Koran Jakarta | September 24 2019
No Comments

Era Digitalisasi, Permudah Akses ke Konsumen

Era Digitalisasi, Permudah Akses ke Konsumen

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Revolusi Industri 4.0 ditandai dengan tren otomasi dan pertukaran data terkini dalam sebuah industri atau pabrik. Revolusi ini industri ini tercipta berkat jaringan internet kecepatan tinggi, perangkat internet untuk segala (ioT), aplikasi, komputasi awan, dan komputasi kognitif seperti kecerdasan buatan (AI).

Industri 4.0 menghasilkan pabrik cerdas. Menciptakan salinan dunia fisik secara virtual, dan membuat keputusan yang tidak terpusat. Melalui sensor IoT, sistem berkomunikasi dan bekerja sama dengan satu sama lain dengan manusia secara bersamaan.

Sistem Industri 4.0 dapat diterapkan pada perusahaan losgistik untuk mendapatkan efisiensi yang tinggi. Selama ini terjadi inefisiensi pada sektor logistik, yang membuat daya saing produk Indonesia menjadi rendah di pasar global.

Karena itu, industri di Indonesia sudah harus bersiap menghadapi era ini. Industri di bisnis logistik, misalnya, perlu menyiapkan supra dan infrastrukturnya.

Perusahaan logistik dalam negeri, harus melakukan transformasi digital. Perusahaan harus dapat memanfaatkan sistem berbasis Industri 4.0 untuk dalam mendapatkan informasi akurat pergerakan barang.

“Untuk menjawab kebutuhan pelanggan atau principal yang menginginkan informasi yang cepat dan akurat untuk memonitor pergerakan barang yang dimiliki perusahaan logistik perlu melakukan transformasi,” kata pebisnis logistik, Kuncoro, saat memaparkan konsep National Warehouse Data Commodity dalam ajang iCIO Exchange 2019, di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Sementara, di industri otomotif, Ketua Umum Ikatan Ahli Teknik Otomotif (IATO) Indonesia, Gunadi Sindhuwinata menjelaskan di industri otomotif pada perangkat kerasnya sudah banyak melakukan robotisasi. Hanya saja, permasalahannya adalah bagaimana tanpa pengaruh manusia robot tersebut dapat bekerja lebih cepat dan tepat.

Inilah yang sebenarnya yang menjadi tujuan industri 4.0. Hal ini dapat dilakukan dengan peningkatan kemampuan Artificial Inteligent (AI), digitalisasi, internet dan lainlain. Disisi lain kecepatan internet 4G masih belum sepenuhnya, sehingga yang terpenting sebenarnya adalah sarana pendukung pengalihan ke industri 4.0.

Gunadi Sindhuwinata menjelaskan dari segi sumber daya manusia, dirinya optimis tenaga yang tersedia cukup mampu untuk beradaptasi dengan teknologi di industry 4.0, sehingga tidak perlu dirisaukan. “Bagi industri secara keseluruhan masalah utama sebenarnya adalah skala ekonomi,” kata Gunadi.

Ketua Asosiasi Kimia Dasar Anorganik Indonesia, Michael Susanto Pardi menjelaskan, dari sisi sumber daya manusia, ada garis putus antara pendidikan dan industri. Padahal industri kimia berkaitan erat dengan teknologi.

Dia memberi contoh, buku pelajaran yang digunakan saat dirinya masih kuliah masih sama hingga kini, padahal sudah 25 tahun berlalu. Di sisi lain teknologi selama 25 tahun sudah sangat berubah.

Dari segi infrastruktur yang menjadi tantangan adalah kondisi geografis Indonesia yang merupakan negara kepulauan. Sebagai contoh Kalimantan sebenarnya sangat sesuai untuk membangun industri kimia, namun karena infrastruktur tidak ada maka pembangunan tidak dilakukan.

Sementara, Sekjen Asosiasi Pertekstilan Indonesia, Ernovian G. Ismy menjelaskan di industri tekstil dan garmen perkembangan teknologi terjadi setiap tahun. “Saat ini semua mengalami perubahan termasuk prilaku konsumen. Yang tidak berubah adalah pasar yang selalu menginginkan harga murah serta kualitas bagus dan yang dapat memenuhi keinginan pasar tersebut adalah teknologi canggih,” katanya.

Seharusnya, teknologi canggih dapat mengintegrasikan dari pengadaan bahan baku, proses produksi hingga penjualan. Ernovian mengingatkan, selain menuju ke industri 4.0 pemerintah juga harus mempersiapkan pasarnya.

Untuk sektor infrastruktur di industri tekstil Ernovian menjelaskan, kalau dari segi produksi hampir semua sudah menggunakan mesin canggih, namun jika dari segi distribusi masih harus dipertanyakan jalur logistik sudah terintegrasi belum antara darat, laut dan udara. Hingga saat ini biaya logistik di Indonesia merupakan paling mahal di Asean.

Senada dengan Ernovian G Ismy, menurut Wakil Sekjen Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia GAPMMI, Astri Wahyuni penerapan industri 4.0 tidak hanya pada manufacturing tetapi juga harus dapat diterapkan hingga pendistribusian barang ke konsumen.

Sehingga mindsetnya tidak hanya robotic manufacturing tetapi ke pasarnya juga harus menggunakan Artificial Inteligent dan lain-lain. Astri Wahyuni juga setuju perlunya suatu ekosistem agar industri dan market dapat berlari sama cepat. Astri Wahyuni menjelaskan pengusaha seharusnya dapat konsenterasi ke yang menjadi kekuatan Indonesia, yaitu pasar.

Untuk itu, diperlukan akses ke konsumen yang lebih mudah. Industri 4.0 sebenarnya merupakan kesempatan untuk menjadikan kekurangan Indonesia sebagai negara kepulauan yang membuat sulitnya distribusi menjadi sebuah kelebihan.

Ya, investasi dibidang teknologi mungkin memang cukup mahal. Namun bila dalam kurun waktu yang sama dapat menghasilkan barang dengan jumlah yang lebih banyak dan berkualitas, maka perusahaan pun akan menjadi lebih efisien.

Bagi sektor UKM, Astri melihat penerapan industri 4.0 bukan pada prosesnya tapi lebih ke pasar seperti penggunaan e-commerce untuk dapat mencapai konsumen secara langsung dan lebih cepat.

Intinya, untuk mencapai ke Industri 4.0 beberapa hal yang akan dilakukan adalah menata ulang struktur industri, menata bahan baku, meningkatkan konektifitas antara zona industri, penciptaan ekosistem serta inovasi, harmonisasi antara regulasi. yun/E-6

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment