Koran Jakarta | September 21 2018
No Comments
Antisipasi Krisis - Waspadai Menjalarnya Sentimen “The Fragile Five” ke RI

Fondasi Ekonomi Rentan Guncangan Eksternal

Fondasi Ekonomi Rentan Guncangan Eksternal

Foto : koran jakarta /ones
A   A   A   Pengaturan Font
Pemerintah diminta berhati-hati. Negara dengan defisit transaksi berjalan yang lebar rentan terpapar krisis.

 

JAKARTA - Pemerintah diharapkan lebih transparan dalam membeberkan kondisi fundamental atau fondasi ekonomi Indonesia. Selama ini, pemerintah selalu mengklaim fundamental ekonomi kuat dan kerap menuding faktor eksternal sebagai penyebab pelemahan rupiah.

Namun, sejumlah kalangan menilai bahwa fundamental ekonomi nasional sebenarnya belum cukup kuat, sehingga rawan terhadap guncangan eksternal. Penyebab utama kerawanan itu adalah defisit neraca transaksi berjalan yang telah berlangsung sejak 2012.

Ekonom Indef, Bhima Yudhistira, mengatakan pelemahan rupiah sangat dipengaruhi oleh faktor fundamental ekonomi Indonesia yang kurang bagus.

Hal itu terlihat dari defisit transaksi berjalan Indonesia yang dianggap sudah patut diwaspadai karena mencapai tiga persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

“Itu artinya, pendapatan dari ekspor barang dan jasa tidak mampu mengompensasi kenaikan impor.

Negara dengan defisit transaksi berjalan yang lebar rentan terpapar krisis,” ungkap dia, di Jakarta, Minggu (9/9).

Bhima juga mengingatkan agar para pengambil kebijakan mewaspadai laporan bank investasi internasional, Morgan Stanley, beberapa waktu lalu yang memasukkan Indonesia ke dalam kelompok The Fragile Five bersama Turki, Afrika Selatan, India, dan Brasil.

The Fragile Five adalah lima negara yang dikategorikan rentan terdampak kebijakan suku bunga Amerika Serikat (AS) karena memiliki defisit transaksi berjalan cukup tinggi.

“Bahkan, Bloomberg menempatkan Indonesia pada posisi keenam sebagai negara dalam daftar vulnerability index (indeks kerawanan).

Artinya, tinggal mengurutkan saja, setelah Turki, Argentina, dan Afrika Selatan sudah terjadi krisis,” jelas dia. Oleh karena itu, Bhima menegaskan agar pemerintah jangan gampang menuding faktor eksternal sebagai penyebab pelemahan rupiah.

Sebaliknya, pemerintah semestinya sudah mempunyai sejumlah skenario menghadapi gejolak nilai tukar. “Sebab, Indonesia kalau tidak hati-hati bisa segera menyusul. Makanya, kita jangan overconfident,” tukas dia.

Sebelumnya, mantan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Anwar Nasution, juga menilai fundamental ekonomi Indonesia masih sangat lemah. Sebab, fundamental ekonomi Indonesia dianggap belum mampu menahan gejolak dari luar.

“Bohong pemerintah itu mengatakan kalau fundamental ekonomi Indonesia kuat,” kata dia dalam sebuah diskusi di Jakarta, akhir pekan lalu. Buktinya, lanjut Anwar, rasio penerimaan pajak terhadap PDB masih relatif rendah, berada di angka 10 persen.

Jika dibandingkan dengan negara berkembang lainnya, berada di angka 20 persen, rasio penerimaan pajak Indonesia hanya setengahnya. “Padahal kita udah 73 tahun merdeka. Ngapain merdeka kalau ngutang melulu, pinjam melulu,” ujar dia.

Lebih jauh, Anwar menilai ekonomi Indonesia saat ini sangat rawan terhadap gejolak dari luar negeri yang menyebabkan jika bunga meningkat maka biaya pembayaran utang di Indonesia juga meningkat.

Selain itu, jika kurs meningkat juga mengakibatkan naiknya harga suatu komoditas. “Tempe, itu harganya naik karena impor kedelainya,” tutur dia.

Hasil Ekspor

Anwar mengemukakan salah satu upaya yang bisa dilakukan pemerintah untuk meredakan depresiasi rupiah adalah mendorong eksportir untuk sementara menaruh Devisa Hasil Ekspor (DHE) di Indonesia.

Setelah itu, barulah langkah untuk menggenjot ekspor bisa ditempuh karena dibutuhkan waktu yang relatif lama untuk meningkatkan volume ekspor.

Berdasarkan data BI, sepanjang kuartal II- 2018, eksportir menghasilkan DHE 34,7 miliar dollar AS. Sebanyak 32,1 miliar dollar AS di antaranya, atau setara 92,4 persen dari total DHE masuk ke perbankan di Indonesia.

Namun, dari DHE yang disimpan di perbankan domestik, hanya 4,4 miliar dollar AS yang dikonversi menjadi rupiah. ahm/SB/WP

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment