Koran Jakarta | September 15 2019
No Comments
SAINSTEK

Energi dari Udara yang Tercemar

Energi dari Udara yang Tercemar

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font
Para ilmuwan berhasil mengembangkan sebuah proses untuk memurnikan udara yang kotor. Pada saat bersamaan perangkat baru yang dikembangkan ini mampu menghasilkan sebuah energi. Perangkat ini hanya dapat bekerja atau berfungsi saat terkena cahaya.

Penelitian ini melibatkan proyek gabungan antara para ilmuwan di University of Antwerp dan KU Leuven (University of Leuven), Belgia. Pada prinsipnya perangkat yang dikembangkan ini, menghasilkan peran ganda. Yakni mampu membantu sebuah proses permunian udara. Proses pemurniaan udara ini pada saat bersamaan juga mampu menghasilkan energi yang dapat dimanfaatkan penggunaannya. Akan tetapi, perangkat ini hanya dapat berfungsi jika terkena cahaya.

“Kami menggunakan perangkat kecil dengan dua ruangan yang dipisahkan oleh selaput,” jelas profesor Sammy Verbruggen (UAntwerp / KU Leuven). Perangkat ini memurnikan air pada salah satu sisinya. Sementara di sisi lain menghasilkan gas hidrogen yang dihasilkan dari bagian produk degradasi. ”Gas hidrogen ini dapat disimpan dan kemudian diubah sebagai bahan bakar, seperti yang sudah dilakukan di beberapa bus hydrogen,” kata Verbruggen mencontohkan.

Teknologi yang dikembangkan oleh Verbruggen dan timnya ini secara tidak langsung menanggapi dua isu sekaligus dan memenuhi dua kebutuhan sosial utama manusia yakni udara bersih serta produksi energi alternatif. Menurut para peneliti, inti dari solusi terhadap kedua permasalahan sosial utama tersebut terletak pada tingkat membran, di mana para peneliti menggunakan Nanomaterials khusus. “Katalis ini mampu menghasilkan gas hidrogen dan menghancurkan polusi udara,” jelas profesor Verbruggen.

 

 

Masih menurut Verbruggen, di masa lalu, sel-sel ini kebanyakan digunakan untuk mengekstrak hidrogen dari air. “Kami sekarang telah menemukan bahwa ini juga mungkin dan bahkan lebih efisien lagi, dengan udara yang tercemar,” tambah Verbruggen. Ketika perangkat tersebut hanya bekerja dalam paparan cahaya, maka perangkat ini terkesan menjadi sebuah proses yang kompleks.

Namun bagi Verbruggen tidaklah demikian. Tujuan penelitian ini adalah untuk dapat menggunakan sinar matahari, karena proses yang mendasari teknologi serupa dengan yang ditemukan di panel surya. Perbedaannya di sini adalah bahwa listrik tidak dihasilkan secara langsung, melainkan udara dimurnikan sementara daya yang dihasilkan disimpan sebagai gas hidrogen.

“Kami saat ini mengerjakan skala hanya beberapa sentimeter persegi. Pada tahap selanjutnya, kami ingin meningkatkan teknologi kami untuk membuat penelitian ke tahap proses industri. Kami juga berupaya memperbaiki bahan-bahan kami sehingga kami dapat menggunakan sinar matahari lebih efisien. Untuk memicu reaksi,” tambah Verbruggen. 

 

nik/berbagai sumber/E-6

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment