Koran Jakarta | March 25 2019
No Comments
Kinerja Korporasi

Emiten Kesehatan Bantu Tekan Penderita “Stunting”

Emiten Kesehatan Bantu Tekan Penderita “Stunting”

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA – Emiten kese­hatan, PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) mendu­kung pemerintah dalam mene­kan anak penderita gagal tum­buh akibat kurang gizi kronis atau stunting. Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat pada 2018 sebanyak 7,8 juta atau 30 persen dari 23 juta balita di In­donesia menderita stunting. Meskipun proporsinya telah tu­run dari 37 persen pada periode sebelumnya, namun angka itu masih tinggi.

“Kami mendukung dan me­ngerahkan segenap kemam­puan bersama pemerintah untuk menekankan, mence­gah stunting. Upaya bagian in­vestasi pembangunan sumber daya manusia dalam jangka panjang, dan kami terus ber­peran untuk itu,” kata Direktur Siloam Hospital Group, Monica Lembong dalam pernyataan tertulisnya, di Jakarta, baru-baru ini.

Monica mengat a ­kan pe­me­rin­tah telah merilis Gerakan Nasional Pencegahan Stunting pada Juli tahun lalu dan perlu ada kemitraan dengan swasta agar gebrakan ini berjalan efektif. Sejumlah kalangan me­minta upaya ini terus digaung­kan agar jumlah stunting dapat terus ditekan.

Siloam Hospital Group, tambah Monica, merupakan salah satu dari pelaku usaha yang ikut berpartisipasi dalam Kemitraan Pemerintah-Swasta dalam Gerakan Nasional Pen­cegahan Stunting. Gerakan yang diinisasi Kantor Staf Pre­siden tahun lalu ini terus ber­jalan dengan baik, dan akan terus ditingkatkan.

Stunting salah satunya diciri­kan oleh anak memiliki tubuh pendek karena kekurangan gizi kronis dalam waktu cukup lama. Penyebab seorang anak mengalami stunting, di antara­nya karena kurangnya pembe­rian ASI, pengasuhan anak yang kurang tepat, infeksi, kondisi lingkungan, dan gizi pa­ngan bu­r u k . Berdasarkan Pemantauan Sta­tus Gizi 2015-2016, hanya dua provinsi di Indonesia yang me­miliki prevalensi balita stunting di bawah 20 persen.

Gencar Sosialisasi

Sejumlah kegiatan telah di­lakukan di akhir tahun lalu, se­perti pemeriksaan dan konsul­tasi gratis di sejumlah wilayah seperti di Tangerang, Bogor, Cianjur, dan sejumlah daerah lain di Indonesia. Siloam juga gencar melakukan sosialisasi kesehatan menggunakan sa­luran media sosial.

Dewan Pembina Perhim­punan Dokter Gizi Medik In­donesia (PDGMI), Fasli Jalal menilai proporsi stunting se­besar 30 persen masih terlalu tinggi bagi Indonesia, sehingga posisi Indonesia sama seperti negara Afrika lainnya pende­rita gizi buruk. Oleh karena itu, perlu kerja sama semua sektor pemerintahan dan termasuk keterlibatan peran swasta di dalamnya.

“Apalagi, pemerintah tahun ini menargetkan jumlah pen­derita gizi buruk tumbuh 2 per­sen tentunya perlu kerja sama semua pihak. Perusahaan yang memiliki tanggung jawab sosial perusahaan di daerah opera­sionalnya juga bisa mendukung program ini,” imbuh dia. yni/N-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment