Ekosistem “Startup” Harus Dibangun | Koran Jakarta
Koran Jakarta | April 7 2020
No Comments
Bisnis Rintisan I Atasi Hambatan Akses Modal dan Teknologi

Ekosistem “Startup” Harus Dibangun

Ekosistem “Startup” Harus Dibangun

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font
Startup-startup bukan hanya “bakar uang” investor, tapi harus memiliki bisnis yang berkelanjutan (sustainable) dan terpelihara.

JAKARTA - Startup atau perusahaan rintisan di Tanah Air merupakan potensi yang sangat besar. Hanya, perlu ada ekosistem yang mendukung agar bisa berdampak pada peningkatan perkonomian. Hal tersebut disampaikan Co-Founder & Partner Innovesia, Danny Kosasih, dalam acara “Innovation Talk,” di Jakarta, Jumat (21/2).

“Kita masih punya harapan banyak untuk startup Indonesia. Sekarang ekosistemnya masih belum terbentuk, tapi perkembangannya sedang menuju ke sana,” ujar Donny. Menurut catatan Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN), pertumbuhan startup Indonesia meningkat signifikan.

Dalam lima tahun terakhir, ada 1.307 startup. Hanya, 558 masih calon startup. Jenisnya ada startup perguruan tinggi, lembaga penelitian dan pengembangan, industri, serta masyarakat umum. Donny menilai, tingkat keberhasilan startup Indonesia cukup rendah. Bahkan, sebagian besar berjuang untuk bertahan hidup saat memasuki tahap inkubasi.

“Hambatan yang dihadapi startup antara lain akses terhadap jaringan modal, adopsi teknologi, penyerapan pasar, kualitas mentor, dan minat investor,” jelasnya. Donny menambahkan, perkembangan startup Indonesia setidaknya perlu validasi bisnis yang baik.

Menurutnya, startup-startup bukan hanya “bakar uang” investor, tapi harus memiliki bisnis yang berkelanjutan (sustainable) dan terpelihara. Untuk menciptakan ekosistem yang mendukung perkembangan startup, harus ada kolaborasi akademisi, pemerintah, komunitas, dan korporasi atau pelaku bisnis.

Menurutnya, ekosistem startup luar negeri, yang berperan dominan bisa pemerintah atau pelaku bisnis. Jadi, harus ada satu aktor yang sangat kuat untuk mendorong pihak lain agar tercipta kerja sama. Donny yakin, ekosistem tersebut dapat melahirkan inovasi startup dan menghasilkan nilai tambah bagi produk-produk. Meski begitu, faktor terpenting dalam perkembangan adalah kesiapan startup itu sendiri.

“Startup juga harus siap ketahanan pendirinya dalam menghadapi respons pasar, manajemen keuangan, serta operasionalnya,” paparnya.

 

Pengembangan

 

Pada kesempatan tersebut, Donny mengadakan “Innolab” untuk mengembangkan kapasitas dan kompetensi siswa, dosen, komunitas, UKM, perusahaan, serta lembaga pemerintah dalam mengembangkan inovasi. Innolab, lanjutnya, bisa dijadikan wadah ide bisnis, penelitian, eksperimen, dan eksplorasi dengan fasilitas teknologi terbaru berbasis revolusi industri 4.0.

“Dengan adanya Innolab, para startup dapat mengembangkan inovasi secara maksimal yang dapat memberi perubahan positif bagi lingkungan,” pungkasnya. Sementara itu, Ketua Sekolah Tinggi Manajemen IPMI, Aman Wirakartakusumah, terus mendorong kreativitas dan inovasi para mahasiswa melalui inkubasi bisnis yang akan mewadahi ide startup mahasiswa secara maksimal.

Dia juga berkomitmen mengedepankan asas Tri Dharma Perguruan Tinggi dalam menghadirkan inovasi-inovasi bagi para civitas academica. “Kami juga berkomitmen mempererat jaringan di industri baik lokal maupun multinasional. Kemudian juga pemda-pemda untuk mengantarkan inovasi para civitas academica,” katanya.

 

ruf/G-1

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment