Koran Jakarta | July 21 2019
No Comments
Tsunami Selat Sunda - Pencarian Korban Juga Dilakukan m elalui Operasi Laut Bantuan TNI AL

Fokus pada Evakuasi dan Pencarian Korban Hilang

Fokus pada Evakuasi dan Pencarian Korban Hilang

Foto : ANTARA/MUHAMMAD IQBAL
KORBAN TSUNAMI - Tim SAR gabungan mengevakuasi jenazah korban tsunami yang ditemukan di hutan bakau di kawasan wisata Tanjung Lesung, Pandeglang, Banten, Selasa (25/12). BNPB menyebutkan sudah terdata 429 korban tewas, sementara di Tanjung Lesung sendiri sudah lebih dari 54 jenazah yang berhasil ditemukan.
A   A   A   Pengaturan Font

>>Enam desa di Kecamatan Sumur, Pandeglang, Banten, masih terisolasi.

>>Indonesia tidak memiliki sistem peringatan dini yang dibangkitkan oleh longsoran bawah laut.

 

JAKARTA – Memasuki hari ketiga ter­jadinya bencana tsunami di Selat Sunda yang menerjang pantai selatan Lam­pung dan pantai barat Banten, masih terdapat daerah terdampak yang belum bisa dijangkau oleh petugas, terutama di Kecamatan Sumur yang berada di paling ujung dari wilayah Pandeglang, Banten. Selain itu, sebanyak 154 orang masih hilang dan 16.082 orang terpaksa harus tinggal di pengungsian.

Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) melaporkan, dari tu­juh desa di Kecamatan Sumur baru satu desa yang terjangkau tim gabung­an TNI, Polri, Basarnas, dan lainnya. Keenam desa yang masih terisolasi dan membutuhkan bantuan tersebut, yai­tu Desa Cigorondong, Kertajaya, Sum­berjaya, Tunggajaya, Ujungjaya, dan Kertamukti.

“Daerah-daerah ini baru bisa dijangkau via udara adalah Desa Tamanjaya, tim evakuasi masih melakukan penca­rian, mendirikan rumah sakit dan me­nangani pengungsi yang ada di sana. Sementara enam desa yang belum ter­sentuh masih memerlukan bantuan,” kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, di Jakarta, Selasa (25/12).

Sutopo mengatakan, hingga saat ini upaya penanganan masih terus dilaku­kan, BNPB juga mengumumkan pene­tapan masa tanggap darurat di Pande­glang, Banten, dan Lampung Selatan, Lampung. Dua wilayah tersebut mende­rita dampak tsunami paling parah.

“Ditetapkan masa tanggap darurat di Pandeglang 14 hari, sejak 22 Desem­ber hingga 4 Januari 2019. Sedangkan di Lampung Selatan 7 hari, yaitu 23 De­sember hingga 29 Desember 2018. Bisa diperpanjang,” ujarnya.

Ditambahkan, fokus utama BNPB pada evakuasi dan pencarian korban. “Karena masih banyak korban yang di­laporkan hilang jadi fokus utama kita adalah evakuasi dan pencarian korban,” katanya.

Selain itu, BNPB juga fokus pada pe­nanganan korban luka-luka, penanganan pengungsi serta perbaikan darurat sarana dan prasarana umum yang ru­sak akibat tsunami yang terjadi Sabtu (22/12) tersebut. Hingga Selasa (25/12) pukul 13.00 WIB tercatat 429 orang me­ninggal dunia, sebanyak 1.485 orang luka-luka, 154 hilang dan 16.082 orang mengungsi.

“Korban kemungkinan akan bertam­bah karena penanganan masih terus di­lakukan,” ujar Sutopo.

Selain lewat jalur darat, pencari­an juga dilakukan melalui operasi laut bantuan TNI AL dengan mengerahkan KRI untuk mencari korban yang hanyut karena sebagian jalur darat masih ter­hambat. Operasi laut juga dilakukan untuk mendistribusikan bantuan terutama untuk daerah yang sulit di­jangkau.

Diperoleh laporan, setelah sehari se­belumnya kesulitan alat berat, kemarin Kementerian Pekerjaan Umum dan Pe­rumahan Rakyat (PUPR) menurunkan personel dan alat berat di lokasi terdam­pak tsunami tersebut.

Ini dilakukan untuk terus melakukan pembersihan puing-puing bangunan maupun sampah yang menutup jalan maupun di sepanjang kawasan pantai di Provinsi Banten dan Lampung. Saat ini, ruas Pantai Anyer-Pantai Carita se­panjang 11 kilometer kondisinya sudah bersih dan terbuka.

Tak Punya Sistem

Sementara itu, BNBP mengatakan pada saat terjadinya terjangan tsunami di Selat Sunda, masyarakat tidak me­miliki kesempatan untuk evakuasi. Hal ini disebabkan tidak adanya peringatan dini, karena di Indonesia tidak memi­liki sistem peringatan dini yang dibang­kitkan oleh longsoran bawah laut dan erupsi gunung api. “Yang terjadi di Se­lat Sunda, tidak ada peringatannya ka­rena kita tidak memiliki sistem. Tidak ada yang mengira erupsi anak Gunung Krakatau yang berlangsung pada malam itu menyebabkan longsoran bawah laut dan memicu tsunami,” kata Sutopo.

Berbeda dengan tsunami yang dibangkitkan oleh gempa bumi tektonik, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memiliki Indonesia tsuna­mi early warning system. Ant/ola/AR-2

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment