Koran Jakarta | June 27 2019
No Comments
Akselerasi Kendaraan Listrik I Bea Masuk Pengembangan Mobil Listrik Ditiadakan

Fasilitas Insentif Fiskal Disiapkan

Fasilitas Insentif Fiskal Disiapkan

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Untuk memacu pengembangan kendaraan listrik, pemerintah menyiapkan fasilitas insentif fiskal dan infrastruktur agar para pelaku industri otomotif tertarik berinvestasi.

JAKARTA – Pemerintah se­rius mematangkan penyusunan Peraturan Presiden (Perpres) mengenai program percepat­an pengembangan kendaraan listrik. Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto, menyam­paikan Perpres sebagai payung hukum sedang diformulasikan, terutama mengenai persyaratan yang akan menggunakan fasili­tas insentif.

“Dalam implementasinya, pada tahap awal akan diber­lakukan melalui bea masuk nol persen dan penurunan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) untuk kendaraan ber­motor listrik,” ungkapnya, di Ja­karta, Kamis (9/5).

Airlangga menyampaikan pi­haknya telah menyiapkan peta jalan pengembangan kendaraan emisi karbon rendah atau Low Carbon Emission Vehicle (LCEV). Pengembangan LCEV ini me­liputi Kendaran Hemat Energi Harga Terjangkau (LCGC), Elec­trified Vehicle (kendaraan listrik) dan Flexy Engine (kendaraan dengan bahan bakar fleksibel/ alternatif).

Sejumlah pelaku industri otomotif di Indonesia, seperti Toyota Indonesia, Mitsubishi Indonesia, BYD Company, Astra Honda Motor, dan Wuling Mo­tors Indonesia telah melakukan proyek percontohan untuk ken­daraan listrik. “Jika mereka me­lakukan prototyping dan proyek percontohan, itu berarti mereka berkomitmen untuk investasi le­bih lanjut,” ujarnya.

Menurut Airlangga, pengem­bangan itu tergantung pada hasil prototipe dan kesuksesan inves­tasi mereka di pasar domestik. Beberapa dari produsen itu akan melakukan pre-marketing project karena EV harganya 30–50 per­sen lebih mahal dari kendaraan mesin konvensional atau Inter­nal Combustion Engine (ICE).

Mengenai pengembangan kendaraan listrik ini, akan ada juga pemain dari Tiongkok, BYD yang minat berinvestasi di Tanah Air. Rencananya, BYD bakal me­lakukan pilot project di bidang commercial vehicles seperti bus. “Tetapi tergantung pasarnya, ka­lau produsen lain, seperti Wuling dan DFSK sudah punya fasilitas sehingga lebih mudah bagi me­reka untuk investasi di kendara­an listrik ini,” imbuhnya.

Pengembangan kendaraan listrik di Indonesia akan menjadi peluang besar karena industri otomotif di dalam negeri telah memiliki struktur manufaktur yang dalam, mulai dari hulu sampai hilir. “Misalnya, kita su­dah punya bahan baku seperti baja, plastik, kaca, ban, hingga engine yang diproduksi di dalam negeri. Lokal konten rata-rata di atas 80 persen. Ini yang menjadi andalan ekspor kita,” ungkap Menperin.

Di samping itu, potensi indus­tri otomotif di Indonesia cukup besar, dengan jumlah produksi mobil yang mencapai 1,34 juta unit atau senilai 13,76 miliar dol­lar AS sepanjang 2018. Saat ini, empat perusahaan otomotif be­sar telah menjadikan Indonesia sebagai rantai pasok global. Bah­kan, telah memiliki ekosistem yang menyerap banyak tenaga kerja, hingga lebih dari satu juta orang.

Secara Bertahap

Pemerintah menargetkan produksi mobil bertenaga lis­trik bisa mencapai 20 persen dari total produksi pada 2025. Selepas 2025, targetnya akan dinaikkan menjadi 30 persen pada 2030. Target tersebut, diha­rapkan menopang tujuan untuk menekan emisi gas rumah kaca sebesar 29 persen pada 2030 se­kaligus menjaga kemandirian energi nasional.

Sementara itu, Menteri Koor­dinator Bidang Kemaritaman, Luhut B Panjaitan, mengakui pemerintah terlambat dalam menerbitkan Perpres kendaraan listrik. Faktanya sudah ada ang­kutan transportasi (taxi) yang menggunakan mobil listrik.

“Memang prosesnya pan­jang, namun Perpres tersebut sudah rampung dan tinggal diteken di Sekretariat Negara,” pungkasnya.  ers/E-10

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment