Federer Juara Wimbledon Delapan Kali | Koran Jakarta
Koran Jakarta | September 20 2017
No Comments
Grand Slam Wimbledon

Federer Juara Wimbledon Delapan Kali

Federer Juara Wimbledon Delapan Kali

Foto : REUTERS/Toby Melville
A   A   A   Pengaturan Font

LONDON — Petenis Swiss, Roger Federer, mengukir rekor baru dengan merebut gelar kedelapannya di Grand Slam Wimbledon. Pada laga final di Center Court All England Club, Minggu (16/7), Federer menang atas petenis Kroasia, Marin Cilic, dengan skor 6-3, 6-1, dan 6-4 dalam pertandingan yang berlangsung selama satu jam dan 41 menit.


Keberhasilan ini membuat Federer kini mengoleksi 19 gelar ajang grand slam. “Puji Tuhan, saya bermain dengan orang-orang yang tidak dipanggil Rafa, Andy, atau Novak (di final).

Dari sudut pandang itu, saya tidak ingin mengatakan bahwa ini lebih santai karena saya memiliki catatan head-to-head yang bagus melawan Marin (6-1),” ujar Federer yang telah tampil sebelas kali di partai final Wimbledon.


Dengan gelar ini, Federer kini mengungguli petenis Inggris, William Renshaw, dan petenis Amerika Serikat, Pete Sampras, yang mengoleksi tujuh gelar Wimbledon.


Dalam lajunya menuju gelar, Federer juga mencetak rekor karena tak kehilangan satu set pun.

Hal itu membuatnya menyamai rekor yang diukir Bjorn Borg pada 1976 dan sama seperti yang ditorehkannya saat merebut gelar Australia Terbuka Januari lalu.


Gelar ini menjadi yang kedua di tahun 2017 bagi Federer setelah Australia Terbuka Januari lalu. “Itu membuat saya sangat bahagia, membuat sejarah di Wimbledon,” ujarnya.

“Saya menyukai turnamen ini, semua impian saya menjadi kenyataan di sini sebagai pemain. Untuk memiliki kesempatan lain merebut gelar kedelapan sekarang adalah perasaan yang hebat,” sambungnya.


Federer, yang sebulan lagi akan merayakan ulang tahunnya yang ke-36, menjadi pemenang tertua dari Challenge Cup sejak turnamen itu beralih menjadi profesional pada tahun 1968.

“Saya sangat bersemangat. Saya harap, saya bisa memainkan satu pertandingan yang lebih baik. Sebelas final di sini, semua catatan ini bagus sekali,” tandasnya.


Dengan gelar ini, petenis peringkat 5 dunia itu pada pekan ini akan menduduki peringkat tiga di Emirates ATP Rankings, untuk pertama kalinya dalam setahun terakhir.


Bagi Cilic, final pertamanya di Wimbledon menjadi mimpi buruk. Setelah awal yang cukup bagus, dia terlihat menurun setelah tertinggal 3-0 di set kedua. Dia terduduk di kursi tepi lapangan dan terlihat terisak saat physio dan wasit turnamen menghampirinya.


Faktor Pengalaman


Cilic sebenarnya sempat menguasai jalannya laga set pertama. Dia mampu menorehkan keunggulan 2-1 atas Federer.

Namun, Federer bermodalkan pengalamannya mampu bangkit dari tekanan. Ia perlahan sanggup berbalik unggul 3-2. Pukulan yang dilancarkan oleh Federer memaksa Cilic melakukan beberapa unforced error.


Puncaknya, ketika Cilic melakukan double fault pada gim kesembilan yang berujung kemenangan untuk Federer.

Dominasi Federer semakin tak terbendung laga memasuki set kedua. Petenis nomor empat dunia itu tampil impresif dengan penempatan-penempatan bola yang apik.


Di sisi lain, Cilic yang dalam keadaan tertekan kerap melakukan kesalahan. Kondisi itu membuat Federer bisa dengan mudah mencatatkan keunggulan 3-0 atas Cilic.

Pada gim keempat, Cilic sempat mencoba untuk bangkit dan memperkecil keadaan menjadi 1-3. Namun, Federer masih terlalu tangguh karena mampu memenangi tiga gim selanjutnya hingga kembali mengunci set kedua untuknya.


Kalah dua set beruntun, Cilic mencoba menunjukkan daya juangnya untuk meraih kemenangan. Pada set ketiga, dia berupaya memberikan perlawanan lebih keras terhadap Federer.

Usaha Cilic membuahkan hasil sukses unggul 2-1 atas Federer. Sayangnya, Federer lagi-lagi membuktikan mentalitasnya dan berhasil membalikkan skor menjadi 5-3. Cilic sempat memperkecil kedudukan. Namun, dua gim selanjutnya, Federer kembali sukses merebut kemenangan.


Federer pun memastikan gelar kedelapannya di Wimbledon. Ia meraihnya pada 2003, 2004, 2005, 2006, 2007, 2009, 2012, dan 2017.

Sebaliknya, hasil ini membuat Cilic gagal melampaui torehan petenis Kroasia lainnya, Goran Ivanisevic yang juga gagal di final Wimbledon pada 2001. ben/Rtr/S-2

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment