Ekonomi Asia Berisiko Tergerus | Koran Jakarta
Koran Jakarta | April 7 2020
No Comments
Dampak Wabah Korona - Penerimaan Devisa Bakal Ikut Terdampak karena Pariwisata Terganggu

Ekonomi Asia Berisiko Tergerus

Ekonomi Asia Berisiko Tergerus

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Dampak merebaknya virus korona ke perekonomian yang paling utama akan memukul sektor jasa, khususnya retail dan pariwisata, hiburan, pendidikan, serta sektor transportasi.

JAKARTA – Merebaknya wa­bah virus korona atau Novel coronavirus (nCov) diperkira­kan bakal berdampak pada penurunan pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia an­tara 0,5–1,75 persen. Perki­raan tersebut didasarkan pada pengalaman kasus serupa, yaitu wabah virus severe acute respiratory syndrome (SARS) selama enam bulan pada 2003.

Head of Research Global Economic & Market Research UOB Group, Suan Teck Kin, da­lam keterangan tertulisnya yang diterima di Jakarta, pekan lalu, mengatakan jika wabah korona tersebut berlangsung lebih dari enam bulan, maka dampaknya pada tahap berikutnya akan ter­asa pada perdagangan, produksi dan jalur distribusi yang ter­ganggu sehingga proyeksi eko­nomi regional akan berubah.

“Respons pemerintah ada­lah dengan memitigasi risik­onya terhadap perekonomian, kami berharap berbagai oto­ritas lintas kawasan saling mendukung termasuk dalam berbagai kebijakan fiskal dan moneter,” Kata Teck Kin.

Negara-negara berikutnya yang akan ditunggu alokasi anggarannya yaitu Singapura pada 18 Februari mendatang, lalu Hong Kong pada 26 Febru­ari, dan Tiongkok yang diren­canakan pada 5 Maret 2020.

Menurut Teck Kian, dam­pak merebaknya virus korona ke perekonomian yang paling utama akan memukul sektor jasa, khususnya retail dan pari­wisata, hiburan, pendidikan, serta sektor transportasi.

Sentimen konsumer juga akan melambat karena penga­ruh kebijakan larangan perjala­nan yang memengaruhi perge­rakan lintas batas. Hal itu akan menurunkan konsumsi dan aktivitas pariwisata termasuk sektor terkait, seperti restauran, hotel, rekreasi, retail entertain­ment, pendidikan dan transpor­tasi. Kondisi serupa juga berlaku di luar Tiongkok karena karena kekahawatiran terjadi penularan.

Pada tahap kedua yang akan terpengaruh adalah manufaktur dan perdagangan internasional, di mana rantai perdagangan global akan terpengaruh khu­susnya keluar masuknya barang dari Tiongkok.

Demikian juga dengan in­vestasi terutama penanaman modal asing (PMA) langsung juga akan terpengaruh karena saat ini, investor Tiongkok me­nempati posisi teratas PMA di kawasan Asia. Aliran-aliran dana tersebut otomastis akan terham­bat dengan larangan perjalanan kepada warga negara Tiongkok, sehingga mengganggu kelan­caran bisnis mereka.

Perdagangan Terganggu

Pada kesempatan terpisah, Peneliti Center for Indonesian Policy Studies, Pingkan Audrine Kosijungan, memperingatkan merebaknya virus korona ber­potensi mengganggu kinerja perdagangan Indonesia-Tiong­kok. Terlebih lagi, Negeri Panda merupakan salah satu negara tujuan utama ekspor Indonesia.

“Fenomena global yaitu merebaknya virus korona di Tiongkok tentu memengaruhi neraca perdagangan Indonesia karena Tiongkok merupakan salah satu mitra dagang utama kita dengan valuasi mencapai 72,8 miliar dollar AS pada ta­hun 2019,” ujar Pingkan.

Di luar persoalan ekspor dan impor, Pingkan menam­bahkan devisa negara dari sektor pariwisata juga dapat terancam dengan adanya pela­rangan penerbangan, meski hal tersebut merupakan kebi­jakan yang tepat untuk mence­gah penyebaran virus.

Karena itu, dia mengharap­kan pemerintah menyiapkan upaya antisipatif untuk mence­gah dampak keberlanjutan dari penerimaan negara di sektor pariwisata yang saat ini masih tergantung kehadiran wisa­tawan asal Tiongkok.

bud/Ant/E-10

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment