Koran Jakarta | April 18 2019
No Comments
Skandal WikiLeaks

Ekuador Tuding Assange Lakukan Mata-mata

Ekuador Tuding Assange Lakukan Mata-mata

Foto : AFP/Ecuadorian Presidency
Lenin Moreno
A   A   A   Pengaturan Font

LONDON - Presiden Ekuador, Lenin Moreno, membela keputusannya untuk membatalkan pemberian suaka bagi pendiri WikiLeaks, Julian Assange. Presiden Moreno mengklaim dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Guardian bahwa Assange melakukan pelanggaran dengan melakukan kegiatan mata-mata saat berada di Kedutaan Besar Ekuador di London, Inggris.

“Sangat disayangkan bahwa dari wilayah kami dan dengan izin dari pemerintah sebelumnya, fasilitas yang tersedia dalam Kedutaan Ekuador di London disalahgunakan untuk ikut campur dalam demokrasi negara lain.,” kata Presiden Moreno, Minggu (14/4).

“Kami tidak bisa membiarkan rumah kami yang telah membuka lebar pintu bagi dia, menjadi pusat mata-mata. Keputusan kami tidak sewenang-wenang tetapi didasarkan pada hukum internasional,” imbuh Presiden Ekuador yang terpilih pada 2017 itu.

Assange pekan lalu ditahan di London karena melanggar syarat jaminan Inggris pada 2012 dengan mencari perlindungan di Kedubes Ekuador untuk menghindari ekstradisi ke Swedia.

Kepolisian London menyeret Assange keluar dari kedutaan pada Kamis (11/4) pekan lalu, setelah suaka selama tujuh tahunnya dicabut. Hal tersebut membuka jalan bagi ekstradisinya ke Amerika Serikat (AS) atas salah satu kebocoran informasi rahasia terbesar.

Hubungan Assange dengan tuan rumah hancur setelah Ekuador menuduhnya membocorkan informasi tentang kehidupan pribadi Moreno. Presiden Moreno mengatakan kepada Guardian, membantah tindakannya itu sebagai aksi balas dendam terhadap Assange lantaran telah membocorkan dokumen keluarganya.

Lawan Ekstradisi

Pendukung Assange menuding Ekuador telah mengkhianati Assange atas perintah Washington DC. Mereka juga mengatakan bahwa pencabutan suaka Assange ilegal dan itu menandai momen kelam bagi kebebasan pers.

Saat ini Assange tengah berjuang untuk melawan surat perintah ekstradisi dari AS terkait dengan pembeberan sejumlah besar dokumen rahasia pemerintah AS oleh WikiLeaks yang diretas Assange.

AS kabarnya akan mendakwa Assange atas tuntutan konspirasi untuk meretas komputer milik Kementerian Pertahanan AS pada Maret 2010. Adapun dokumen yang diretas berisi ratusan ribu file rahasia yang mengungkap kesalahan militer AS dalam perang Irak dan Afghanistan, serta rahasia diplomatik tentang sejumlah negara di seluruh dunia.

Pengacara Assange yang bernama Jennifer Robinson bersikeras mengatakan bahwa dakwaan ini jelas bertentaangan dengan kegiatan pengumpulan berita dan jenis komunikasi yang lazim dimiliki awak media dengan narasumbernya.

Robinson pun mengecam klaim Quito terkait perilaku Assange di Kedubes Ekuador yang melanggar dengan mengatakan bahwa semua itu tak benar.

Dalam sesi wawancara dengan Guardian, Presiden Moreno menuduh bahwa Assange sewenang-wenang dengan para pejabatnya di kedubes dan kerap melontarkan ancaman hukum bahkan terhadap siapa pun yang telah membantunya. ang/AFP/Ant/I-1

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment