Koran Jakarta | April 20 2019
No Comments
Anggota Bawaslu, Fritz Edward Siregar tentang Pencegahan Kampanye Negatif

Elite Parpol dan Tim Sukses Harus Dapat Meneduhkan Suasana

Elite Parpol dan Tim Sukses Harus Dapat Meneduhkan Suasana

Foto : ANTARA/PUTRA HARYO KURNIAWAN
A   A   A   Pengaturan Font
Tiga bulan jelang Pemilu 2019 marak terjadi aksi saling serang opini, baik antara pasangan calon presiden dan wakil presiden maupun dari masing-masing tim sukses.

 

Hal ini jika tidak diredam atau diantisipasi den­gan baik maka dapat merusak nilai-nilai de­mokrasi kita, di mana masyarakat pemilih kini menjadi kebingungan akan solusi apa yang ditawarkan paslon ketika terpilih nanti.

Untuk mengulas itu, Koran Jakarta mewawancara anggota Bawaslu, Fritz Edward Siregar, di Jakarta. Berikut petikannya.

Belakangan kerap terjadi aksi saling lempar opini dari masing-masing tim sukses, apa tangga­pan Anda?

Jadi, pada sekitaran bulan Sep­tember 2018 lalu, Bawaslu sudah melakukan sosialisasi kepada 16 parpol peserta Pemilu 2019 serta ke masing-masing timses capres-cawapres, yang pada intinya meminta mereka untuk mence­gah adanya kampanye hitam. Pencegahan kampanye hitam menjadi salah satu fungsi pengawasan Bawaslu. Kami bertemu dengan setiap paslon, ke tim kampanye untuk tidak menggunakan hal seperti itu.

Temuan Bawaslu sejauh ini seperti apa?

Temuan kami di lapangan sudah cukup banyak, belum lama kan Bawaslu di Jawa Tengah dan Jawa Barat menemu­kan ada peredaran tabloid Indo­nesia Barokah. Namun sejujurnya yang paling berat adalah menan­gani laporan maupun temuan dugaan pelanggaran. Pelaksanaan kampanye di medsos menjadi tan­tangan Bawaslu, khususnya dalam menangani akun-akun anonim.

Sudah berapa ban­yak temuan itu yang ditindakBawaslu?

Wah, banyak ya pastinya, tapi terkait peninda­kan kan itu kami masih mengkaji-mengkaji juga berkoordinasi dengan sentra penegakkan hukum terpadu (Sentra Gakkumdu). Kami kan juga tergabung dalam Gu­gus Tugas yang terdiri dari KPU, Bawaslu, KPI, dan Dewan Pers. Jadi, untuk menindak pelanggaran pemilu kan harus dilihat bentuk serta kontennya seperti apa.

Antisipasi Bawaslu sendiri seperti apa?

Sudah banyak ya bentuk antisipasi yang kami lakukan, misalnya, Bawaslu rutin menggelar Jambore Lintas Iman. Sebelum­nya, kami sudah bertemu semua tokoh agama hingga organisasi keagamaan. Kami juga telah meng­gandeng kelompok muda lintas iman untuk menjadi aktor yang menjadi penyeimbang.

Selain itu, kami akan men­gambil potensi daerah lokal dan kekhasan daerah untuk kita jadikan agen perubahan. Semua lintas agama akan kita ajak juga, sehingga mereka tidak merasa menjadi bagian objek saja. Juga dalam memerangi politik uang, Bawaslu akan menerapkan fungsi investigasi, yakni jalur laporan dan temuan.

Harapan Anda bagaimana bagaimana?

Ya, harapan kami agar selama masa kampanye seluruh tokoh politik diminta menyejukkan situasi. Tapi soal apakah sebuah hal dianggap sebagai black campaign atau negative campaign harus dilihat secara kasuistik lagi. rama agusta/AR-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment