Koran Jakarta | November 22 2017
No Comments
Proyeksi Ekonomi 2018 - Negara Berkembang Masih Jadi Penggerak Utama Perekonomian Global

Faktor Eksternal Tantangan Utama

Faktor Eksternal Tantangan Utama

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font
AS akan menciptakan ekonomi berdasarkan warganya sendiri atau America First dengan membuat aturan yang linier untuk menarik dananya kembali ke Amerika.

JAKARTA – Sejumlah ekonom memperkirakan perekonomian Indonesia tahun depan tetap dalam tren pertumbuhan positif dan sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal, terutama kondisi perekonomian global.

Faktor eksternal yang memengaruhi perekonomian nasional antara lain normalisasi neraca ekonomi Amerika Serikat (AS) dan kondisi perekonomian Tiongkok yang merupakan negara dengan skala ekonomi terbesar kedua setelah AS.

Ekonom dari Universitas Indonesia (UI), Destry Damayanti, dalam UOB Indonesia’s Economic Outlook 2018, di Jakarta, Selasa (14/11), mengatakan normalisasi dan kebijakan bank sentral AS menaikkan suku bunga harus diwaspadai. “AS akan menciptakan ekonomi berdasarkan warganya sendiri yakni America First.

Mereka membuat aturan yang linier untuk Americans (warga AS) untuk menarik dananya kembali ke Amerika. Nah, ini yang jadi tantangan buat kita karena banyak uang AS yang ada di Indonesia,” kata Destry. Dari regional, Indonesia, paparnya, harus mewaspadai arah perubahan ekonomi Tiongkok yang pada tiga tahun terakhir hanya tumbuh di bawah 10 persen.

Kebijakan ekonomi Tiongkok, jelasnya, tidak bermuatan politis sehingga dianggap baik untuk Indonesia. Apalagi, ekonomi Indonesia masih mengandalkan komoditas. Dengan harga saat ini yang relatif membaik maka akan memengaruhi perekonomian nasional. “Sebenarnya yang harus dibenahi jangan komoditas terus, harus digeser.

Pemerintah juga harus geser konsumsi ke investasi,” kata Destry. Dengan formula Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang lebih produktif dan suku bunga yang turun, diharapkan bisa menggerakkan perekonomian. Dia memperkirakan ekonomi Indonesia tahun depan tumbuh di rentang 5,2–5,3 persen, lebih rendah dari target pemerintah 5,4 persen.

Sementara itu, Ekonom PT Bank UOB Indonesia, Enrico Tanuwidjaja, mengatakan peringkat Indonesia dalam foreign exchange return tidak terlalu buruk karena rupiah masih tertolong suku bunga. Dia memperkirakan ekonomi Indonesia pada 2018 akan tumbuh lebih baik dibanding tahun ini yang ditopang belanja pemerintah melalui proyek infrastruktur dan harga-harga yang relatif terkendali.

Kondisi ekonomi global, tambahnya, cenderung lebih baik, tetapi impor cenderung turun karena konsumsi masyarakat yang melemah. Ia memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 5,3 persen di 2018.

 

Tumbuh Stagnan

 

Pada kesempatan terpisah, lembaga riset Conference Board dalam Prospek Ekonomi Global 2018 memperkirakan pertumbuhan ekonomi global tahun depan akan terstagnasi. Negara ekonomi berkembang atau emerging market diprediksi masih menjadi penggerak utama pertumbuhan global.

Conference Board melaporkan pertumbuhan ekonomi global pada 2018 diperkirakan mencapai 3,0 persen, sama dengan estmasi untuk tahun ini. Angka tersebut lebih baik dibandingkan capaian pada 2016 sebesar 2,8 persen. Negara maju diproyeksikan tumbuh sebesar 2,1 persen pada 2018 dibandingkan dengan 2,2 persen pada 2017, sedangkan negara berkembang akan terus menguat pada 2018 dan diproyeksikan tumbuh sebesar 3,8 persen di atas pada 2017 sebesar 3,7 persen.

“Peningkatan pertumbuhan pada 2017 mencerminkan kombinasi peristiwa unik, termasuk stabilisasi harga-harga energi dan komoditas, meningkatnya kepercayaan bisnis berdasarkan pada harapan akan stimulus fiskal serta reformasi pajak oleh pemerintahan (Presiden AS Donald Trump), pemulihan siklikal di Eropa, dan stimulus pertumbuhan kebijakan Tiongkok,” jelas Kepala Ekonom the Conference Board, Bart van Ark. 

 

bud/Ant/E-10

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment