Koran Jakarta | December 16 2018
No Comments
PERSPEKTIF

Elite yang Rukun

Elite yang Rukun

Foto : ANTARA/Aditia Noviansyah
Presiden Joko Widodo (kedua kiri) dan Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Prabowo Subianto (kedua kanan) berpelukan disela menyaksikan Pencak Silat Asian Games 2018 di di Padepokan Pencak Silat di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Rabu (29/8).
A   A   A   Pengaturan Font

Tahun politik yang kita jalani saat ini sudah sangat terasa tensinya. Padahal, pemilu serentak – legislatif dan pilpres – baru akan digelar April 2019 atau sekitar 10 bulan lagi. Dinamika politik akan makin sangat tinggi ketika musim kampanye dimulai 23 September mendatang.

Dalam konteks inilah, diperlukan suatu keadaan ketika setiap elite politik, kelompok masyarakat, terutama para tokoh baik formal maupun informal untuk memberi contoh teladan menghadapi pemilu. Persaingan memperebutkan kursi parlemen pusat dan daerah, serta perebutan kursi presiden harus bisa berlangsung damai, demokratis, bersih, dan berkualitas. Semua itu bergantung pada bangsa sendiri, cara menyikapi setiap denyut perkembangan yang terjadi.

Dua figur yang bakal bersaing kembali dalam ajang Pilpres 2019: Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto sudah memperlihatkan kepada publik suatu sikap dan cara yang sangat elegan. Mereka bertemu dalam suatu momen penting di arena Pencak Silat TMII, Jakarta, Rabu 29 Agustus lalu.

Meksi tidak dirancang khusus untuk saling berangkulan dan berpelukan, momen Indonesia memperoleh emas di cabang pencak silat itu membuat dua kandidat presiden saling tertawa, bersalaman, dan berangkulan akrab penuh persahabatan.

Peristiwa langka yang juga disaksikan Presiden ke-5, Megawati, dan putrinya, Puan Maharani, serta Wapres Jusuf Kalla itu, bukan saja viral di media sosial, tetapi menjadi perbincangan publik dan mendapat pujian banyak kalangan. Semuanya menyatakan sangat senang melihat momen langka yang menyejukkan.

Semestinya, tim sukses dan para pendukung kedua pasangan capres itu melihat dan melaksanakan hal serupa di tingkat bawah. Kita harus mulai dari sekarang mengampanyekan bahwa Pemilu 2019 baik legislatif maupun pilpres, hanyalah mekanisme demokrasi lima tahunan untuk memilih pemimpin dan para wakil rakyat di DPR dan DPRD.

Selebihnya harus diupayakan bahwa persaingan itu tidak harus dengan saling mengecam, menyalahkan, ataupun merusak kehormatan pemimpin dan partainya. Persaingan yang sehat harus ditumbuhkan. Dalam pemilu serentak nanti, para elite parpol dan tim sukses serta para pendukung memiliki kewajiban untuk terus menyuarakan masa depan demokrasi Indonesia yang kompetitif dan sportif.

Yang menang harus menghormati kubu kalah. Sebaliknya, kelompok kalah tidak harus mencari alasan untuk menyudutkan lawan. Jika semua bisa terlaksana dengan baik, kedewasaan berpolitik rakyat Indonesia akan makin tinggi. Dunia akan melihat Indonesia mampu menjadi contoh demokrasi yang sehat di tengah beragam partai, etnis, suku, agama, dan kepentingan.

Sejarah demokrasi dan pemilu di awal kemerdekaan, khususnya Pemilu 1955, sudah memberi contoh dan landasan berdemokrasi yang sehat. Nah, semangat demokrasi liberal tahun 1955 juga bisa menjadi spirit bagi elite dan parpol untuk menerapkannya di masa kini. Sebab Pemilu 2019 juga multipartai dan bersamaan juga dengan pilpres.

Sekali diingatkan bahwa Presiden Jokowi yang juga akan maju dalam Pilpres 2019 dan bersaing kembali dengan rivalnya di tahun 2014 lalu, Prabowo Subianto, sudah memberi teladan terbaiknya. Hubungan sebagai rekan, sahabat, dan sesama tokoh yang akan bersaing di Pilpres 2019 tak harus saling caci-maki, apalagi menghina, dan menghasut. Mereka bisa senyum dan saling berpelukan. Mengapa rakyat di bawah masih terus ribut dan gontok-gontokan?

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment