Koran Jakarta | June 20 2019
No Comments
Laporan IMF - Perekonomian di Asia Diproyeksikan Tumbuh 5,4 Persen pada 2019 dan 2020

Ekonomi di Asia Berisiko Turun

Ekonomi di Asia Berisiko Turun

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font
Pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia Pasifik dibayangi risiko penurunan akibat dampak perlambatan perdagangan, lonjakan harga minyak, dan volatilitas di pasar keuangan global.

 

WASHINGTON – Pros­pek pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia-Pasifik diper­kirakan relatif stabil. Namun, sejumlah risiko penurunan meningkat dengan ditandai dengan perlambatan perda­gangan, lonjakan harga mi­nyak, dan volatilitas di pasar keuangan global.

“Jika perlambatan perda­gangan ternyata lebih terasa dan lebih tahan lama, itu jelas akan memengaruhi pertum­buhan di kawasan Asia-Pa­sifik. Ketidakpastian kebijakan perdagangan dapat menim­bulkan ancaman baru bagi pertumbuhan,” kata Direktur Departemen Dana Moneter Internasional (IMF) untuk Asia dan Pasifik, Changyong Rhee, dalam konferensi pers di Per­temuan Musim Semi IMF dan Bank Dunia di Washington DC, Amerika Serikat (AS), Jumat pekan lalu waktu setempat.

IMF memproyeksikan per­ekonomian di kawasan Asia tumbuh 5,4 persen pada 2019 dan 2020, sebagian besar tidak berubah dari perkiraan sebe­lumnya pada Oktober tahun lalu. Menurut Rhee, kawasan itu terus menyumbang lebih dari 60 persen pertumbuhan global.

Dalam laporan ekonomi World Economic Outlook Ap­ril 2019 yang dirilis pada 9 April lalu, IMF menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi pada 2019 untuk Tiongkok menjadi 6,3 persen dari estimasi sebel­umnya 6,4 persen.

Rhee mengatakan revisi naik itu mencerminkan dampak gabungan dari perkembangan terakhir dalam perundingan perdagangan Tiongkok-AS, ke­bijakan fiskal ekspansif Tion­gkok yang lebih kuat dari yang diperkirakan, dan ekonomi global yang melambat.

“Respons kebijakan fiskal Tiongkok yang lebih besar dari perkiraan akan membantu mengimbangi dampak per­mintaan eksternal yang lebih lemah,” katanya.

Di Jepang, ekonomi di­proyeksikan akan meningkat sebesar satu persen pada 2019 dan IMF memperkirakan per­lambatan pertumbuhan berta­hap menjadi 0,5 persen tahun depan. Di India, pertumbu­han diperkirakan meningkat hingga 7,3 persen tahun fiskal ini, di tengah sikap kebijakan yang lebih ekspansif.

Bangun Penyangga

Menyusul risiko-risiko pe­nurunan, ujar Rhee, IMF me­nyarankan agar ekonomi di Asia mengadopsi kebijakan yang gesit, waspada, dan bijak­sana untuk bernavigasi mele­wati angin yang berputar-putar.

“Kebijakan-kebijakan eko­nomi makro harus bertujuan menstabilkan pertumbuhan sambil memastikan keber­lanjutan dan meningkatkan ketahanan. Secara paralel, kebijakan keuangan harus bertujuan untuk mengatasi kerentanan dari leverage tinggi dan membangun penyangga-penyangga,” paparnya.

Rhee menambahkan Asia juga perlu fokus pada kebi­jakan untuk mempertahankan momentum pertumbuhannya dalam jangka panjang dalam menghadapi penurunan per­tumbuhan produktivitas dan penuaan yang cepat.

Kebijakan tersebut men­cakup reformasi pasar tenaga kerja dan produk, memperkuat pengeluaran sosial untuk men­gatasi meningkatnya ketida­ksetaraan, dan upaya untuk membuka ekonomi kawasan lebih lanjut ke perdagangan yang dapat mengurangi risiko-risiko dari meningkatnya proteksionisme global dan membantu meningkatkan ke­tahanan Asia. Ant/E-10

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment