Koran Jakarta | September 22 2018
No Comments
WAWANCARA

Erick Thohir

Erick Thohir

Foto : AFP/BAY ISMOYO
Kurang dari sepekan pesta olahraga terbesar di Asia, Asian Games XVIII 2018, bakal digelar di dua kota di Indonesia. Jakarta dan Palembang memiliki kesempatan mencatatkan nama dalam sejarah olahraga di Tanah Air. Persiapan selama empat tahun terakhir diharapkan bermuara pada sukses penyelenggaraan dan tentu saja prestasi.
A   A   A   Pengaturan Font

Persiapan utama, seperti venue dan infrastruktur pertandingan telah selesai. Panitia kini fokus pada detail-detail kecil yang berpotensi menimbulkan masalah. Pengadaan dan penjualan tiket, masalah keamanan, kenyamanan atlet dan kontingen asing harus diperhatikan dalam sepekan terakhir ini.

Untuk mengetahui kesiapan panitia mempersiapkan semua fasilitas dan pelaksanaan pesta olahraga di Asia ini, wartawan Koran Jakarta, Beni Mudesta, berkesempatan mewawancarai Ketua Panitia Penyelenggara Asian Games (Indonesia Asian Games Organizing Comitte/Inasgoc), Erick Thohir, di Kantor Inasgoc, Senayan, Jakarta, Kamis (9/8). Berikut petikan selengkapnya.

Sepekan jelang acara pembukaan Asian Games, apa yang menjadi fokus saat ini?

Saya melihat masalah tiket yang perlu mendapatkan perhatian. Dari pantauan saya, tiket untuk sejumlah pertandingan telah terjual. Saya di sini akan berbicara dengan memberikan beberapa contoh. Pertandingan Indonesia lawan China Taipei, dari laporan yang saya terima, 15 ribu tiket dari kapasitas 28 ribu tempat duduk sudah terjual. Untuk pertandingan lain, kami akan bekerja sama dengan PSSI. Mereka yang lebih ahli.

Pertandingan yang mempertemukan negara lain, berpotensi kurang diminati penonton, apa langkah Anda mengatasinya?

Kami telah mengupayakan pertandingan-pertandingan negara lain yang tidak ada suporternya. Bekerja sama dengan sekolah-sekolah, TNI-Polri, dan kementerian. Kalau main bola tidak ada yang kasih semangat, kasihan juga.

Bagaimana dengan cabang olahraga yang kurang popular dan minim peminat di Indonesia?

Ya, mereka kami mesti bantu. Cabang-cabang olahraga lain yang belum biasa ditonton langsung di Indonesia dan kurang memiliki penggemar, seperti kabadi, sambo, dan beberapa cabang lain meski pengurus-pengurusnya sudah punya pengalaman di olahraga, tetap kami bantu. Untuk bola basket, voli, bulu tangkis, sepak bola, sepertinya tak masalah karena mereka adalah cabang-cabang yang sudah berpengalaman menggelar event internasional.

Sejauh ini untuk persiapan pertandingan-pertandingan belum ada masalah berarti. Kami juga punya trik, untuk menarik minat penonton datang menyaksikan langsung, nanti akan hadiah dari tiket closing.

Lantas bagaimana dengan tiket untuk pertandingan biasa atau bukan opening dan closing ceremony, sejauh apa penjualannya?

Dari catatan yang saya terima, sejauh ini baru terjual 20 persen untuk semua game. Mengapa baru 20 persen, ini bukan dipukul rata per cabang, misal laga sepak bola Indonesia baru 20 persen. Itu dirata-rata untuk semua game. Contoh, laga antara dua negara lain tentu akan sepi penonton. Untuk game-game yang dipertandingkan oleh negara asing tidak mungkin akan penuh.

Untuk cabang olahraga yang tak popular memang susah, contohnya saja kabadi, siapa yang mau menonton. Kami juga susah menjual tiketnya. Cuma kalau nanti pertandingan tim Indonesia pasti akan ramai. Angka 20 persen itu karena dirata-rata. Untuk cabang lain, bulu tangkis, voli, basket, renang, tiket pembelian tiket sudah cukup tinggi.

Masyarakat juga menunjukkan minat pada cabang senam, berkuda. Cabang-cabang itu sudah ada pembeli tiketnya. Tidak cuma olahraga yang pasaran atau banyak penggemar, antusias cukup tinggi juga terlihat dari cabang-cabang lain. Bisbol dan sofbol, misalnya, Jepang dan Korea mengatakan mereka akan memborong tiket semua, tapi kami tahan. Itu memang game mereka, tapi kami tahan. Jangan sampai nanti ada tim-tim lain yang mau beli tiket sudah habis.

Mesti diingat ini adalah multievent, jadi variabelnya dinamis. Ini bukan seperti menggelar single event, seperti basket dan bulu tangkis yang lebih simpel dalam penjualan tiket. Karena multievent, kami mengusahakan memberikan pelayanan yang maksimal, tetapi tidak bisa dihindari pertandingan yang tidak popular tiketnya lebih mahal dari tiket cabang olahraga popular. Selain itu, di olahraga yang popular pun tidak mungkin penjualan tiketnya lebih tinggi dari saat timnas Indonesia main.

Banyak juga pertandingan, negara-negara peserta yang memiliki penggemar fanatik. Mereka punya pilihan sendiri. Contoh, saya rasa orang Singapura akan banyak menonton renang karena ada Joseph Scooling. Polo air juga akan menjadi cabang olahraga yang diramaikan penggemar asal Singapura. Ini multievent, mau tidak mau dinamikanya cukup tinggi. Singkatnya, kami harus jadi tuan rumah yang baik.

Bagaimana dengan pengerahan suporter atau mereka yang mendapatkan tiket gratis?

Pengerahan suporter anak sekolah, kami akan mengadakan pertemuan dengan gubernur. Kami akan tanyakan lagi paling lambat hari Jumat. Kami minta list dan kami memberikan tiket. Mereka yang mengerahkan. Kami melakukan itu untuk mengantisipasi tiket palsu yang berisiko pada keamanan. Di event seperti ini, keamanan nomor satu. Tiket itu dijual, tapi panitia bisa bekerja sama dengan pihak pemerintah untuk memberikannya kepada institusi. Kami sudah punya daftar yang bisa kami berikan tiket, semuanya sudah terdata.

Selain tiket, apakah masalah penyambutan tim asing telah berjalan lancar?

Sepak bola menjadi cabang yang dipertandingkan lebih awal, sebelum upacara pembukaan, sejumlah tim asing telah datang. Untuk sepak bola, tim Bahrain sudah datang, tidak ada masalah. Mereka disambut baik di bandara oleh volunteer yang memakai rompi Asian Games dan naik bus ke Bandung.

Persiapan cabang sepak bola sejauh ini bagus. Saya rasa PSSI sudah biasa karena mereka memutar liga, sering menggelar pertandingan-pertandingan internasional. Mestinya untuk sepak bola semuanya akan berlangsung lancar.

Kelancaran transportasi mendapat sorotan, ada aturan ganjil-genap dan stiker. Apa yang dilakukan Inasgoc untuk memastikan itu sesuai aturan?

Untuk aturan ganjil-genap dan stiker Asian Games, semua yang terakreditasi contoh mobil panitia atau peserta dari negara-negara lain, nanti ada stikernya. Semua bisa masuk ke restristic area. Selain itu, vendor-vendor yang berhubungan dengan Inasgoc pasti akan diberikan stiker. Untuk ganjil-genap tetap berlaku, yang kami berikan stiker hanya yang berhubungan dengan Inasgoc. Untuk media, transportasi dan lain akan menyesuaikan dengan ketentuan Olympic Council of Asia/OCA. Event sebesar Asian Games punya aturan tersendiri yang harus dipatuhi.

Beberapa hari lalu ada keluhan dari tim nasional sepak bola China Taipei, apa tanggapan Anda?

Tim sepak bola China Taipei mengeluhkan tidak mendapatkan minum dan bola, itu nanti akan saya cek. Saya dapat laporan, semua telah teratasi. Masalah itu terjadi karena mereka datang terlalu cepat ke tempat latihan. Saya rasa masalah-masalah seperti ini adalah hal yang biasa. Pada saat torch relay (pawai obor Asian Games) juga sering terjadi, banyak tokoh yang datang terlalu cepat sehingga belum terlayani maksimal. Hal yang paling penting bagi kami, semuanya lancar pada akhirnya. Pengalaman dari torch relay, banyak warga yang berdiri masuk ke badan jalan. Hal itu tentu tak bisa kami larang karena mereka antusias. Hal yang penting ujungnya adalah solusi.

Bagaimana dengan persiapan secara keseluruhan wisma atlet dan venue-venue di Jakarta serta Palembang?

Wisma atlet mulai akhir pekan ini sudah mulai ada yang masuk. Untuk sepak bola, mereka langsung ke hotel yang dekat dengan venue pertandingan di daerah Jawa Barat. Mereka menempati hotel sesuai stadion tempat bertanding. Venue sudah dipastikan selesai. Beberapa kali saya katakan, kita ini seperti membangun Candi Prambanan, bisa selesai dalam waktu sekejap. Itulah hebatnya kita bergotong royong.

Kekuatan bangsa kita itu gotong royong, jadi itu jangan ditinggalkan saat menggelar event sebesar Asian Games. Contohnya Jakarta Convention Center (JCC) yang jadi venue untuk cabang anggar, sepekan yang lalu masih dipakai untuk pesta nikah, sekarang sudah jadi tempat pertandingan untuk event sekelas Asian Games. Suka tidak suka semuanya sudah harus siap.

Saya berterima kasih dan salut dengan semua panitia Asian Games karena kerja keras mereka yang tak kenal lelah. Palembang oke, Jakarta oke. Venue sudah siap, justru hal-hal kecil yang perlu perhatian, misalnya ada atlet yang ketinggalan, atau yang lain. Itu pasti akan terjadi.

Banyak keluhan tentang penempatan ticket box (tempat penjualan tiket) yang berada di trotoar, apa tanggapan Anda?

Tiket boks di trotoar disebut menghalangi pejalan kaki. Saya jelaskan dalam menentukan titik penjualan tiket ada pilihan. Sekarang pilihannya adalah tentang keamanan, kami tidak mengharapkan hal yang tidak diinginkan. Dua hal yang kami lakukan, satu adanya penjualan offline di gerai-gerai minimarket, di mal-mal, hotel dan tentunya di tiket boks. Mengapa kami sebar ke sekian banyak tempat, karena itu sebagai antisipasi antrean panjang yang bisa menarik bagi biang rusuh.

Untuk alasan keamanan ini juga kami sudah membuat keputusan, semua penonton tidak boleh membawa ransel. Sama, pilihan untuk menempatkan tiket boks itu harus berada di luar, tidak boleh masuk di dalam venue pertandingan. Ini adalah untuk keamanan karena akan menyaring orang yang masuk, hanya yang punya id card dan yang sudah membeli tiket. Saya harap pada saat ini semua masyarakat bisa berpikiran terbuka.

Bagaimana Anda menanggapi kritik yang ditujukan kepada Inasgoc?

Saya berharap media mendukung dan membantu memberikan informasi sebaik-baiknya. Kami siap dikritik. Saya akan menjadi garda terdepan untuk menjawabnya, karena saya bertanggung jawab. Saya tegaskan lagi pilihan itu harus dihadapi dan terjadi. Saya contohkan, tentang ganjil-genap, itu karena komitmen kami dengan OCA bahwa atlet harus sampai di venue pertandingan dalam waktu 30 menit.

Dari 465 event, itu 75 persen live sport. Jadi, itu tentu tak boleh di-delay karena macet. Itu adalah pilihan yang harus kami ambil. Ibarat panitia kawinan saya ini dikomplain terus, tidak apa-apa asal kami dikasih solusi. Saya tegaskan kepada semua masyarakat, kita itu menyelesaikan masalah bukan dengan komplain, tapi ikut berpartisipasi membantu menyelesaikannya.

Selain Ketua Inasgoc, Anda juga Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia (KOI), bagaimana kondisi kontingen sejauh ini?

Untuk kontingen itu kini menjadi domain Chief de Mission/CdM (ketua kontingen) karena sudah dikukuhkan. Saya selaku ketua KOI sudah menyerahkannya. Hal yang perlu saya sampaikan selaku ketua KOI, sebagai tuan rumah Asian Games, ini menjadi kesempatan besar bagi pengembangan atlet Indonesia. Kapan lagi Indonesia ikut di semua cabang olahraga, kapan lagi coba.

Olimpiade kita hanya mengirim rata-rata 40 atlet, semuanya melalui kualifikasi. Tapi di sini karena kita tuan rumah, semuanya ikut sampai atlet yang muda, berarti ada investasi untuk atlet muda. Ini bukan masalah kontingen gemuk atau tidak, tapi soal kesempatan. Kapan lagi kita bisa ikut pada jumlah cabang olahraga yang banyak. Ini kesempatan mereka bertanding.

Apakah ada kemungkinan Presiden International Olympic Committee (IOC) Thomas Bach datang di acara penutupan?

Beliau datang pada tanggal 31 Agustus malam dan pulang ke Eropa tanggal 3 September pagi. Presiden Joko Widodo dan Presiden IOC akan bertemu pada tanggal 1 September pagi, Wapres meeting pada tanggal 1 September malam.

Hal apa yang akan menjadi pembicaraan mereka?

Menurut informasi yang saya terima dari pemerintah, hal yang dibicarakan pada pertemuan itu salah satunya adalah tentang kemungkinan Indonesia menjadi tuan rumah Olimpiade. Untuk melobi apakah kita bisa ikut bidding untuk tuan rumah yang akan ditentukan pada 2024. Semua pihak, ketua DPR, MPR mendukung, Indonesia untuk mencoba.

Syaratnya Asian Games sukses. Kalau Asian Games saja tidak sukses, tentu belum bisa menggelar event yang lebih besar. IOC menurunkan tim survei sebanyak dua orang yang didampingi 15 volunteer. Survei ke mana, kami tidak boleh tahu. Kami tidak boleh mendampingi. Mereka tinggal di wisma atlet, bukan di hotel. 

N-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment