuan membangkitkan girah keislaman tidak cukup uzur untuk menutupi hitam-putih fakta sejarah (hlm 45).

Misalnya, tentang Harun al-Rasyid sebagai simbol keemasan Islam. Jarang ada yang tahu bahwa dia berkepribadian aneh yang satu waktu tunduk beribadah di masjid, namun di waktu lain berpesta khamar. Di satu saat dia memberikan santunan kepada fakir miskin, di lain waktu dia membantai keluarga al-Barmaki, wazir kepercayaan keluarga Abbasiyah selama beberapa generasi, tanpa alasan. Dia pula yang mewariskan perang saudara kedua anaknya. Sisi gelap khalifah semacam itu yang diungkap dosen senior Monash University ini secara detail.

Kedua, ijtihad dalam Islam tidak mutlak benar. Ia penuh kemungkinan. Khilafah ada dalam ranah ijtihadi. Konsep khilafah yang digerakkan saat ini merupakan formulasi konseptual Taqiyuddin An-Nabhani. Padahal tidak hanya dia yang merumuskan konsep khilafah. Ulama lain seperti al-Mawardi, al-Maududi, dan Abdul Wahab Khalaf melakukan hal serupa.

Konsep negara Indonesia – menurut Nadirsyah Hosen- juga merupakan khilafah versi hasil ijtihad ulama Indonesia. Ketika satu ijtihad dianggap benar mutlak, dia telah memantul dari titik nalar ke keyakinan. Dari pemikiran ke ideologi. Saat itulah kajian ilmiah mampet (hlm 89).

Ketiga, penggiringan tafsir dilakukan searah dengan kepentingan. Rasulullah memang banyak menyebutkan urgensi khilafah. Yang dimaksud adalah kepemimpinan, bukan sistem kenegaraan. Dia tidak pernah mendesain secara tegas format sistem kepemimpinan dalam Islam. Dalam bentangan sejarah, format kepemimpinan dalam Islam berubah-ubah yang menunjukkan, bentuk pemerintahan sepenuhnya dipasrahkan kepada umat (hlm 136).

Kontribusi besar Rais Syuriah PCI NU Australia-New Zealand ini tidak hanya terletak pada kekayaan data, namun juga kegigihannya menelusuri puluhan literatur guna menjelaskan spektrum klaim berdasarkan realitas sejarah. Pada taraf lebih esensial, Nadirsyah Hosen sesungguhnya tidak lagi berbicara tentang benar-salah khilafah. Namun lebih pada benarsalahnya menyikapi beragam informasi. Di situlah kelemahan.

Maklum jika kemudian hoax, fitnah dan ujaran kebencian menumpuk di dunia maya dan nyata. Sebab dia disebarkan oleh mereka yang punya kepentingan. Akan banyak informasi abal-abal menjelma propaganda, bersalin rupa jadi ideologi yang diusung mati-matian hingga mati sungguhan. 

Diresensi Suryanto, Guru Pesantren Raden Ibrahimy, Ketapang, Kalbar

 

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment